Sebagaimana yang telah banyak di bahas sebelumnya bahwa shafa (kesucian) berlawanan dengan kadar (ketidaksucian), dan kadar adalah salah satu sifat manusia. Shufi sejati adalah dia yang senantiasa meninggalkan ketidak sucian. Maka sifat dan tabiat manusia (Basyariyyat) telah menguasai segenap wanita Mesir ketika mereka memandang dan terpukau pada keelokan Nabi Yusuf a.s. yang menakjubkan. Tetapi kemudian pengaruh besar sifat itu hilang, hingga pada akhirnya mereka memandangnya tanpa di sertai tabiat manusia mereka dan mereka berseru; "Ini bukan manusia" (QS. 12: 31). Mereka telah membuatnya sasaran penglihatan mereka dan mereka telah mengungkapkan keadaan mereka sendiri. Karenanya Syaikh-syaikh pembimbing di jalan ini mengatakan: Laysa al-shafa min shifat al-basyar li 'anna al-basyar madar wa 'l-madar la yakhlu min al-kadar (kesucian bukanlah salah satu sifat manusia, karena manusia adalah tanah, dan tanah mengandung ketidaksucian, dan manusia tidak dapat melepaskan diri dari ketidaksucian). Karena itu kesucian tidak serupa dengan tindakan (af'al) dan tidak bisa tabiat manusia di binasakan dengan usaha. Sifat kesucian sama sekali tidak tidak berkaitan dengan tindakan dan keadaan dan namanya tidak berhubungan dengan nama-nama dan julukan-julukan. - kesucian adalah ciri khas para pecinta Tuhan, mereka adalah matahari-matahai tanpa mendung - karena kesucian adalah sifat orang-orang yang cinta, dan sang pecinta adalah orang yang mati (fani) dalam sifat-sifatnya sendiri dan hidup (baqi) dalam sifat-sifat kekasihnya. Dan keadaan mereka menyerupai matahari cerah dalam pandangan para ahli. Kekasih Allah, Muhammad sang Pilihan, di tanya tentang keadaan Haritsah, beliau menjawab: "'Abd nawwara 'llah qal bahu bi al-iman" (Dia seorang manusia yang hatinya di sinari oleh cahaya iman) sehingga wajahnya bersinar laksana bulan dan dia di bentuk oleh cahaya Ilahi.
Seorang shufi berkata: Dhiya al-syams wa'l qamar idza 'isytaraka namudzaj min shafa al-hubb wa al-tawhid idza 'isytabaka (Paduan cahaya matahari dan bulan seperti kesucian cinta dan pengesaan Ilahi [tauhid], ketika keduanya membaur bersama-sama). Tentu saja, cahaya matahari dan bulan tidak ada artinya di banding cahaya cinta dan tauhid, dan keduanya tidak akan bisa di sandingkan dengan apapun, tapi di dunia ini tak ada cahaya yang lebih cemerlang dari pada kedua sinar itu. Mata tak dapat melihat cahaya matahari dan bulan dalam penampilannya yang sempurna. Selama ada pengaruh sinar matahari dan bulan, mata senantiasa melihat langit, sedangkan hati melihat singgasana kekuasaan Ilahi dengan cahaya ilmu dan tauhid dan cinta Ilahi, dan selagi masih hidup di dunia ini senantiasa menjelajahi alam akhirat. Semua guru pembimbing di jalan ini sepakat bahwa apabila seseorang telah bebas dari penjara maqam-maqam dan meretaskan belenggu ketidaksucian "keadaan-keadaan" (ahwal), dan terbebaskan dari dunia perubahan dan kebinasaan dan memiliki semua sifat yang terpuji, maka dia terlepas dari semua sifat. Dengan demikian, dia tidak di kungkung oleh sifat terpuji pada dirinya, dia tidak memperhatikan dan dia tidak berbangga diri karenanya. Keadaannya tidak dapat di tangkap oleh segenap daya akal dan waktunya terbebaskan dari pengaruh pikiran-pikiran. Kehadirannya (hudhur) dengan Allah tiada henti, dan keadaannya tida bersebab. Dan bilamana dia mencapai derajat ini, dia menjadi lenyap (fani) di dunia ini dan akhirat, dan sifat-sifat Ilahiah (rabbani) menggantikan sifat-sifat manusiawinya yang telah sirna, emas dan tanah sama saja dalam pandangannya, dan peraturan-peraturan yang terasa sulit bagi orang lain, terasa mudah baginya.
Berikut ini adalah kisah tentang Haritsah, yang menyatakan behwa ia telah memiliki iman yang sejati kepada Allah. Nabi saw. bertanya: "Apakah hakikat imanmu?" Haritsah menjawab: "Telah kutanggalkan sifat-sifat diriku, dan aku berpaling dari dunia ini, sehingga batu-batu dan emas serta perak dan tanahnya sama saja dalam pandanganku. Dan kujalani seluruh malam hariku dengan penuh jaga, dan kujalani siang hariku dengan rasa dahaga, hingga aku merasa melihat singgasana Tuhanku menjelma, dan penghuni surga saling kunjung mengunjungi dan penghuni neraka saling lempar melempari." Nabi saw. bersabda, mengulangi kata-kata ini tiga kali:"Engkau mengetahui, maka tekunlah dalam upaya."
Shufi adalah sebuah nama yang di berikan, dan semula pernah di berikan, kepada wali-wali dan ahli keruhanian yang sempurna. Seorang syaikh berkata: "Man shaffahu al-hubb fa-huwa shaf wa man shaffahu al-habib fa-huwa shufyy." (Ia yang di sucikan oleh cinta, adalah suci, dan ia yang tenggelam dalam Kekasih dan yang telah mencampakkan segala yang lain, adalah seorang shufi). Nama itu tidak mempunyai derivasi yang memenuhi keperluan-keperluan etimologis karena tasawuf terlalu luhur untuk memiliki sebuah genus (golongan), yang darinya tasawuf berasal, karena pengasalan satu hal dari hal yang lainnya membutuhkan homogenitas. Semua yang maujud adalah lawan dari kesucian (Shafa), dan segala hal tidak diturunkan dari lawan-lawan mereka. Bagi para shufi, makna tasawuf lebih jelas daripada matahari, dan tidak memerlukan keterangan atau petunjuk apapun. Karenanya "Shufi" sendiri tidak perlu di terangkan, seluruh dunia adalah juru-juru tafsirnya, apakah mereka mengenal martabat nama itu atau tidak pada waktu ketika mereka menelaah maknanya. Kemudian yang sempurna di antara mereka di sebut shufi, sedangkan para pencari yang lebih rendah tingkatannya (thaliban) di antara mereka di sebut mutashawwif; karena tashawwuf termasuk ke dalam bentuk tafa'ul yang mengandung arti "bersusah payah" (takalluf), dan merupakan sebuah cabang dari akar kata yang asli. Perbedaan dalam arti dan dalam etimologi sudah jelas. Kesucian (shafa) adalah suatu kewalian dengan tanda dan suatu pemberitaan (riwayat), dan tasawuf adalah suatu peniruan yang sabar akan kesucian (hikayat lil-shafa bila syikayat). Kemudian, kesucian merupakan sebuah gagasan yang cemerlang dan nyata, dan tasawuf adalah peniruan gagasan itu. Pengikut-pengikutnya menurut derajat ini ada tiga macam: SHUFI, MUTASHAWWIF, DAN MUTASHWIF. Shufi adalah yang mati pada dirinya dan hidup oleh kebenaran, ia bebas dari batas-batas kemampuan manusiawi, dan benar-benar telah sampai kepada Allah. Mutashawwif adalah ia yang berusaha dengan keras untuk mencapai tingkatan ini dengan cara menundukkan hawa nafsu (mujahadat), dan dalam pencariannya ia meluruskan tingkah laku mereka sesuai dengan teladan mereka yaitu para shufi-shufi. Mutashwif adalah ia yang membuat dirinya secara lahiriah serupa dengan para shufi untuk sekedar mencari uang, kekayaan, kekuasaan serta keuntungan-keuntungan duniawi, tetapi tidak sedikitpun mereka mempunyai pengetahuan tentang kedua hal tersebut. Karenanya di katakan; "Al-mutashwif 'inda al-shufiyyat ka al-dzubab wa 'inda ghayrihim ka la-dzi'ab" (Mutashwif dalam pandangan shufi, sehina lalat, dan kelakuannya hanya di dasarkan ketamakan semata, orang lain menganggapnya seperti seekor serigala, mulutnya tak terkendali, karena ia hanya menginginkan secuil bangkai). Maka dari itu, shufi adalah seseorang yang manunggal (shahib wushul), mutashawwif adalah seseorang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip (shahib ushul), sedangkan mutashwif adalah seseorang yang suka berbuat sia-sia (shahib fudhul). Ia yang mempunyai jiwa manunggal, tidak lagi mempunyai tujuan dan sasaran setelah mendapatkan tujuannya dan sasarannya, ia yang memiliki prinsip menjadi teguh dalam "keadaan-keadaan" di jalan spiritual, dan karenaya ia menjadi tekun mencari rahasia-rahasia-Nya, tetapi ia yang hanya suka berbuat sia-sia akan kehilangan segala sesuatu yang sebenarnya patut ia miliki, dan ia duduk di pintu gerbang formalitas yang mana dengan demikian ia terhijab daqri hakikat.
Tampilkan postingan dengan label KASYFUL MAHJUB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KASYFUL MAHJUB. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Desember 2011
Senin, 19 April 2010
Penyucian Dari Noda
Setelah iman, hal pertama yang harus di lakukan oleh setiap orang adalah penyucian (Thaharat) dan pelaksanaan shalat, yakni pembersihan badan dari najis dan kotoran. Penyucian ada dua macam, yakni dhahir dan batin. Jadi shalat memerlukan penyucian badan, dan makrifat memerlukan penyucian hati. Kalau yang pertama air harus bersih, maka yang kedua pengesaan dan keimanan harus suci.
Kaum sufi selalu melakukan penyucian lahiriah dan pengesaan batiniah. Rasulullah bersabda kepada salah satu sahabatnya,
"Tetaplah dalam wudlu, sehingga dua malaikat penjaga mencintaimu."
Allah juga berfirman,
"Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri mereka" (QS. Al-Baqarah; 222)
Dan Rasulullah selalu mengatakan dalam do'a-do'anya,
"Wahai Tuhan, sucikan hatiku dari kemunafikan"
Bahkan menyadari segala karamah yang di anugerahkan kepada beliau, beliau anggap sebagai pengukuhan selain Tuhan. Karena dalam pengesaan, mengukukan selain Tuhan adalah kemunafikan. Selama seorang murid di kaburkan oleh sebutir zarrah kekeramatan seorang syaikh, maka dari sudut kesempurnaan, zarrah itu adalah tabir potensial antara ia dan Allah. Karena itulah Abu Yazid mengatakan, "Kemunafikan ahli makrifat lebih baik dari pada ketulusan murid." Yakni yang merupakan maqam bagi pemula adalah tabir bagi ahli keruhanian. Pemula ingin memperoleh karamah, tetapi ahli keruhanian ingin memperoleh Sang Pemberi karamah. Pendeknya, pengukuhan karamah, atau sesuatu yang melibatkan pandangan terhadap selain Allah, menjadi kemunafikan bagi ahlul-haqq (kaum Sufi). Karena itu yang mudharat bagi wali-wali Allah adalah sarana keselamatan bagi orang kafir. Karena, jika orang kafir tahu, sebagaimana para pendosa tahu, bahwa dosa-dosa mereka tidak disukai Tuhan, mereka semua tentu akan selamat dari kekufuran. Dan jika para pendosa tahu, sebagaimana wali-wali Allah tahu, bahwa semua tindakan mereka itu cacat, tentu mereka semua akan terselamatkan dari dosa dan disucikan dari ketercemaran. Maka dari itu, penyucian lahir dan batin harus berjalan bersama-sama. Umpamanya, bilamana seseorang membersihkan tangannya, ia harus membersikan hatinya dari keduniawian, dan bilamana ia memasukkan air kedalam mulutnya, ia harus menyucikan mulutnya dari menyebut selain Allah, dan bilamana ia membersikan mukanya, ia harus berpaling dari semua yang biasa dialami dan berpaling kepada Tuhan, dan bilamana ia menyapu kepalanya, ia harus menyerahkan semua urusannya kepada Allah, dan bilamana ia membasuh kakinya, ia tidak boleh memiliki niat untuk berpijak pada sesuatu kecuali yang sesuai dengan perintah Allah. Jadi ia akan disucikan secara ganda.
Dalam semua aturan agama, yang lahiriah di padukan dengan yang batiniah. Misalnya, dalam iman, pengakuan lisan harus di sertai dengan kepercayaan hati. Metode penyucian ruhani ialah dengan merenungkan keburukan dunia ini dan memahami bahwa ia palsu dan cepat sirna, dan mengosongkan hati darinya. Hal ini hanya dapat di capai dengan mujahadah (menaklukkan hawa nafsu), dan tindak mujahadah yang paling penting adalah melaksanakan peraturan-peraturan disiplin lahiriah (adab-i zhahir) secara terus menerus dan dalam keadaan apapun.
Diriwayatkan bahwa Ibrahim Khawwash berkata, "Aku ingin Tuhanku memberikan aku kehidupan yang abadi di dunia ini, supaya saat manusia pada umumnya bertambah-tambah kesenangannya pada dunia dan melupakan Tuhan, aku bisa melaksanakan peraturan-peraturan agama di tengah pahit getirnya dunia dan mengingat Allah."
Dan di riwayatkan bahwa Abu Thahir Harami hidup selama empat puluh tahun di Makkah, dan meninggalkan daerah haram (tanah suci) bilamana ia menyucikan dirinya, karena ia tak mau mengguyurkan air yang ia gunakan untuk tujuan itu pada tanah yang Tuhan sendiri menyebutnya demikian (tanah suci). Ketika Ibrahim Kawwash sakit disentri di masjid jami' di Rayy, dia melakukan enam puluh kali wudlu secara sempurna di siang dan malam, dan dia mati di dalam air.
