Israfil Al-Maghribi, semoga Allah mensucikan ruhnya, termasuk maha guru senior dunia shufi. Syaikh Abu Ismail Abdullah Al-Harawi mengatakan bahwa beliau termasuk guru dari Dzu Nun Al Mishri, berasal dari Maghrib dan menetap di Mesir. Beliau memiliki banyak aforisma dalam masalah Zuhud, tawakal dan cara berinteraksi.
Fath Ibn Syahraf Ibn Dawud Abu Nashr Al-Kisyi, seorang pengembara yang pada akhir hayatnya menetap di baghdad, pernah juga datang ke Mesir hanya untuk mengkonfirmasikan sebuah permasalahan. Ia bertanya kepada