Abu Ali Rudbari pernah di timpa pikiran-pikiran bimbang dalam penyucian. "Suatu hari, aku pergi ke laut pada dini hari dan tinggal disitu hingga matahari terbit. Selama waktu itu pikiranku terganggu, aku berteriak; 'Wahai Tuhan, sembuhkanlah ruhaniku!" Sebuah suara terdengar dari laut; 'kesehatan terkandung dalam pengetahuan'
Diriwayatkan tentang Syibli bhwa pada suatu hari ia menyucikan diri dengan niat memasuki masjid. Dia mendengar sebuah seruan; "Engkau telah membersihkan dirimu yang lahiriah, tapi mana kesucian batinmu?" Dia kembali dan memberikan semua apa yang dia miliki dan selama setahun dia hanya memakai tak lebih pakaian-pakaian yang diperlukan untuk sembahyang. Kemudian dia mendatangi Junayd, yang mengatakan kepadanya,"Wahai Abu Bakr, merupakan suatu penyucian yang sangat menguntungkan apa yang telah engkau lakukan itu, semoga Allah selalu menjaga kesucianmu itu." Sesudah itu Syibli selalu melakukan penyucian. Dan juga di riwayatkan bahwa dia berkata, "Bilamana aku melalaikan satu aturan penyucian, keangkuhan yang sia-sia selalu timbul di hatiku."
Abu Yazid berkata, "Bilamana pikiran tentang dunia ini terlintas dalam benakku, aku melakukan penyucian atau wudlu (thaharati). Dan bilamana pikiran tentang akhirat terlintas dalam benakku, aku melakukan penyucian secara sempurna atau mandi (ghusli).
Karena dunia ini tidak qadim (muhdats) dan hasil pemikiran dari hal tersebut adalah ketidak sucian (hadats), sedang akhirat adalah tempat ketidak hadiran dan istirahat (ghaybat u aram), dan hasil dari pemikiran tentang itu adalah kecemaran (janabat).
Syaikh-syaikh sufi telah sepenuhnya membicarakan arti penyucian yang sebenarnya dan telah menganjurkan murid-murid mereka agar tidak henti-hentinya menyucikan diri secara lahir dan batin. Ia yang akan mengabdi kepada Tuhan, harus menyucikan diri secara lahiriah dengan air, dan ia yang hendak mendekati Tuhan, harus menyucikan dirinya secara batiniah dengan memohon ampunan dan bertaubat.
Kaum sufi selalu melakukan penyucian lahiriah dan pengesaan batiniah. Rasulullah bersabda kepada salah satu sahabatnya,
"Tetaplah dalam wudlu, sehingga dua malaikat penjaga mencintaimu."
Allah juga berfirman,
"Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri mereka" (QS. Al-Baqarah; 222)
Dan Rasulullah selalu mengatakan dalam do'a-do'anya,
"Wahai Tuhan, sucikan hatiku dari kemunafikan"
Bahkan menyadari segala karamah yang di anugerahkan kepada beliau, beliau anggap sebagai pengukuhan selain Tuhan. Karena dalam pengesaan, mengukukan selain Tuhan adalah kemunafikan. Selama seorang murid di kaburkan oleh sebutir zarrah kekeramatan seorang syaikh, maka dari sudut kesempurnaan, zarrah itu adalah tabir potensial antara ia dan Allah. Karena itulah Abu Yazid mengatakan, "Kemunafikan ahli makrifat lebih baik dari pada ketulusan murid." Yakni yang merupakan maqam bagi pemula adalah tabir bagi ahli keruhanian. Pemula ingin memperoleh karamah, tetapi ahli keruhanian ingin memperoleh Sang Pemberi karamah. Pendeknya, pengukuhan karamah, atau sesuatu yang melibatkan pandangan terhadap selain Allah, menjadi kemunafikan bagi ahlul-haqq (kaum Sufi). Karena itu yang mudharat bagi wali-wali Allah adalah sarana keselamatan bagi orang kafir. Karena, jika orang kafir tahu, sebagaimana para pendosa tahu, bahwa dosa-dosa mereka tidak disukai Tuhan, mereka semua tentu akan selamat dari kekufuran. Dan jika para pendosa tahu, sebagaimana wali-wali Allah tahu, bahwa semua tindakan mereka itu cacat, tentu mereka semua akan terselamatkan dari dosa dan disucikan dari ketercemaran. Maka dari itu, penyucian lahir dan batin harus berjalan bersama-sama. Umpamanya, bilamana seseorang membersihkan tangannya, ia harus membersikan hatinya dari keduniawian, dan bilamana ia memasukkan air kedalam mulutnya, ia harus menyucikan mulutnya dari menyebut selain Allah, dan bilamana ia membersikan mukanya, ia harus berpaling dari semua yang biasa dialami dan berpaling kepada Tuhan, dan bilamana ia menyapu kepalanya, ia harus menyerahkan semua urusannya kepada Allah, dan bilamana ia membasuh kakinya, ia tidak boleh memiliki niat untuk berpijak pada sesuatu kecuali yang sesuai dengan perintah Allah. Jadi ia akan disucikan secara ganda.
Dalam semua aturan agama, yang lahiriah di padukan dengan yang batiniah. Misalnya, dalam iman, pengakuan lisan harus di sertai dengan kepercayaan hati. Metode penyucian ruhani ialah dengan merenungkan keburukan dunia ini dan memahami bahwa ia palsu dan cepat sirna, dan mengosongkan hati darinya. Hal ini hanya dapat di capai dengan mujahadah (menaklukkan hawa nafsu), dan tindak mujahadah yang paling penting adalah melaksanakan peraturan-peraturan disiplin lahiriah (adab-i zhahir) secara terus menerus dan dalam keadaan apapun.
Diriwayatkan bahwa Ibrahim Khawwash berkata, "Aku ingin Tuhanku memberikan aku kehidupan yang abadi di dunia ini, supaya saat manusia pada umumnya bertambah-tambah kesenangannya pada dunia dan melupakan Tuhan, aku bisa melaksanakan peraturan-peraturan agama di tengah pahit getirnya dunia dan mengingat Allah."
Dan di riwayatkan bahwa Abu Thahir Harami hidup selama empat puluh tahun di Makkah, dan meninggalkan daerah haram (tanah suci) bilamana ia menyucikan dirinya, karena ia tak mau mengguyurkan air yang ia gunakan untuk tujuan itu pada tanah yang Tuhan sendiri menyebutnya demikian (tanah suci). Ketika Ibrahim Kawwash sakit disentri di masjid jami' di Rayy, dia melakukan enam puluh kali wudlu secara sempurna di siang dan malam, dan dia mati di dalam air.
Abu Ali Rudbari pernah di timpa pikiran-pikiran bimbang dalam penyucian. "Suatu hari, aku pergi ke laut pada dini hari dan tinggal disitu hingga matahari terbit. Selama waktu itu pikiranku terganggu, aku berteriak; 'Wahai Tuhan, sembuhkanlah ruhaniku!" Sebuah suara terdengar dari laut; 'kesehatan terkandung dalam pengetahuan'
Diriwayatkan tentang Syibli bhwa pada suatu hari ia menyucikan diri dengan niat memasuki masjid. Dia mendengar sebuah seruan; "Engkau telah membersihkan dirimu yang lahiriah, tapi mana kesucian batinmu?" Dia kembali dan memberikan semua apa yang dia miliki dan selama setahun dia hanya memakai tak lebih pakaian-pakaian yang diperlukan untuk sembahyang. Kemudian dia mendatangi Junayd, yang mengatakan kepadanya,"Wahai Abu Bakr, merupakan suatu penyucian yang sangat menguntungkan apa yang telah engkau lakukan itu, semoga Allah selalu menjaga kesucianmu itu." Sesudah itu Syibli selalu melakukan penyucian. Dan juga di riwayatkan bahwa dia berkata, "Bilamana aku melalaikan satu aturan penyucian, keangkuhan yang sia-sia selalu timbul di hatiku."
Abu Yazid berkata, "Bilamana pikiran tentang dunia ini terlintas dalam benakku, aku melakukan penyucian atau wudlu (thaharati). Dan bilamana pikiran tentang akhirat terlintas dalam benakku, aku melakukan penyucian secara sempurna atau mandi (ghusli).
Karena dunia ini tidak qadim (muhdats) dan hasil pemikiran dari hal tersebut adalah ketidak sucian (hadats), sedang akhirat adalah tempat ketidak hadiran dan istirahat (ghaybat u aram), dan hasil dari pemikiran tentang itu adalah kecemaran (janabat).
Syaikh-syaikh sufi telah sepenuhnya membicarakan arti penyucian yang sebenarnya dan telah menganjurkan murid-murid mereka agar tidak henti-hentinya menyucikan diri secara lahir dan batin. Ia yang akan mengabdi kepada Tuhan, harus menyucikan diri secara lahiriah dengan air, dan ia yang hendak mendekati Tuhan, harus menyucikan dirinya secara batiniah dengan memohon ampunan dan bertaubat.
Jumat, 12 Februari 2010
Aturan-Aturan Perilaku (Mu'amalat) Dalam Tashawuf
Abu Hafs Haddad dari Nisyapur berkata:
Al-Tashawwuf kulluhu adabun li-kulli waqtin adabun wa-li-kulli maqamin adabun wa-li-kulli halin adabun fa-man lazima adab al-awqad balagha mablagh al-rijal fa-man dhayya'a al-adab fa-huwa ba'idun min haytsu yazunnu al-qurb wa-mardudun min haytsu yazunnu al-qabul
(Tasawuf sepenuhnya berupa tingkah laku; setiap waktu, tempat dan keadaan lingkungan mempunyai adat kebiasaan masing-masing; maka dia akan menyesuaikan diri dengan adat-adat kebiasaan pada setiap kesempatan, mencapai tingkat orang-orang suci; dan dia yang tidak mengindahkan adat-adat kebiasaan itu, maka dia akan jauh tersingkir dari pikiran tentang kedekatan (dengan Tuhan) dan tidak dapat membayangkan bahwa dia bisa di terima oleh Tuhan)
Makna hal ini berkaitan dengan pernyataan Abu Hasan Nuri; Laysa al-tashawwuf rusuman wa-la 'uluman wa-la kinnahu akhlakun (Tasawuf tidak terdiri atas praktik-praktik dan ilmu-ilmu, tapi ia adalah moral atau akhlak) yakni jika ia terdiri atas praktik-praktik, ia bisa lakukan melalui usaha, dan jika ia terdiri atas ilmu-ilmu, ia bisa di peroleh melalui pelajaran, karena ia akhlak, dan tidak dapat di peroleh sampai engkau menuntut dari diri engkau sendiri prinsip-prinsip moral, dan membuat tindakan-tindakanmu sesuai dengan prinsip-prinsip moral itu, dan memenuhi tuntutan-tuntutannya. Adapun perbedaan antara praktik dan moral adalah sebagai berikut, bahwa praktik adalah tindakan-tindakan seremonial yang maujud dari motif-motif tertentu, tindakan-tindakan yang tidak memiliki realitas sehingga bentuknya berlainan dengan ruhnya, sementara akhlak adalah tindakan-tindakan terpuji tanpa upacara atau motif, tindakan-tindakan yang tidak memiliki pretensi, sehingga bentuknya selaras dengan ruhnya.
Murta'isy mengatakan; Al tashawwuf husn al-khulq (Tasawuf adalah watak yang baik). Yang mana hal ini ada tiga macam; pertama, kepada Allah dengan memenuhi perintah-perintah-Nya tanpa kemunafikan; kedua, kepada manusia dengan menhormati yang lebih tua dan berlaku kasih sayang kepada yang lebih muda dan berbuat adil terhadap sesama dan dengan tidak mencari balasan dan keadilan dari segenap orang pada umumnya; ketiga, kepada diri sendiri dengan tidak menuruti hawa nafsu dan setan.
Barang siapa yang membuat dirinya benar dalam tiga hal di atas, ia adalah seorang yang berwatak baik. A'isyah As-Shiddiqah ketika di tanya akhlak nabi, Ia menjawab, "Bacalah Al-Qur'an" Dan Murta'isy juga mengatakan; Hadza madzhabun kulluhu jiddun fa-la takhlithuhu bi-syay'in min-al-hazl (Mazhab tasawuf ini sepenuhnya kesungguhan, karena itu jangan mempermainkannya dan jangan mencontoh perilaku kaum formalis dan berikan penerangan kepada orang yang secara membabi buta meniru mereka) Apabila khalayak ramai melihat formalis-formalis ini berada di tengah-tengah kaum pedamba tasawuf pada zaman kita ini dan memperhatikan tarian dan nyanyian mereka serta mengunjungi istana para pembesar, bertengkar demi upah yang kecil atau demi sesuap makanan, kepercayaan mereka kepada keseluruhan lembaga para sufi telah rusak dan mereka berkata, "Ini semua adalah prinsip-prinsip tasawuf dan ajaran-ajaran sufi terdahulu sama saja." Mereka tidak mengetahui bahwa ini adalah zaman kemunduran dan kurun sejarah penderitaan. Akibatnya, ketamakan mendorong para pemimpin untuk bertindak sewenang-wenang, nafsu birahi mendorong ulama berbuat zina dan sifat suka bermegah-megahan mendorong sang zahid menjadi munafik dan kebanggaan diri mendorong kaum sufi untuk menari dan menyanyi, ketahuilah bahwa keburukan terletak pada orang-orang yang menganut doktrin-doktrin, bukan pada prinsip-prinsip yang menjadi pijakan doktrin-doktrin tersebut, dan bilamana sebagian pengejek menyembunyikan kebodohan mereka dalam ketulusan mistikus sejati, maka ketulusan mistikus sejati ini tak akan berubah menjadi kebodohan.
Abu 'Ali Qarmini (Abu 'Ali Kirmansyahi Qurraysyi) mengatakan; Al-tashawwuf huwa al-akhlaq al-radhiyyat (Tasawuf adalah moral yang baik). Tindakan-tindakan yang baik sedemikian rupa sehingga makhluk dalam segala lingkungan keadaan sepakat dengan Allah dan merasakan kepuasan.
Abu Hasan Nuri mengatakan; Al-tashawwuf huwa al-hurriyyat wa al-futuwwat wa-tark al-taklif wa al-sakha wa-badzl al-dunya (Tasawuf adalah kemerdekaan, sehingga manusia terbebaskan dari ikatan hawa nafsu dan kemurahan hati), yakni dia di bersihkan dari kebanggaan akan kemurahan hati, "dan menghapuskan jerih payah yang sia-sia" yakni dia tidak berusaha meraih pahala yang berlipat ganda "dan kedermawanan" yakni dia menyerahkan dunia ini kepada orang-orang dunia ini.
Abul Hasan Fusyanyi mengatakan; Al-tashawwuf al-yawma'smun wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatun wa-la'sman (Pada masa ini tasawuf adalah nama tanpa hakikat, padahal semula tasawuf adalah hakikat tanpa nama) yaitu pada masa sahabat-sahabat Nabi saw. dan orang-orang terdahulu, nama ini (tasawuf) tak pernah ada tapi hakikatnya perilaku taswuf ini ada pada setiap orang, tapi kini nama itu ada tapi hakikatnya seolah tak pernah ada.
Jadi, jika ada penyangkalan oleh kaum-kaum tertentu mengenai kebenaran tasawuf, semua itu tidaklah berarti apa-apa, karena mereka hanya menyangkal namanya semata-mata. Sebab gagasan-gagasan tidak berkaitan dengan segala sesuatu yang memiliki nama. Dan apabila mereka menyangkal gagasan-gagasan yang hakiki, ini berarti suatu penyangkalan terhadap keseluruhan hukum suci Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya yang terpuji.
Al-Tashawwuf kulluhu adabun li-kulli waqtin adabun wa-li-kulli maqamin adabun wa-li-kulli halin adabun fa-man lazima adab al-awqad balagha mablagh al-rijal fa-man dhayya'a al-adab fa-huwa ba'idun min haytsu yazunnu al-qurb wa-mardudun min haytsu yazunnu al-qabul
(Tasawuf sepenuhnya berupa tingkah laku; setiap waktu, tempat dan keadaan lingkungan mempunyai adat kebiasaan masing-masing; maka dia akan menyesuaikan diri dengan adat-adat kebiasaan pada setiap kesempatan, mencapai tingkat orang-orang suci; dan dia yang tidak mengindahkan adat-adat kebiasaan itu, maka dia akan jauh tersingkir dari pikiran tentang kedekatan (dengan Tuhan) dan tidak dapat membayangkan bahwa dia bisa di terima oleh Tuhan)
Makna hal ini berkaitan dengan pernyataan Abu Hasan Nuri; Laysa al-tashawwuf rusuman wa-la 'uluman wa-la kinnahu akhlakun (Tasawuf tidak terdiri atas praktik-praktik dan ilmu-ilmu, tapi ia adalah moral atau akhlak) yakni jika ia terdiri atas praktik-praktik, ia bisa lakukan melalui usaha, dan jika ia terdiri atas ilmu-ilmu, ia bisa di peroleh melalui pelajaran, karena ia akhlak, dan tidak dapat di peroleh sampai engkau menuntut dari diri engkau sendiri prinsip-prinsip moral, dan membuat tindakan-tindakanmu sesuai dengan prinsip-prinsip moral itu, dan memenuhi tuntutan-tuntutannya. Adapun perbedaan antara praktik dan moral adalah sebagai berikut, bahwa praktik adalah tindakan-tindakan seremonial yang maujud dari motif-motif tertentu, tindakan-tindakan yang tidak memiliki realitas sehingga bentuknya berlainan dengan ruhnya, sementara akhlak adalah tindakan-tindakan terpuji tanpa upacara atau motif, tindakan-tindakan yang tidak memiliki pretensi, sehingga bentuknya selaras dengan ruhnya.
Murta'isy mengatakan; Al tashawwuf husn al-khulq (Tasawuf adalah watak yang baik). Yang mana hal ini ada tiga macam; pertama, kepada Allah dengan memenuhi perintah-perintah-Nya tanpa kemunafikan; kedua, kepada manusia dengan menhormati yang lebih tua dan berlaku kasih sayang kepada yang lebih muda dan berbuat adil terhadap sesama dan dengan tidak mencari balasan dan keadilan dari segenap orang pada umumnya; ketiga, kepada diri sendiri dengan tidak menuruti hawa nafsu dan setan.
Barang siapa yang membuat dirinya benar dalam tiga hal di atas, ia adalah seorang yang berwatak baik. A'isyah As-Shiddiqah ketika di tanya akhlak nabi, Ia menjawab, "Bacalah Al-Qur'an" Dan Murta'isy juga mengatakan; Hadza madzhabun kulluhu jiddun fa-la takhlithuhu bi-syay'in min-al-hazl (Mazhab tasawuf ini sepenuhnya kesungguhan, karena itu jangan mempermainkannya dan jangan mencontoh perilaku kaum formalis dan berikan penerangan kepada orang yang secara membabi buta meniru mereka) Apabila khalayak ramai melihat formalis-formalis ini berada di tengah-tengah kaum pedamba tasawuf pada zaman kita ini dan memperhatikan tarian dan nyanyian mereka serta mengunjungi istana para pembesar, bertengkar demi upah yang kecil atau demi sesuap makanan, kepercayaan mereka kepada keseluruhan lembaga para sufi telah rusak dan mereka berkata, "Ini semua adalah prinsip-prinsip tasawuf dan ajaran-ajaran sufi terdahulu sama saja." Mereka tidak mengetahui bahwa ini adalah zaman kemunduran dan kurun sejarah penderitaan. Akibatnya, ketamakan mendorong para pemimpin untuk bertindak sewenang-wenang, nafsu birahi mendorong ulama berbuat zina dan sifat suka bermegah-megahan mendorong sang zahid menjadi munafik dan kebanggaan diri mendorong kaum sufi untuk menari dan menyanyi, ketahuilah bahwa keburukan terletak pada orang-orang yang menganut doktrin-doktrin, bukan pada prinsip-prinsip yang menjadi pijakan doktrin-doktrin tersebut, dan bilamana sebagian pengejek menyembunyikan kebodohan mereka dalam ketulusan mistikus sejati, maka ketulusan mistikus sejati ini tak akan berubah menjadi kebodohan.
Abu 'Ali Qarmini (Abu 'Ali Kirmansyahi Qurraysyi) mengatakan; Al-tashawwuf huwa al-akhlaq al-radhiyyat (Tasawuf adalah moral yang baik). Tindakan-tindakan yang baik sedemikian rupa sehingga makhluk dalam segala lingkungan keadaan sepakat dengan Allah dan merasakan kepuasan.
Abu Hasan Nuri mengatakan; Al-tashawwuf huwa al-hurriyyat wa al-futuwwat wa-tark al-taklif wa al-sakha wa-badzl al-dunya (Tasawuf adalah kemerdekaan, sehingga manusia terbebaskan dari ikatan hawa nafsu dan kemurahan hati), yakni dia di bersihkan dari kebanggaan akan kemurahan hati, "dan menghapuskan jerih payah yang sia-sia" yakni dia tidak berusaha meraih pahala yang berlipat ganda "dan kedermawanan" yakni dia menyerahkan dunia ini kepada orang-orang dunia ini.
Abul Hasan Fusyanyi mengatakan; Al-tashawwuf al-yawma'smun wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatun wa-la'sman (Pada masa ini tasawuf adalah nama tanpa hakikat, padahal semula tasawuf adalah hakikat tanpa nama) yaitu pada masa sahabat-sahabat Nabi saw. dan orang-orang terdahulu, nama ini (tasawuf) tak pernah ada tapi hakikatnya perilaku taswuf ini ada pada setiap orang, tapi kini nama itu ada tapi hakikatnya seolah tak pernah ada.
Jadi, jika ada penyangkalan oleh kaum-kaum tertentu mengenai kebenaran tasawuf, semua itu tidaklah berarti apa-apa, karena mereka hanya menyangkal namanya semata-mata. Sebab gagasan-gagasan tidak berkaitan dengan segala sesuatu yang memiliki nama. Dan apabila mereka menyangkal gagasan-gagasan yang hakiki, ini berarti suatu penyangkalan terhadap keseluruhan hukum suci Rasulullah saw. dan sifat-sifatnya yang terpuji.
Rabu, 25 November 2009
HAJI
Haji itu wajib bagi setiap muslim yang berakal sehat yang mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat yang ditentukan. Singgah di 'Arafat, mengelilingi ka'bah dan berlari antara Shafa dan Marwa. Tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram. Kawasan suci (Haram) disebut demikian karena disitu terdapat Maqam Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua Maqam; Maqam badannya, yaitu Makkah, dan Maqam ruhaninya yaitu persahabatan dengan Tuhan (Khullat). Barang siapa yang mencari Maqam badaniyahnya, ia harus menafikan semua hawa nafsu dan kesenangan dan memakai pakaian Ihram (kain persegi empat yang dililitkan disekujur tubuhnya tanpa jahitan/kafan) dan mencegah dari perburuan yang dihalalkan, dan mengendalikan sepenuhnya semua indera dan hadir di 'Arafat dan dari sana menuju Muzdalifah dan Masy'ar Al Haram, dan mengambil batu-batu dan mengelilingi Ka'bah dan menuju Mina dan tinggal disana tiga hari dan melemparkan batu-batu dengan cara yang sudah ditentukan dan memotong rambutnya dan melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa.
Tetapi barang siapa mencari maqam ruhaniahnya, ia harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan dan tidak berfikir lain selain Allah. Kemudian dia harus singgah di 'Arafatnya makrifat, dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan (ulfat), dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka'bahnya penyucian Ilahi (tanzih) dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya dialtar mujahadat dan sampai pada maqam persahabatan (khulat). Memasuki maqam badaniyah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka tetapi memasuki maqam ruhaniyah berarti aman dari keterpisahan dari Allah dan akibat-akibatnya.
Orang-orang yang mencari Ka'bahnya didunia ini seharusnya mereka juga berupaya melakukan musyahadat tentang-Nya didalam hati mereka, tempat suci kadang kala mereka capai dan kadang kala mereka tinggalkan, tetapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi Ka'bah, yang dilihat hanya sekali setahun, sesungguhnya mereka lebih harus mengunjungi Ka'bah hati, dimana Dia bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi langkah orang-orang sufi adalah simbol perjalanan menuju Makkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan bagi setiap langkah. Jika ganjaran seseorang untuk ibadahnya kepada Allah ditunda sampai esok hari, ia tentu tidak akan beribadah hari ini, karena ganjaran bagi setiap saat beribadah dan musyahadat adalah langsung.
Pada haji yang pertama aku hanya melihat Ka'bah, kedua kalinya aku melihat Ka'bah dan Tuhannya Ka'bah, ketiga kalinya aku hanya melihat Allah saja. Pendek kata bisa saya katakan; dimana ada mujahadat, disitu tidak ada tempat suci, tempat suci hanya ada dimana musyahadat itu ada. Kalau seluruh alam semesta ini bukan tempat pertemuan manusia dimana ia mendekati Tuhannya, dan ruang istirah dimana ia menikmati kedekatan dengan Tuhan, ia tetap tak akan mengenal cinta Ilahi. Tetapi bilamana ia memiliki penglihatan, seluruh alam semesta adalah tempat sucinya.
"Yang tergelap didunia ini adalah rumah Kekasih tanpa Kekasih"
Karena itu yang bernilai bukanlah Ka'bah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana') didalam istana persahabatan dan melihat Ka'bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab (musabbib), dari tempat tersembunyi manapun kuasa Ilahi tampak, dan dari manapun keinginan pencari bisa terpenuhi. Tujuan mistikus (mardan) dengan melintasi belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri, karena bagi pencinta Tuhan diharamkan memandang tempat suci-Nya. Bukan! Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir.
Seseorang datang kepada Junayd al Baghdati. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang. Ia menjawab "Aku baru saja melakukan ibadah haji"
Junayd mengatakan "Dari saat engkau pertama kali berjalan dari rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosamu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak membuat perjalanan!, disetiap tahap dimana engkau beristirah dimalam hari, apakah engkau telah melintasi sebuah maqam dijalan menuju Allah"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian haji (ihram) ditempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian sehari-harimu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di 'Arafat, apakah engkau telah singgah barang sebentar dalam musyhadat kepada Tuhan?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak singgah di Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu junayd berkata "Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka'bah, apakah engkau sudah memandang keindahan nonmaterial Ketuhanan ditempat suci"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak mengelililngi Ka'bah. Ketika engkau lari antara Shafa dan Marwa, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian (Shafa) dan kebajikan (Muruwwat)?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak lari (Sa'i). Ketika engkau telah datang ke Mina, apakah semua keinginanmu (Munyatsa) telah sirna?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai ditempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengorbankan semua hawa nafsumu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?"
Ia menjawab "Tidak"
Akhirnya Junayd berkata"Berarti engkau tidak melakukan apa-apa, dan engkau tidak melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang aku gambarkan supaya engkau bisa sampai pada maqam Ibrahim."
Selanjutnya haji ada dua macam; (1) Dalam ketidak hadiran dari Tuhan (2) Dalam kehadiran bersama Tuhan. Seseorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Allah dirumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan dirumahnya sendiri, maka ia berada seolah-olah ia hadir bersama Allah di Makkah. Haji sesungguhnya adalah suatu tindak mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab langsung dari musyahadat, malainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka'bah, melainkan untuk memperoleh Musyahadat bersama Allah. Wallahu A'lam.
Tetapi barang siapa mencari maqam ruhaniahnya, ia harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan dan tidak berfikir lain selain Allah. Kemudian dia harus singgah di 'Arafatnya makrifat, dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan (ulfat), dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka'bahnya penyucian Ilahi (tanzih) dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya dialtar mujahadat dan sampai pada maqam persahabatan (khulat). Memasuki maqam badaniyah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka tetapi memasuki maqam ruhaniyah berarti aman dari keterpisahan dari Allah dan akibat-akibatnya.
Orang-orang yang mencari Ka'bahnya didunia ini seharusnya mereka juga berupaya melakukan musyahadat tentang-Nya didalam hati mereka, tempat suci kadang kala mereka capai dan kadang kala mereka tinggalkan, tetapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi Ka'bah, yang dilihat hanya sekali setahun, sesungguhnya mereka lebih harus mengunjungi Ka'bah hati, dimana Dia bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi langkah orang-orang sufi adalah simbol perjalanan menuju Makkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan bagi setiap langkah. Jika ganjaran seseorang untuk ibadahnya kepada Allah ditunda sampai esok hari, ia tentu tidak akan beribadah hari ini, karena ganjaran bagi setiap saat beribadah dan musyahadat adalah langsung.
Pada haji yang pertama aku hanya melihat Ka'bah, kedua kalinya aku melihat Ka'bah dan Tuhannya Ka'bah, ketiga kalinya aku hanya melihat Allah saja. Pendek kata bisa saya katakan; dimana ada mujahadat, disitu tidak ada tempat suci, tempat suci hanya ada dimana musyahadat itu ada. Kalau seluruh alam semesta ini bukan tempat pertemuan manusia dimana ia mendekati Tuhannya, dan ruang istirah dimana ia menikmati kedekatan dengan Tuhan, ia tetap tak akan mengenal cinta Ilahi. Tetapi bilamana ia memiliki penglihatan, seluruh alam semesta adalah tempat sucinya.
"Yang tergelap didunia ini adalah rumah Kekasih tanpa Kekasih"
Karena itu yang bernilai bukanlah Ka'bah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana') didalam istana persahabatan dan melihat Ka'bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab (musabbib), dari tempat tersembunyi manapun kuasa Ilahi tampak, dan dari manapun keinginan pencari bisa terpenuhi. Tujuan mistikus (mardan) dengan melintasi belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri, karena bagi pencinta Tuhan diharamkan memandang tempat suci-Nya. Bukan! Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir.
Seseorang datang kepada Junayd al Baghdati. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang. Ia menjawab "Aku baru saja melakukan ibadah haji"
Junayd mengatakan "Dari saat engkau pertama kali berjalan dari rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosamu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak membuat perjalanan!, disetiap tahap dimana engkau beristirah dimalam hari, apakah engkau telah melintasi sebuah maqam dijalan menuju Allah"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian haji (ihram) ditempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian sehari-harimu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di 'Arafat, apakah engkau telah singgah barang sebentar dalam musyhadat kepada Tuhan?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak singgah di Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu junayd berkata "Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka'bah, apakah engkau sudah memandang keindahan nonmaterial Ketuhanan ditempat suci"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak mengelililngi Ka'bah. Ketika engkau lari antara Shafa dan Marwa, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian (Shafa) dan kebajikan (Muruwwat)?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak lari (Sa'i). Ketika engkau telah datang ke Mina, apakah semua keinginanmu (Munyatsa) telah sirna?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai ditempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengorbankan semua hawa nafsumu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?"
Ia menjawab "Tidak"
Akhirnya Junayd berkata"Berarti engkau tidak melakukan apa-apa, dan engkau tidak melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang aku gambarkan supaya engkau bisa sampai pada maqam Ibrahim."
Selanjutnya haji ada dua macam; (1) Dalam ketidak hadiran dari Tuhan (2) Dalam kehadiran bersama Tuhan. Seseorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Allah dirumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan dirumahnya sendiri, maka ia berada seolah-olah ia hadir bersama Allah di Makkah. Haji sesungguhnya adalah suatu tindak mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab langsung dari musyahadat, malainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka'bah, melainkan untuk memperoleh Musyahadat bersama Allah. Wallahu A'lam.
Senin, 16 November 2009
Antara Kekayaan Dan Kemiskinan
Para Syekh shufi berbeda pandangan mengenai mana yang lebih tinggi kemiskinan ataukah kekayaan, yang keduanya dipandang sebagai sifat-sifat manusia, karena kekayaan yang sesungguhnya (ghina) milik Allah, yang sempurna dalam segala sifat-Nya. Yahya bin Mu'adz Ar-Razi, Ahmad bin Abil Hawari, Harits Al-Muhasibi, Abul 'Abbas bin Atha, Ruwaym, Abul Hasan bin Sim'un dan para muta'akhirun, diantaranya syaikh Akbar Abu Sa'id Fadhalallah bin Muhammad Al-Mayhani, semuanya berpandangan bahwa kekayaan lebih tinggi dibanding kemiskinan. Mereka berpendapat bahwa kekayaan itu adalah satu sifat Allah, sedangkan kemiskinan tidak dapat dinisbahkan kepada-Nya, karena itu satu sifat yang umum bagi Allah dan manusia adalah lebih tinggi dari pada satu sifat yang tidak bisa dikenakan kepada Allah.
Masyarakat yang disebutkan ini hanya melulu nama, dan tidak memiliki keberadaan dalam kenyataan, masyarakat yang sebenarnya membawa serta persamaan yang timbal balik, namun sifat-sifat keTuhanan adalah kekal dan sifat-sifat manusia tercipta, karena itu hujah tersebut salah. Ali bin 'Utsman Al-Julabi, menyatakan bahwa kekayaan adalah istilah yang bisa dengan tepat dikenakan kepada Tuhan, namun bukan sifat yang layak dikenakan kepada manusia, sementara kefakiran adalah istilah yang secara tepat dikenakan kepada manusia dan bukannya kepada Tuhan. Secara kias seseorang disebut "kaya", namun sebenarnya ia tidak kaya. Lagi, untuk memberikan hujah yang lebih jelas, Kekayaan manusia adalah hasil macam-macam sebab, sedang kekayaan Allah, yang diri-Nya adalah pembuat segala sebab, tidak punya hubungan dengan sebab apapun. Karena itu tidak ada umat yang bisa dikaitkan dengan sifat ini. Tidaklah diperkenankan mengaitkan segala sesuatu dengan Allah apakah dalam zat, sifat atau nama. Kekayaan Allah adalah kebebasan-Nya dari siapapun, dan kekuasaan-Nya untuk berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Begitulah Dia adanya dan akan demikianlah Dia selamanya. Kekayaan manusia dilain pihak adalah misalnya sarana penghidupannya, atau hadirnya rasa riang, atau selamat dari dosa, atau kesenangannya bertafakur adalah hal-hal yang bersifat fenomenal dan selalu mengalami perubahan.
Lebih jauh lagi, orang awam lebih menyukai orang kaya dari pada orang miskin dengan alasan bahwa Allah telah memberkati orang kaya di dua dunia dan telah menganugerahkan kepadanya kekayaan. Yang mereka maksud dengan "kekayaan" disini adalah berlimpahnya harta duniawi, kenikmatan jasmani, dan pengumbaran hawa nafsu. Mereka berkata bahwa Allah telah memerintahkan kita agar bersyukur atas kekayaan yang diperoleh, dan agar bersabar dalam kemiskinan, yaitu sabar menghadapi kemalangan dan bersyukur dalam kemakmuran, dan bahwa kemakmuran secara hakiki lebih baik daripada kemalangan. Terhadap hal ini sesungguhnya bilamana Allah memerintahkan kita agar bersyukur atas kemakmuran, Dia menjadikan syukur sebagai sarana untuk meningkatkan kemakmuran kita, tetapi bilamana Dia memerintahkan sabar atas kemalangan, Dia menjadikan kesabaran sebagai sarana untuk mendekatkan kita kepada Diri-Nya. Allah berfirman,"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim; 7)
Sesungguhnya para syekh yang meninggikan kekayaan diatas kemiskinan tidak menggunakan istilah "kekayaan" dalam arti yang populer. Apa yang mereka maksud bukanlah "perolehan manfaat" melainkan "perolehan dari Yang Maha Pemurah". Syekh Abu Sa'id mengatakan,"Kemiskinan adalah kekayaan dalam Tuhan"(al-faqr huwa al-ghina billah), yaitu penyingkapan abadi kebenaran. Terhadap hal ini penyingkapan (mukasyafat) menyiratkan kemungkinan tentang tabir (hijab), karena itu jika seseorang yang memperoleh penyingkapan, terdindingi dari penyingkapan oleh sifat kekayaan, ia menjadi memerlukan penyingkapan, atau tidak, jika tidak kesimpulannya tidak masuk akal, jika dia memerlukan, keperluannya bertentangan dengan kekayaan, karena itu istilah tersebut tidak dapat berlaku. Disamping itu tak seorangpun memiliki "kekayaan dalam Tuhan" sebelum sifat-sifatnya sirna dan tujuannya hanya satu, kekayaan tidak dapat berpadanan dengan kelanggengan suatu obyek atau dengan peneguhan sifat-sifat bawaan manusia, karena ciri-ciri pokok kefanaan dan wujud fenomenal adalah keperluan dan kemiskinan. Orang yang sifat-sifatnya masih bertahan bukanlah kaya, dan orang yang sifat-sifatnya telah fana tidak berhak atas nama apapun. Karena itu "orang yang kaya adalah orang yang diperkayakan oleh Allah"(al-ghani man aghnahullah) sebab istilah "kaya dalam Tuhan" menunjuk kepada para pelaku (fa'il), sedangkan istilah "diperkaya oleh Tuhan" berarti orang yang dikenai tindakan(maf'ul). Yang pertama adalah mandiri, sedangkan yang kedua adalah hidup melalui sang pelaku. Karena itu, menghidupkan diri merupakan sifat bawaan manusia, sedangkan hidup melalui Tuhan melibatkan peniadaan sifat-sifat. Karena itu Ali bin 'Utsman Al-Julabi menyatakan bahwa kekayaan yang sejati bertentangan dengan perihal keabadian(baqa') sifat apapun, karena sifat manusia telah terbukti cacat dan bisa rusak, kekayaan tidak pula terletak dalam peniadaan sifat-sifat ini karena nama tidak dapat diberikan kepada sifat yang tidak lagi maujud, dan dia yang sifat-sifatnya telah fana tidak dapat dipandang sebagai "miskin" atau "kaya" sebab sifat kaya tidak dapat teralihkan dari Tuhan kepada manusia, dan sifat miskin tidak dapat teralihkan dari manusia kepada Tuhan.
Semua syekh shufi lebih menyukai kemiskinan dari pada kekayaan, dengan alasan bahwa Al-Qur'an dan sunah menyatakan dengan jelas bahwa kefakiran lebih tinggi. Bahwa persoalan ini pernah dibahas oleh Junayd dan Ibn 'Atha. Ibn 'Atha menekankan keunggulan orang kaya. Dia berargumen bahwa di Hari Kebangkitan, mereka akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kekayaan mereka, dan bahwa perhitungan (hisab) semacam itu mengakibatkan terdengarnya Kata-kata Ilahi, tanpa tafakur apapun, dalam bentuk penyesalan ('itab) dan penyesalan dialamatkan oleh Yang Tercinta kepada sang pencinta. Junayd menjawab "jika Dia memanggil orang kaya untuk perhitungan, maka Dia memangil orang miskin untuk memberi dalih, dan memberikan dalih adalah lebih baik dari pada mempertanggung jawabkan."
Setiap orang adalah "miskin" meskipun ia adalah seorang pangeran. Secara hakiki kekayaan nabi Sulaiman dan kemiskinan nabi Sulaiman adalah satu. Allah berkata kepada nabi Ayub yang kesabarannya luar biasa dan begitu pula kepada nabi Sulaiman yang kerajaannya sangat luas; "Kau adalah hamba yang baik" (QS. Shaad; 30 dan 44). Ketika keridhaan Allah tercapai tidak ada perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan nabi Sulaiman maupun nabi Ayub.
Abul Qasim Qusyayri berkata" Orang telah berbicara banyak tentang kemiskinan dan kekayaan, dan telah memilih satuatau yang lain bagi mereka sendiri, tapi aku memilih keadaan apapun yang dipilihkan Tuhanku untuk diriku, jika dia menjadikan aku kaya, aku tidak akan lupa dan jika tuhan menghendaki aku miskin tidak akan menjadikan aku iri dan durhaka". Karena kekayaan dan kemiskinan adalah anugerah Allah, kekayaan rusak karena kelalaian dan kemiskinan rusak karena iri dan durhaka. Kedua konsepsi ini sangat bagus namun berbeda dalam pelaksanaannya. Kemiskinan adalah keterceraian hati dari segala kecuali Allah, dan kekayaan adalah terkuasainya hati oleh apa yang tidak dapat dibatasi. Bilamana hati telah dijernihkan (dari segala kecuali Allah), kemiskinan tidak lebih baik dari dari pada kekayaan, pun demikian kekayaan tidak lebih baik dari kemiskinan. Kekayaan adalah kelimpahan benda-benda dunia dan kemiskinan adalah kekurangan akan benda-benda dunia, sedangkan semua benda adalah milik Allah. Bilamana sang pencari mengucapkan selamat tinggal pada kemiskinan, anti tesisnya lenyap, dan kedua istilah tersebut akan tertransedensikan.
Masyarakat yang disebutkan ini hanya melulu nama, dan tidak memiliki keberadaan dalam kenyataan, masyarakat yang sebenarnya membawa serta persamaan yang timbal balik, namun sifat-sifat keTuhanan adalah kekal dan sifat-sifat manusia tercipta, karena itu hujah tersebut salah. Ali bin 'Utsman Al-Julabi, menyatakan bahwa kekayaan adalah istilah yang bisa dengan tepat dikenakan kepada Tuhan, namun bukan sifat yang layak dikenakan kepada manusia, sementara kefakiran adalah istilah yang secara tepat dikenakan kepada manusia dan bukannya kepada Tuhan. Secara kias seseorang disebut "kaya", namun sebenarnya ia tidak kaya. Lagi, untuk memberikan hujah yang lebih jelas, Kekayaan manusia adalah hasil macam-macam sebab, sedang kekayaan Allah, yang diri-Nya adalah pembuat segala sebab, tidak punya hubungan dengan sebab apapun. Karena itu tidak ada umat yang bisa dikaitkan dengan sifat ini. Tidaklah diperkenankan mengaitkan segala sesuatu dengan Allah apakah dalam zat, sifat atau nama. Kekayaan Allah adalah kebebasan-Nya dari siapapun, dan kekuasaan-Nya untuk berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Begitulah Dia adanya dan akan demikianlah Dia selamanya. Kekayaan manusia dilain pihak adalah misalnya sarana penghidupannya, atau hadirnya rasa riang, atau selamat dari dosa, atau kesenangannya bertafakur adalah hal-hal yang bersifat fenomenal dan selalu mengalami perubahan.
Lebih jauh lagi, orang awam lebih menyukai orang kaya dari pada orang miskin dengan alasan bahwa Allah telah memberkati orang kaya di dua dunia dan telah menganugerahkan kepadanya kekayaan. Yang mereka maksud dengan "kekayaan" disini adalah berlimpahnya harta duniawi, kenikmatan jasmani, dan pengumbaran hawa nafsu. Mereka berkata bahwa Allah telah memerintahkan kita agar bersyukur atas kekayaan yang diperoleh, dan agar bersabar dalam kemiskinan, yaitu sabar menghadapi kemalangan dan bersyukur dalam kemakmuran, dan bahwa kemakmuran secara hakiki lebih baik daripada kemalangan. Terhadap hal ini sesungguhnya bilamana Allah memerintahkan kita agar bersyukur atas kemakmuran, Dia menjadikan syukur sebagai sarana untuk meningkatkan kemakmuran kita, tetapi bilamana Dia memerintahkan sabar atas kemalangan, Dia menjadikan kesabaran sebagai sarana untuk mendekatkan kita kepada Diri-Nya. Allah berfirman,"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim; 7)
Sesungguhnya para syekh yang meninggikan kekayaan diatas kemiskinan tidak menggunakan istilah "kekayaan" dalam arti yang populer. Apa yang mereka maksud bukanlah "perolehan manfaat" melainkan "perolehan dari Yang Maha Pemurah". Syekh Abu Sa'id mengatakan,"Kemiskinan adalah kekayaan dalam Tuhan"(al-faqr huwa al-ghina billah), yaitu penyingkapan abadi kebenaran. Terhadap hal ini penyingkapan (mukasyafat) menyiratkan kemungkinan tentang tabir (hijab), karena itu jika seseorang yang memperoleh penyingkapan, terdindingi dari penyingkapan oleh sifat kekayaan, ia menjadi memerlukan penyingkapan, atau tidak, jika tidak kesimpulannya tidak masuk akal, jika dia memerlukan, keperluannya bertentangan dengan kekayaan, karena itu istilah tersebut tidak dapat berlaku. Disamping itu tak seorangpun memiliki "kekayaan dalam Tuhan" sebelum sifat-sifatnya sirna dan tujuannya hanya satu, kekayaan tidak dapat berpadanan dengan kelanggengan suatu obyek atau dengan peneguhan sifat-sifat bawaan manusia, karena ciri-ciri pokok kefanaan dan wujud fenomenal adalah keperluan dan kemiskinan. Orang yang sifat-sifatnya masih bertahan bukanlah kaya, dan orang yang sifat-sifatnya telah fana tidak berhak atas nama apapun. Karena itu "orang yang kaya adalah orang yang diperkayakan oleh Allah"(al-ghani man aghnahullah) sebab istilah "kaya dalam Tuhan" menunjuk kepada para pelaku (fa'il), sedangkan istilah "diperkaya oleh Tuhan" berarti orang yang dikenai tindakan(maf'ul). Yang pertama adalah mandiri, sedangkan yang kedua adalah hidup melalui sang pelaku. Karena itu, menghidupkan diri merupakan sifat bawaan manusia, sedangkan hidup melalui Tuhan melibatkan peniadaan sifat-sifat. Karena itu Ali bin 'Utsman Al-Julabi menyatakan bahwa kekayaan yang sejati bertentangan dengan perihal keabadian(baqa') sifat apapun, karena sifat manusia telah terbukti cacat dan bisa rusak, kekayaan tidak pula terletak dalam peniadaan sifat-sifat ini karena nama tidak dapat diberikan kepada sifat yang tidak lagi maujud, dan dia yang sifat-sifatnya telah fana tidak dapat dipandang sebagai "miskin" atau "kaya" sebab sifat kaya tidak dapat teralihkan dari Tuhan kepada manusia, dan sifat miskin tidak dapat teralihkan dari manusia kepada Tuhan.
Semua syekh shufi lebih menyukai kemiskinan dari pada kekayaan, dengan alasan bahwa Al-Qur'an dan sunah menyatakan dengan jelas bahwa kefakiran lebih tinggi. Bahwa persoalan ini pernah dibahas oleh Junayd dan Ibn 'Atha. Ibn 'Atha menekankan keunggulan orang kaya. Dia berargumen bahwa di Hari Kebangkitan, mereka akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kekayaan mereka, dan bahwa perhitungan (hisab) semacam itu mengakibatkan terdengarnya Kata-kata Ilahi, tanpa tafakur apapun, dalam bentuk penyesalan ('itab) dan penyesalan dialamatkan oleh Yang Tercinta kepada sang pencinta. Junayd menjawab "jika Dia memanggil orang kaya untuk perhitungan, maka Dia memangil orang miskin untuk memberi dalih, dan memberikan dalih adalah lebih baik dari pada mempertanggung jawabkan."
Setiap orang adalah "miskin" meskipun ia adalah seorang pangeran. Secara hakiki kekayaan nabi Sulaiman dan kemiskinan nabi Sulaiman adalah satu. Allah berkata kepada nabi Ayub yang kesabarannya luar biasa dan begitu pula kepada nabi Sulaiman yang kerajaannya sangat luas; "Kau adalah hamba yang baik" (QS. Shaad; 30 dan 44). Ketika keridhaan Allah tercapai tidak ada perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan nabi Sulaiman maupun nabi Ayub.
Abul Qasim Qusyayri berkata" Orang telah berbicara banyak tentang kemiskinan dan kekayaan, dan telah memilih satuatau yang lain bagi mereka sendiri, tapi aku memilih keadaan apapun yang dipilihkan Tuhanku untuk diriku, jika dia menjadikan aku kaya, aku tidak akan lupa dan jika tuhan menghendaki aku miskin tidak akan menjadikan aku iri dan durhaka". Karena kekayaan dan kemiskinan adalah anugerah Allah, kekayaan rusak karena kelalaian dan kemiskinan rusak karena iri dan durhaka. Kedua konsepsi ini sangat bagus namun berbeda dalam pelaksanaannya. Kemiskinan adalah keterceraian hati dari segala kecuali Allah, dan kekayaan adalah terkuasainya hati oleh apa yang tidak dapat dibatasi. Bilamana hati telah dijernihkan (dari segala kecuali Allah), kemiskinan tidak lebih baik dari dari pada kekayaan, pun demikian kekayaan tidak lebih baik dari kemiskinan. Kekayaan adalah kelimpahan benda-benda dunia dan kemiskinan adalah kekurangan akan benda-benda dunia, sedangkan semua benda adalah milik Allah. Bilamana sang pencari mengucapkan selamat tinggal pada kemiskinan, anti tesisnya lenyap, dan kedua istilah tersebut akan tertransedensikan.
Kefakiran
Ketahuilah bahwa kefakiran menduduki derajat yang tinggi dijalan kebenaran, dan bahwa orang fakir amat dihargai sebagai mana Allah berfirman;
"(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang tetap berjuang dijalan Allah dan tidak dapat berikhtiar dimuka bumi, orang tidak tahu menyangka mereka kaya, karena mereka menahan diri dari meminta-minta" (QS. Al Baqarah; 273)
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sementara mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan berharap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka" (QS. As Sajadah; 16).
Pun demikian Rasulullah memilih kefakiran dan berkata; "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kefakiran dan matikanlah dalam kefakiran, dan bangkitkan dari mati di antara yang fakir!" Dan beliau juga berkata: "Pada Hari Kebangkitan, Tuhan akan berkata, 'Bawalah olehmu orang-orang yang Kucintai mendekat kepada-Ku;' kemudian malaikat-malaikat akan berkata, 'Siapakah orang-orang yang Kaucintai?' Dan Tuhan akan menjawab, 'Orang-orang fakir dan yang tak punya'. Banyak ayat dalam Al-Quran dan Hadits berkata seperti ini, yang kemasyhurannya tidak perlu dibincangkan di sini. Di antara kaum Muhajirin di masa Nabi, terdapat orang-orang fakir (fuqara') yang duduk di masjid dan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Tuhan, dan dengan teguh menyakini bahwa Tuhan akan memberi mereka roti untuk makanan sehari-hari mereka, dan bertawakal kepada-Nya. Nabi suka berkumpul dengan mereka dan memberikan perhatian kepada mereka; karena Tuhan berfirman: "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di sore hari, yang menginginkan keridhaan-Nya." (QS 6:52). Kapan saja melihat salah seorang di antara mereka, Nabi saw. biasa berkata: "Semoga ayah dan ibuku menjadi kurbanmu! Karena demi kau, Tuhan menegur aku."
Karena itu, Tuhan telah memuliakan kefakiran dan menjadikannya derajat khusus orang fakir, yang telah melepaskan semua hal yang lahir dan batin, dan benar-benar berpaling kepada Sang Penyebab; yang kefakirannya menjadi kebanggaan mereka, sehingga mereka mengeluh karena kefakiran pergi, dan gembira akan datangnya, dan mendekapnya serta menganggap semua yang lain hina.
Kini, kekafiran mempunyai bentuk (rasm) dan hakikat (haqiqat). Bentuknya adalah kemiskinan, namun hakikatnya adalah keberuntungan dan pilihan bebas. Dia yang memandang bentuk, bertumpuh pada bentuk dan, karena gagal mencapai sasarannya, lari dari hakikat; namun dia yang menemukan hakikat, mencegah pandangannya dari semua ciptaan, dan dalam peniadaan yang sempurna, karena hanya memandang Yang Maha Esa, maka dia bergegas menuju hidup yang kekal. Orang miskin (faqir) tidak memiliki apa-apa dan tidak merasa kehilangan. Dia tidak menjadi kaya dengan memiliki segala sesuatau, pun tidak miskin karena tidak memiliki apa pun: kedua keadaan ini sama saja baginya. Dia akan lebih merasa senang bilamana dia tidak memiliki apa pun, karena para Syekh mengatakan: "Makin seseorang tertekan dalam keadaan-keadaan, makin terbuka luas (gembira dan bahagia) keadaan (batin) seseorang itu," karena tidaklah merupakan keuntungan bagi seorang darwisy untuk memiliki harta: jika dia "memenjarakan" segala sesuatu demi kegunaannya sendiri, dia sendiri juga akan "terpenjara". Sahabat-sahabat Tuhan hidup dari kemurahan Tuhan. Kekayaan dunia menahan mereka dari jalan keridhaan.
Kisah; Seorang darwisy bertemu denga seorang raja. Raja berkata: "Mintalah hadiah dariku." Sang darwisy menjawab: "Aku tidak akan minta hadiah dari salah seorang budakku." Mengapa demikian?" kata raja. Sang darwisy berkata: "Aku punya dua budak yang merupakan tuan-tuanmu: ketamakan dan pengharapan."
Nabi berkata: "Kefakiran adalah kemuliaan bagi mereka yang layak memperolehnya." Kemuliaannya adalah demikian: tubuh seorang fakir dijaga oleh Tuhan dari perbuatan-perbuatan yang nista dan dosa, dan hatinya terpelihara dari kejahatan dan pikiran-pikiran yang kotor karena bagian-bagian lahirnya telah terserap dalam (perenungan akan) berkah Tuhan yang nyata, sementara batinnya terlindung oleh rahmatnya yang gaib, sehingga tubuhnya adalah ruhani dan hatinya adalah ilahiah (rabbani). Maka tak ada hubungannya lagi antara dia dan manusia, dunia ini dan akhirat lebih rendah nilainya dari sepasang sayap nyamuk dalam ukrang kefakirannya; dia tak lagi berada didunia ini bahkan untuk sesaat sekalipun.
"(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang tetap berjuang dijalan Allah dan tidak dapat berikhtiar dimuka bumi, orang tidak tahu menyangka mereka kaya, karena mereka menahan diri dari meminta-minta" (QS. Al Baqarah; 273)
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sementara mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan berharap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka" (QS. As Sajadah; 16).
Pun demikian Rasulullah memilih kefakiran dan berkata; "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kefakiran dan matikanlah dalam kefakiran, dan bangkitkan dari mati di antara yang fakir!" Dan beliau juga berkata: "Pada Hari Kebangkitan, Tuhan akan berkata, 'Bawalah olehmu orang-orang yang Kucintai mendekat kepada-Ku;' kemudian malaikat-malaikat akan berkata, 'Siapakah orang-orang yang Kaucintai?' Dan Tuhan akan menjawab, 'Orang-orang fakir dan yang tak punya'. Banyak ayat dalam Al-Quran dan Hadits berkata seperti ini, yang kemasyhurannya tidak perlu dibincangkan di sini. Di antara kaum Muhajirin di masa Nabi, terdapat orang-orang fakir (fuqara') yang duduk di masjid dan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Tuhan, dan dengan teguh menyakini bahwa Tuhan akan memberi mereka roti untuk makanan sehari-hari mereka, dan bertawakal kepada-Nya. Nabi suka berkumpul dengan mereka dan memberikan perhatian kepada mereka; karena Tuhan berfirman: "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di sore hari, yang menginginkan keridhaan-Nya." (QS 6:52). Kapan saja melihat salah seorang di antara mereka, Nabi saw. biasa berkata: "Semoga ayah dan ibuku menjadi kurbanmu! Karena demi kau, Tuhan menegur aku."
Karena itu, Tuhan telah memuliakan kefakiran dan menjadikannya derajat khusus orang fakir, yang telah melepaskan semua hal yang lahir dan batin, dan benar-benar berpaling kepada Sang Penyebab; yang kefakirannya menjadi kebanggaan mereka, sehingga mereka mengeluh karena kefakiran pergi, dan gembira akan datangnya, dan mendekapnya serta menganggap semua yang lain hina.
Kini, kekafiran mempunyai bentuk (rasm) dan hakikat (haqiqat). Bentuknya adalah kemiskinan, namun hakikatnya adalah keberuntungan dan pilihan bebas. Dia yang memandang bentuk, bertumpuh pada bentuk dan, karena gagal mencapai sasarannya, lari dari hakikat; namun dia yang menemukan hakikat, mencegah pandangannya dari semua ciptaan, dan dalam peniadaan yang sempurna, karena hanya memandang Yang Maha Esa, maka dia bergegas menuju hidup yang kekal. Orang miskin (faqir) tidak memiliki apa-apa dan tidak merasa kehilangan. Dia tidak menjadi kaya dengan memiliki segala sesuatau, pun tidak miskin karena tidak memiliki apa pun: kedua keadaan ini sama saja baginya. Dia akan lebih merasa senang bilamana dia tidak memiliki apa pun, karena para Syekh mengatakan: "Makin seseorang tertekan dalam keadaan-keadaan, makin terbuka luas (gembira dan bahagia) keadaan (batin) seseorang itu," karena tidaklah merupakan keuntungan bagi seorang darwisy untuk memiliki harta: jika dia "memenjarakan" segala sesuatu demi kegunaannya sendiri, dia sendiri juga akan "terpenjara". Sahabat-sahabat Tuhan hidup dari kemurahan Tuhan. Kekayaan dunia menahan mereka dari jalan keridhaan.
Kisah; Seorang darwisy bertemu denga seorang raja. Raja berkata: "Mintalah hadiah dariku." Sang darwisy menjawab: "Aku tidak akan minta hadiah dari salah seorang budakku." Mengapa demikian?" kata raja. Sang darwisy berkata: "Aku punya dua budak yang merupakan tuan-tuanmu: ketamakan dan pengharapan."
Nabi berkata: "Kefakiran adalah kemuliaan bagi mereka yang layak memperolehnya." Kemuliaannya adalah demikian: tubuh seorang fakir dijaga oleh Tuhan dari perbuatan-perbuatan yang nista dan dosa, dan hatinya terpelihara dari kejahatan dan pikiran-pikiran yang kotor karena bagian-bagian lahirnya telah terserap dalam (perenungan akan) berkah Tuhan yang nyata, sementara batinnya terlindung oleh rahmatnya yang gaib, sehingga tubuhnya adalah ruhani dan hatinya adalah ilahiah (rabbani). Maka tak ada hubungannya lagi antara dia dan manusia, dunia ini dan akhirat lebih rendah nilainya dari sepasang sayap nyamuk dalam ukrang kefakirannya; dia tak lagi berada didunia ini bahkan untuk sesaat sekalipun.
Minggu, 25 Oktober 2009
MACAM CINTA
Ketahuilah bahwa istilah cinta (mahabbat) digunakan oleh para ahli teologi dalam tiga arti; pertama, senantiasa menginginkan obyek cinta, dan kecenderungan serta syahwat(dalam asmara), yang dalam arti cinta ini hanya mengacu pada wujud-wujud ciptaan (makhluk) dan kasih sayang mereka satu sama lain, tapi tidak bisa digunakan pada Tuhan, yang maha suci dari apapun yang semacam ini. Kedua, kemurahan Tuhan dan anugerah-Nya yang berupa keistimewaan kepada orang-orang yang Dia pilih dan yang Dia sebabkan dapat mencapai kesempurnaan kewalian dan yang dibedakan-Nya secara khusus dengan bermacam-macam anugerah keajaiban-Nya. Ketiga, pujian yang Tuhan limpahkan kepada seseorang karena suatu perbuatan yang baik(tsana-yi jamil)
Beberapa filosof skolastik mengatakan bahwa cinta Tuhan, yang Dia telah membuatnya dikenal oleh kita, merupakan salah satu sifat tradisional, seperti wajah-Nya dan tangan-Nya dan penempatan diri-Nya sendiri yang sekukuh-kukuhnya pada singgasana-Nya (istiwa), yang eksistensinya dari sudut akal akan tampak tidak mungkin jika tidak dinyatakan sebagai sifat-sifat Ilahi dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu, kita mengakuinya dan mempercayainya. Kaum skolastik ini bermaksud menyangkal dapat diterapkannya istilah cinta pada Tuhan dalam semua artian yang kami sebutkan. Kami akan menerangkan sekarang tentang tentang kebenaran masalah ini.
Cinta Tuhan kepada manusia adalah kehendak baik-Nya kepada-Nya dan kasih sayang-Nya kepada-Nya. Cinta adalah salah satu nama kehendak-Nya (iradat), seperti "keridhaan" "murka" "kasih sayang" dan lain-lain. Dan kehendak-Nya adalah salah satu sifat yang qodim dimana Dia menghendaki tindakan-tindakan-Nya. pendek kata cinta Tuhan kepada manusia itu adalah mempertunjukkan banyak keridhaan kepadanya, dan memberinya ganjaran kepadanya didunia ini dan di akhirat. Dan membuatnya aman dari hukuman dan menjaganya selamat dari dosa, dan melimpahkan kepadanya "keadaan-keadaan" mulia dan "kedudukan-kedudukan" yang luhur dan yang menyebabkannya memalingkan pikiran-pikirannya dari semua yang bukan Tuhan. Bilamana Allah secara khusus mengistimewakan seseorang dengan cara ini, pengkhususan kehendak-Nya itu disebut cinta. Ini adalah doktrin Al Harits Muhasibi, Junaid al Bagdhadi, sejumlah besar syeikh sufi, dan para ahli hukum dari aliran ini, dan kebanyakan kaum skolastik menganut pandangan yang sama. Mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi adalah"pujian yang diberikan kepada seseorang karena perbuatan baik"(Tsana-yi jamil barbanda), pujian Allah adalah perkataan-Nya(kalam), yang tidak diciptakan(bukan makhluk). Dan mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi merupakan "kebajikan", kebajikan-Nya terletak dalam tindakan-tindakan-Nya. Oleh karenannya, pandangan-pandangan yang berbeda itu pada hakikatnya berhubungan erat satu sama lain.
Cinta manusia kepada Allah merupakan suatu kualitas yang mengejawantahkan dalam hati orang beriman yang taat, dalam bentuk penghormatan dan pengagungan, sehingga ia berusaha memuaskan yang Dicintainya dan menjadi tidak sabar dan resah karena keinginannya untuk memandang-Nya, dan tidak bisa tenang dengan siapapun kecuali Dia, dan menjadi akrab dengan mengingat(dzikir) Dia, dan bertekad akan melupakan segala yang lain. Diam menjadi haram baginya, dan tenang lenyap darinya. Ia terputus dari semua kebiasaan dan hubungan-hubungan dengan sesamanya, dan menyangkal hawa nafsu, dan berpaling kepada istana cinta, dan tunduk kepada hukum cinta dan mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya. Tidaklah mungkin bahwa cinta manusia kepada Allah serupa dengan cinta makhluk-makhlukNya kepada sesamanya satu sama lain, karena yang pertama ialah keinginan untuk memahami dan mencapai obyek yang dicintai, sementara yang kedua adalah sifat tubuh. Para pencinta Tuhan adalah orang-orang yang mengabdikan diri mereka kepada kematian dalam kedekatan kepada-Nya, bukan orang-orang yang mencari watak(kayfiyyat)-Nya karena sang pencari tidak bersandar pada dirinya sendiri, namun ia yang mengabdikan dirinya pada kematian(mustahlik) bersandar pada Yang Dicintainya. Dan para pencinta yang paling sejati adalah mereka yang suka mti seperti itu dan terkuasai, karena wujud fenomenal tidak mempunyai cara untuk mendekati yang Qadim kecuali melalui kemahakuasaan Yang Qadim. Ia yang mengenal cinta sejati tak merasakan kesulitan-kesulitan lagi, dan semua keraguannya lenyap.
Selanjutnya cinta ada dua macam;
1. cinta terhadap yang sejenis yang merupakan suatu keinginan yang dirangsang oleh hawa nafsu dan yang mencari esensi obyek yang dicintainya melalui hubungan seksual,
2. cinta dari yang tidak serupa dengan obyek cintanya dan yang berusaha untuk menjadi terikat erat dengan suatu sifat obyek itu, misalnya mendengar tanpa kata-kata(suara) atau melihat tanpa mata.
Dan orang-orang beriman yang mencintai Tuhannya terdiri atas dua macam;
1. Orang-orang yang menghargai anugerah dan kebajikan Tuhan kepada mereka, dan mereka diarahkan oleh penghargaan itu untuk mencintai Yang Maha Bajik.
2. Orang-orang yang begitu dikuasai oleh cinta sehingga mereka memandang semua anugerah sebagai tabir(antara diri mereka dengan Allah), dan dengan memandang Yang Maha Bajik mereka dipimpin ke (kesadaran tentang) anugerah-anugerah-Nya. Cara yang terakhir inilah cara yang paling tinggi dan mulia.
Beberapa filosof skolastik mengatakan bahwa cinta Tuhan, yang Dia telah membuatnya dikenal oleh kita, merupakan salah satu sifat tradisional, seperti wajah-Nya dan tangan-Nya dan penempatan diri-Nya sendiri yang sekukuh-kukuhnya pada singgasana-Nya (istiwa), yang eksistensinya dari sudut akal akan tampak tidak mungkin jika tidak dinyatakan sebagai sifat-sifat Ilahi dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu, kita mengakuinya dan mempercayainya. Kaum skolastik ini bermaksud menyangkal dapat diterapkannya istilah cinta pada Tuhan dalam semua artian yang kami sebutkan. Kami akan menerangkan sekarang tentang tentang kebenaran masalah ini.
Cinta Tuhan kepada manusia adalah kehendak baik-Nya kepada-Nya dan kasih sayang-Nya kepada-Nya. Cinta adalah salah satu nama kehendak-Nya (iradat), seperti "keridhaan" "murka" "kasih sayang" dan lain-lain. Dan kehendak-Nya adalah salah satu sifat yang qodim dimana Dia menghendaki tindakan-tindakan-Nya. pendek kata cinta Tuhan kepada manusia itu adalah mempertunjukkan banyak keridhaan kepadanya, dan memberinya ganjaran kepadanya didunia ini dan di akhirat. Dan membuatnya aman dari hukuman dan menjaganya selamat dari dosa, dan melimpahkan kepadanya "keadaan-keadaan" mulia dan "kedudukan-kedudukan" yang luhur dan yang menyebabkannya memalingkan pikiran-pikirannya dari semua yang bukan Tuhan. Bilamana Allah secara khusus mengistimewakan seseorang dengan cara ini, pengkhususan kehendak-Nya itu disebut cinta. Ini adalah doktrin Al Harits Muhasibi, Junaid al Bagdhadi, sejumlah besar syeikh sufi, dan para ahli hukum dari aliran ini, dan kebanyakan kaum skolastik menganut pandangan yang sama. Mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi adalah"pujian yang diberikan kepada seseorang karena perbuatan baik"(Tsana-yi jamil barbanda), pujian Allah adalah perkataan-Nya(kalam), yang tidak diciptakan(bukan makhluk). Dan mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi merupakan "kebajikan", kebajikan-Nya terletak dalam tindakan-tindakan-Nya. Oleh karenannya, pandangan-pandangan yang berbeda itu pada hakikatnya berhubungan erat satu sama lain.
Cinta manusia kepada Allah merupakan suatu kualitas yang mengejawantahkan dalam hati orang beriman yang taat, dalam bentuk penghormatan dan pengagungan, sehingga ia berusaha memuaskan yang Dicintainya dan menjadi tidak sabar dan resah karena keinginannya untuk memandang-Nya, dan tidak bisa tenang dengan siapapun kecuali Dia, dan menjadi akrab dengan mengingat(dzikir) Dia, dan bertekad akan melupakan segala yang lain. Diam menjadi haram baginya, dan tenang lenyap darinya. Ia terputus dari semua kebiasaan dan hubungan-hubungan dengan sesamanya, dan menyangkal hawa nafsu, dan berpaling kepada istana cinta, dan tunduk kepada hukum cinta dan mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya. Tidaklah mungkin bahwa cinta manusia kepada Allah serupa dengan cinta makhluk-makhlukNya kepada sesamanya satu sama lain, karena yang pertama ialah keinginan untuk memahami dan mencapai obyek yang dicintai, sementara yang kedua adalah sifat tubuh. Para pencinta Tuhan adalah orang-orang yang mengabdikan diri mereka kepada kematian dalam kedekatan kepada-Nya, bukan orang-orang yang mencari watak(kayfiyyat)-Nya karena sang pencari tidak bersandar pada dirinya sendiri, namun ia yang mengabdikan dirinya pada kematian(mustahlik) bersandar pada Yang Dicintainya. Dan para pencinta yang paling sejati adalah mereka yang suka mti seperti itu dan terkuasai, karena wujud fenomenal tidak mempunyai cara untuk mendekati yang Qadim kecuali melalui kemahakuasaan Yang Qadim. Ia yang mengenal cinta sejati tak merasakan kesulitan-kesulitan lagi, dan semua keraguannya lenyap.
Selanjutnya cinta ada dua macam;
1. cinta terhadap yang sejenis yang merupakan suatu keinginan yang dirangsang oleh hawa nafsu dan yang mencari esensi obyek yang dicintainya melalui hubungan seksual,
2. cinta dari yang tidak serupa dengan obyek cintanya dan yang berusaha untuk menjadi terikat erat dengan suatu sifat obyek itu, misalnya mendengar tanpa kata-kata(suara) atau melihat tanpa mata.
Dan orang-orang beriman yang mencintai Tuhannya terdiri atas dua macam;
1. Orang-orang yang menghargai anugerah dan kebajikan Tuhan kepada mereka, dan mereka diarahkan oleh penghargaan itu untuk mencintai Yang Maha Bajik.
2. Orang-orang yang begitu dikuasai oleh cinta sehingga mereka memandang semua anugerah sebagai tabir(antara diri mereka dengan Allah), dan dengan memandang Yang Maha Bajik mereka dipimpin ke (kesadaran tentang) anugerah-anugerah-Nya. Cara yang terakhir inilah cara yang paling tinggi dan mulia.
Selasa, 13 Oktober 2009
CINTA DAN MASALAH-MASALAHNYA
Allah berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan sebagai pengganti suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya...."(QS. 5;54) dan Allah juga berfirman,"Diantara manusia ada yang mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, dan mencintai mereka seperti mencintai Allah.........."(QS. 2;165)
Rasulullah bersabda,"Aku mendengar Jibril mengatakan bahwa Allah berfirman,"Barang siapa menghina wali-wali-Ku, maka ia menyatakan perang terhadap-Ku. Aku tidak ragu-ragu dalam apapun, namun aku segan mencabut jiwa hamba-Ku yang beriman yang membenci kematian dan yang kepadanya Aku tidak suka menyiksa, tetapi ia tidak bisa lepas darinya. Dan tidak ada cara bagi hamba-Ku untuk mencari ridha-Ku yang lebih menyenangkan bagi-Ku dari pada pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang Aku letakkan kepadanya. Dan hamba-Ku yang terus menerus mencari ridha-Ku dengan amal-amal sunnah hingga aku mencintainya, dan bila mana Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan penolongnya."
Rasulullah juga bersabda,"Allah suka menjumpai orang-orang yang suka menjumpai-Nya, dan tidak suka menjumpai orang-orang yang tidak suka menjumpai-Nya." Dan sabda yang lain,"Apabila Allah mencintai seseorang, Dia mengatakan kepada Jibril,"Wahai Jibril Aku mencintai si fulan, maka begitu pula engkau hendaknya. Kemudian Jibril mencintainya dan mengatakan kepada penghuni langit, "Allah mencintai si fulan," dan mereka mencintainya. Kemudian Dia melimpahkan kepadanya ridhaNya dibumi, sehingga ia dicintai penduduk bumi. Dan sebagai mana itu terjadi pada cinta begitupu itu terjadi pada benci."
Mahabat (cinta), menurut riwayat, diturunkan dari kata hibbat, yang merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Sebutan hubb (cinta) diberikan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (hibb), karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih-benih merupakan asal mula tanaman. Karena, ketika benih-benih disebarkan di gurun pasir, mereka pun tersembunyi di bumi, dan hujan turun pada mereka dan matahari menyinari mereka dan dingin dan panas menyapu mereka, namun mereka tidak rusak oleh perubahan musim, tapi malah tumbuh dan berbunga dan memberikan buah. Demikian pula cinta, bilamana ia ada di hati, ia tidak rusak oleh kehadiran atau ketidakhadiran, oleh senang atau susah, oleh keterpisahan atau persatuan. Yang lain mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari yang berarti "sebuah tempayan yang penuh dengan air yang tenang", karena bilamana cinta berpadu di dalam hati dan memenuhi hati, di situ tak ada ruang lagi bagi pikiran tentang selain yang dicintai, sebagaimana Syibli mengatakan: "Cinta disebut mahabbat karena ia menghapus (tamhu) dari hati segala sesuatu kecuali yang dicintai. Yang lain lagi mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari hubb, yang artinya, "Empat keping kayu penyangga poci air, karena seorang pencinta dengan suka hati menerima apa saja yang dilakukan kekasihnya terhadapnya_penghormatan atau yang tidak berkenan dihati, susah atau senang, belaian kasih atau kekasaran". Menurut yang lainnya lagi, mahabbat diturunkan dari kata habb, jamak dari habbat, dan habbat adalah relung hati, di mana cinta bersemayam. Dalam hubungan ini, mahabbat disebut menurut tempat bersemayamnya, suatu prinsip yang banyak sekali contohnya dalam bahasa Arab. Yang lain menurunkannya dari habab, "gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya pada waktu hujan lebat," karena cinta adalah luapan hati yang merindukan persatuan dengan sang kekasih. Sebagaimana badan hidup karena ruh, begitu pula hati hidup karena cinta, dan cinta hidup karena melihat dan bersatu dengan sang kekasih. Yang lain juga menyatakan bahwa hubb adalah sebutan terhadap cinta murni, karena orang-orang Arab menyebut putih murni mata manusia habbat al-insan, seperti halnya mereka menyebut hitam murni (relung) hati habbat al-qalb. Yang terakhir ini tempat cinta, yang pertama pandangan (penglihatan). Oleh karena itu, hati dan mata adalah lawan-lawan dalam cinta, sebagaimana penyair mengatakan: "Hatiku iri pada mataku yang suka melihat. Dan mataku iri pada hatiku yang suka merenung."
KEUNGGULAN NABI DAN WALI ATAS MALAIKAT
Mayoritas kaum muslimin dan semua syaikh sufi sepakat bahwa nabi-nabi dan wali-wali yang terlindung dari dosa, lebih tinggi dari pada para malaikat. Pandangan yang berlawanan dikemukakan oleh kaum Mu'tazilah, yang menyatakan bahwa para malaikat lebih tinggi kedudukannya dari para nabi-nabi, lebih halus susunan wujudnya, dan lebih taat kepada Allah. Kami menjawab bahwa hal itu bukanlah seperti yang mereka bayangkan karena tubuh yang taat, peringkat yang tinggi, dan susunan wujud yang halus tidak bisa menjadi sebab-sebab keunggulan, yang hanya milik mereka yang telah dianugerahi hal itu oleh Allah. Iblis mempunyai kualitas-kualitas seperti yang mereka sebutkan, namun semua sependapat bahwa ia telah terkutuk. Keunggulan nabi-nabi ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Karena keadaan yang disujudi ini lebih tinggi dari pada yang bersujud. Jika mereka berpendapat bahwa karena mukmin sejati mengungguli ka'bah, meskipun dia bersembahyang dihadapannya, maka para malaikat mengungguli Adam meskipun mereka besujud di hadapannya, maka kami menjawab, tiada seorangpun yang mengatakan bahwa seorang mukmin bersujud kepada rumah atau altar atau dinding, tapi semua mengatakan bahwa dia bersujud kepada Allah, dan disepakati bahwa para malaikat bersujud kepada Adam. Lalu bagaimana bisa ka'bah di bandingkan dengan Adam? Seorang musafir bisa saja menyembah Allah diatas punggung binatang yang ia kendarai, dan ia dimaafkan jika mukanya tidak menghadap kepada ka'bah, dan dalam cara yang serupa, kalau ia kebingungan dan tidak bisa menentukan arah ka'bah, maka ia akan shalat menghadap kearah manapun yang ia anggap itu sebagai arah ka'bah. Malaikat tidak mengelak untuk bersujud kepada Adam, dan yang mengelak telah terkutuk. Ini adalah bukti yang kuat dan jelas bagi siapapun yang memiliki pengertian.
Malaikat sama dengan nabi dalam pengetahuan tentang Tuhan, tapi bukan dalam peringkat. Malaikat tidak mempunyai nafsu dan tidak berbuat buruk, tabiat mereka bersih dari kemunafikan dan kedurhakaan, dan mereka secara naluri taat kepada Allah, sementara hawa nafsu adalah rintangan dalam tabiat manusia, dan manusia lebih cenderung berbuat dan tergoda oleh kesia-siaan dunia ini, dan setan sedemikian menguasai badan mereka sehingga menyebar bersama darah dalam pembulu darah mereka, dan yang terikat dengan semua itu ialah hawa nafsu, yang mendorong mereka berbuat keji. Karena itu siapapun yang tabiatnya memiliki ciri ini dan meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya, menghindar dari kerusakan akhlak, dan sekalipun keinginan nafsu rendahnya menyangkal dunia ini, dan walaupun hatinya masih terpengaruh oleh setan, berpaling dari dosa dan memalingkan mukanya dari kerusakan hawa nafsu agar dapat beribadah dan bertaqwa dan mematikan hawa nafsunya dan menentang setan, orang semacam itu pada hakikatnya mengungguli malaikat yang tidak pernah terjun dalam pertempuran hawa nafsu, dan secara alamiah tidak mempunyai keinginan akan makanan, kesenangan-kesenangan, istri, anak dan keluarga.
Jibril yang memuja dan menyembah Allah beribu-ribu tahun lamanya dengan harapan memperoleh jubah kehormatan, dan kehormatan yang dianugrahkan kepadanya ialah bertindak sebagai pengawal Muhammad pada malam mi'raj, bagaimana ia akan menjadi unggul terhadap orang yang berdisiplin dan mematikan hawa nafsunya siang dan malam didunia ini, hingga Allah memandangnya dengan ridha dan menganugrahkan kepadanya kenikmatan melihat diri-Nya dan membebaskannya dari pikiran yang menyeleweng? Bilamana kebanggaan malaikat melampaui batas dan mereka membanggakan kesucian perilaku mereka dan berbicara dengan lisan yang tak terkendali dalam menghina manusia, Allah memutuskan akan memperlihatkan kepada mereka keadaan mereka yang sesungguhnya. Dengan demikian Dia menyuruh mereka memilih tiga diantara mereka yang mereka percaya untuk turun kebumi dan menjadi penguasa-penguasanya dan memperbaiki penduduknya. Maka tiga malaikat itupun terpilih, tapi sebelum mereka turun kebumi, salah satu diantara mereka memahami kerusakan bumi dan memohon kepada Allah agar memperkenankan untuk kembali. Ketika malaikat yang dua telah sampai dibumi, Allah merubah tabiat mereka sehingga mereka merasa ingin untuk makan dan minum dan mempunyai hawa nafsu, dan Allah menghukum mereka karena hal itu, dan malaikat-malaikat itu pun terpaksa mengakui keunggulan manusia terhadap diri mereka(lihat QS Al Baqarah; 103). Pendeknya orang-orang yang terpilih diantara kaum mukmin sejati lebih unggul dari pada malaikat pilihan, dan kaum mukmin biasa lebih unggul dari pada malaikat biasa. Karena itu orang-orang yang terpelihara (ma'shum) dan orang-orang yang terjaga (mahfuzh) lebih unggul dari pada Jibril dan Mikail. Dan orang-orang yang tidak terpelihara dan tidak terjaga seperti itu lebih baik dari pada malaikat penjaga (hafazha) dan malaikat pencatat yang mulia (kiram-i katibin).
Masalah ini telah dibicarakan oleh tiap-tiap syaikh. Allah menganugrahkan keunggulan kepada siapa yang Dia kehendaki, atas yang Dia kehendaki. Ketahuilah bahwa kewalian adalah suatu rahasia Ilahi yang hanya terungkap melalui perilaku (rawisy). Wali hanya diketahui oleh wali. Jika masalah ini bisa diterangkan kepada semua orang yang mau berfikir, tidak akan mungkin bisa membedakan kawan dari lawan atau ahli keruhanian dari orang yang mabuk dunia. Oleh karenanya, Allah menghendaki agar mutiara cinta-Nya dilecehkan orang dan dicampakkan dilaut penderitaan, supaya orang yang mencarinya bisa bertaruh nyawa karena kemuliaannya dan menyelam kedasar laut kematian ini, dimana mereka akan mencapai keinginan mereka, atau mengakhiri keadaan fana mereka.
Malaikat sama dengan nabi dalam pengetahuan tentang Tuhan, tapi bukan dalam peringkat. Malaikat tidak mempunyai nafsu dan tidak berbuat buruk, tabiat mereka bersih dari kemunafikan dan kedurhakaan, dan mereka secara naluri taat kepada Allah, sementara hawa nafsu adalah rintangan dalam tabiat manusia, dan manusia lebih cenderung berbuat dan tergoda oleh kesia-siaan dunia ini, dan setan sedemikian menguasai badan mereka sehingga menyebar bersama darah dalam pembulu darah mereka, dan yang terikat dengan semua itu ialah hawa nafsu, yang mendorong mereka berbuat keji. Karena itu siapapun yang tabiatnya memiliki ciri ini dan meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya, menghindar dari kerusakan akhlak, dan sekalipun keinginan nafsu rendahnya menyangkal dunia ini, dan walaupun hatinya masih terpengaruh oleh setan, berpaling dari dosa dan memalingkan mukanya dari kerusakan hawa nafsu agar dapat beribadah dan bertaqwa dan mematikan hawa nafsunya dan menentang setan, orang semacam itu pada hakikatnya mengungguli malaikat yang tidak pernah terjun dalam pertempuran hawa nafsu, dan secara alamiah tidak mempunyai keinginan akan makanan, kesenangan-kesenangan, istri, anak dan keluarga.
Jibril yang memuja dan menyembah Allah beribu-ribu tahun lamanya dengan harapan memperoleh jubah kehormatan, dan kehormatan yang dianugrahkan kepadanya ialah bertindak sebagai pengawal Muhammad pada malam mi'raj, bagaimana ia akan menjadi unggul terhadap orang yang berdisiplin dan mematikan hawa nafsunya siang dan malam didunia ini, hingga Allah memandangnya dengan ridha dan menganugrahkan kepadanya kenikmatan melihat diri-Nya dan membebaskannya dari pikiran yang menyeleweng? Bilamana kebanggaan malaikat melampaui batas dan mereka membanggakan kesucian perilaku mereka dan berbicara dengan lisan yang tak terkendali dalam menghina manusia, Allah memutuskan akan memperlihatkan kepada mereka keadaan mereka yang sesungguhnya. Dengan demikian Dia menyuruh mereka memilih tiga diantara mereka yang mereka percaya untuk turun kebumi dan menjadi penguasa-penguasanya dan memperbaiki penduduknya. Maka tiga malaikat itupun terpilih, tapi sebelum mereka turun kebumi, salah satu diantara mereka memahami kerusakan bumi dan memohon kepada Allah agar memperkenankan untuk kembali. Ketika malaikat yang dua telah sampai dibumi, Allah merubah tabiat mereka sehingga mereka merasa ingin untuk makan dan minum dan mempunyai hawa nafsu, dan Allah menghukum mereka karena hal itu, dan malaikat-malaikat itu pun terpaksa mengakui keunggulan manusia terhadap diri mereka(lihat QS Al Baqarah; 103). Pendeknya orang-orang yang terpilih diantara kaum mukmin sejati lebih unggul dari pada malaikat pilihan, dan kaum mukmin biasa lebih unggul dari pada malaikat biasa. Karena itu orang-orang yang terpelihara (ma'shum) dan orang-orang yang terjaga (mahfuzh) lebih unggul dari pada Jibril dan Mikail. Dan orang-orang yang tidak terpelihara dan tidak terjaga seperti itu lebih baik dari pada malaikat penjaga (hafazha) dan malaikat pencatat yang mulia (kiram-i katibin).
Masalah ini telah dibicarakan oleh tiap-tiap syaikh. Allah menganugrahkan keunggulan kepada siapa yang Dia kehendaki, atas yang Dia kehendaki. Ketahuilah bahwa kewalian adalah suatu rahasia Ilahi yang hanya terungkap melalui perilaku (rawisy). Wali hanya diketahui oleh wali. Jika masalah ini bisa diterangkan kepada semua orang yang mau berfikir, tidak akan mungkin bisa membedakan kawan dari lawan atau ahli keruhanian dari orang yang mabuk dunia. Oleh karenanya, Allah menghendaki agar mutiara cinta-Nya dilecehkan orang dan dicampakkan dilaut penderitaan, supaya orang yang mencarinya bisa bertaruh nyawa karena kemuliaannya dan menyelam kedasar laut kematian ini, dimana mereka akan mencapai keinginan mereka, atau mengakhiri keadaan fana mereka.
Kamis, 08 Oktober 2009
DI ANTARA MAKNA TAUHID: MENYUCIKAN SANG PENCIPTA DARI KEKURANGAN DAN MEMINTA AMPUNAN AKAN KEKURANGAN DIRI
Di dalam Al Quran,tauhid atau mengesakan Allah dan istigfar sering berbarengan,sebab dalam dua hal ini tersirat makna menyucikan sang khaliq dari kekurangan dan mengakui akan kekurangan diri dari makhluk.
Firman Allah SWT,"Tidak ada Allah (yang berhak disembah)selain Engkau,sesungguhnya aku adalah mahkluk termasuk orang-orang yang zhalim."(Qs.Al Anbiyaa'(21):87)
Ayat ini adalah sebuah pengakuan dan pernyataan akan keesaan-Nya,dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan cela. Kemudian juga sebuah pengakuan seorang hamba akan kezhalimannya terhadap dirinya sendiri dengan kesalahan dan dosa yang dia kerjakan.
Istighfar atau minta ampunan merupakan sebuah permintaan dan permintaan akan terwujud bila didahului dengan pujian dan sanjungan. Sebesar-besar dzat yang dimintai ampunannya adalah Allah SWT,dan sebesar-besar apa yang dipakai untuk memuji adalah pernyataan tauhid yang tulus, menyebut keesaan-Nya dalam rububiyah-Nya, ketuhanan-Nya , nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-nya. Maka, sebaik-baik pendahuluan adalah pujian yang agung.
Dalam sebuah hadist disebutkan"Doa yang paling utama adalah perkataan; Laa Ilaaha Illallah(tidak ada tuhan selain Allah)."
Sebagian sahabat bertanya bagaimana beliau menjadikan kalimat itu sebagai doa sedangkan itu adalah kalimat penetapan dan pengikraran? Beliau menjawab,"sesungguhnya orang yang memuji engkau pasti bermaksud meminta sesuatu kepadamu." Ini sebagaimana yang dikatakan oleh umayah bin Abi Ash-Shalt:
Apakah aku perlu menyebutkan keperluanku, ataukah cukup bagiku kedermawananmu sesungguhnya kedermawanan adalah ciri khasmu.
Allah SWT juga berfirman,"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu..."(Qs.Muhammad (47):19)
Allah SWT memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan, serta mendahulukan tauhid(pengesaan), yang mana itu adalah fondasi dasar. Lalu memerintahkan dengan beristighfar, yang mana itu adalah sebab tercapainya apa yang disukai dan tertolaknya apa yang dibenci.
Siapa yang mengetahui rahasia dua kalimat ini" Laa Illaaha Illallah dan Astaghfirullah", niscaya dia akan menyukainya dengan memperbanyak membacanya, selalu terpaut dengannya dan mengulang-ulanginya, serta memahami makna-maknanya. Dia juga akan menghabiskan waktunya antara pengakuan dengan keindahan dan pengikraran dengan kebaikan tuhannya SWT; Memuji-Nya, percaya dengan keesaan-Nya, mengakui kezhaliman diri dan sedikit bekal, buruknya yang didapat, dan tidak percaya dengan niatnya. Dia juga akan bersedih saat teringat kesalahan, sangat membenci diri sendiri dan mencelanya atas apa yang dia lakukan disisi Allah, dan atas banyaknya menyakahi perintah-perintah Allah. Saat itu pasti akan tercapai ampunan Allah, maaf dan ridha-Nya.
Tidak akan turun awan-awan keridhaan kecuali dengan ridhanya Dzat yang maha penyayang, meratap di hadapan-Nya, menyerahkan segala perkara kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Sangat diharuskan kepada hamba untuk menyucikan tauhid dengan bertaubat dan beristghfar.
Tidak ada keadaan yang paling bahagia daripada dapat selalu mengucapkan Laa Illallah Illallah dan Astaghfirullah.puncak kesempurnaan bagi Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah mengesakan-Nya dengan keesaan-Nya, dan kesempurnaan yang paling tinggi bagi hamba adalah mengakui kelemahan, ketidak-berdayaan, serta menyucikan diri dari dosa dan kesalahan.
Lihatlah bagaimana Allah mengumpulkan tauhid dan istighfar dalam kitab-Nya. Dia berfirman,"Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohon ampun kepada-Nya."(Qs.Fushshilat(41):6)
IstiQamah (meluruskan hati dan perbuatan) kepada-Nya yaitu mengesakan-Nya dalam rububiyah-Nya, ketuhanan-Nya, nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, serta meniadakan serupa, lawan, teman, dan tandingan bagi-Nya.
Sedangkan istighfar adalah memohon ampunan atas kesalahan, meminta maaf atas penyelewengan, membersihkan diri dari dosa, memohon maaf atas dosa yang telah lalu dan kelapangan atas apa yang terjadi.
Saat engkau mengumpulkan kalimat tauhid dan istighfar dalam Sayyidul Istighfar, seakan-akan engkau berkata:"Engkau ya Allah, Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Kaya, Yang Maha Kuat, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan, kemuliaan yang tidak akan sirna, keagungan yang tidak akan runtuh. Tidak ada sekutu bagi-Mu dalam kekuasaan dan tidak ada yang menyamai-Mu. Tidak ada bagi-Mu padanan dan kemiripan. Tidak ada tuhan selain Engkau, tidak ada pencipta selain Engkau, dan tidak ada bagi kami pelindung, penolong, pembantu, penjamin, pemberi kehidupan dan kematian, serta pemberi makanan dan rezeki selain Engkau. Aku adalah hamba yang fakir, berlumur dosa dan kesalahan, lalai, lemah dan tidak berdaya; tidak mempunyai tenaga tapi malah sering melakukan kesalahan, kejahatan yang besar, kurang pengetahuan, aniaya terhadap diri sendiri, jelek dalam perbuatan dan keterlaluan dalam berbuat maksiat.
Firman Allah SWT,"Tidak ada Allah (yang berhak disembah)selain Engkau,sesungguhnya aku adalah mahkluk termasuk orang-orang yang zhalim."(Qs.Al Anbiyaa'(21):87)
Ayat ini adalah sebuah pengakuan dan pernyataan akan keesaan-Nya,dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan cela. Kemudian juga sebuah pengakuan seorang hamba akan kezhalimannya terhadap dirinya sendiri dengan kesalahan dan dosa yang dia kerjakan.
Istighfar atau minta ampunan merupakan sebuah permintaan dan permintaan akan terwujud bila didahului dengan pujian dan sanjungan. Sebesar-besar dzat yang dimintai ampunannya adalah Allah SWT,dan sebesar-besar apa yang dipakai untuk memuji adalah pernyataan tauhid yang tulus, menyebut keesaan-Nya dalam rububiyah-Nya, ketuhanan-Nya , nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-nya. Maka, sebaik-baik pendahuluan adalah pujian yang agung.
Dalam sebuah hadist disebutkan"Doa yang paling utama adalah perkataan; Laa Ilaaha Illallah(tidak ada tuhan selain Allah)."
Sebagian sahabat bertanya bagaimana beliau menjadikan kalimat itu sebagai doa sedangkan itu adalah kalimat penetapan dan pengikraran? Beliau menjawab,"sesungguhnya orang yang memuji engkau pasti bermaksud meminta sesuatu kepadamu." Ini sebagaimana yang dikatakan oleh umayah bin Abi Ash-Shalt:
Apakah aku perlu menyebutkan keperluanku, ataukah cukup bagiku kedermawananmu sesungguhnya kedermawanan adalah ciri khasmu.
Allah SWT juga berfirman,"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu..."(Qs.Muhammad (47):19)
Allah SWT memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan, serta mendahulukan tauhid(pengesaan), yang mana itu adalah fondasi dasar. Lalu memerintahkan dengan beristighfar, yang mana itu adalah sebab tercapainya apa yang disukai dan tertolaknya apa yang dibenci.
Siapa yang mengetahui rahasia dua kalimat ini" Laa Illaaha Illallah dan Astaghfirullah", niscaya dia akan menyukainya dengan memperbanyak membacanya, selalu terpaut dengannya dan mengulang-ulanginya, serta memahami makna-maknanya. Dia juga akan menghabiskan waktunya antara pengakuan dengan keindahan dan pengikraran dengan kebaikan tuhannya SWT; Memuji-Nya, percaya dengan keesaan-Nya, mengakui kezhaliman diri dan sedikit bekal, buruknya yang didapat, dan tidak percaya dengan niatnya. Dia juga akan bersedih saat teringat kesalahan, sangat membenci diri sendiri dan mencelanya atas apa yang dia lakukan disisi Allah, dan atas banyaknya menyakahi perintah-perintah Allah. Saat itu pasti akan tercapai ampunan Allah, maaf dan ridha-Nya.
Tidak akan turun awan-awan keridhaan kecuali dengan ridhanya Dzat yang maha penyayang, meratap di hadapan-Nya, menyerahkan segala perkara kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Sangat diharuskan kepada hamba untuk menyucikan tauhid dengan bertaubat dan beristghfar.
Tidak ada keadaan yang paling bahagia daripada dapat selalu mengucapkan Laa Illallah Illallah dan Astaghfirullah.puncak kesempurnaan bagi Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah mengesakan-Nya dengan keesaan-Nya, dan kesempurnaan yang paling tinggi bagi hamba adalah mengakui kelemahan, ketidak-berdayaan, serta menyucikan diri dari dosa dan kesalahan.
Lihatlah bagaimana Allah mengumpulkan tauhid dan istighfar dalam kitab-Nya. Dia berfirman,"Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohon ampun kepada-Nya."(Qs.Fushshilat(41):6)
IstiQamah (meluruskan hati dan perbuatan) kepada-Nya yaitu mengesakan-Nya dalam rububiyah-Nya, ketuhanan-Nya, nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, serta meniadakan serupa, lawan, teman, dan tandingan bagi-Nya.
Sedangkan istighfar adalah memohon ampunan atas kesalahan, meminta maaf atas penyelewengan, membersihkan diri dari dosa, memohon maaf atas dosa yang telah lalu dan kelapangan atas apa yang terjadi.
Saat engkau mengumpulkan kalimat tauhid dan istighfar dalam Sayyidul Istighfar, seakan-akan engkau berkata:"Engkau ya Allah, Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Kaya, Yang Maha Kuat, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan, kemuliaan yang tidak akan sirna, keagungan yang tidak akan runtuh. Tidak ada sekutu bagi-Mu dalam kekuasaan dan tidak ada yang menyamai-Mu. Tidak ada bagi-Mu padanan dan kemiripan. Tidak ada tuhan selain Engkau, tidak ada pencipta selain Engkau, dan tidak ada bagi kami pelindung, penolong, pembantu, penjamin, pemberi kehidupan dan kematian, serta pemberi makanan dan rezeki selain Engkau. Aku adalah hamba yang fakir, berlumur dosa dan kesalahan, lalai, lemah dan tidak berdaya; tidak mempunyai tenaga tapi malah sering melakukan kesalahan, kejahatan yang besar, kurang pengetahuan, aniaya terhadap diri sendiri, jelek dalam perbuatan dan keterlaluan dalam berbuat maksiat.
Langganan:
Postingan (Atom)
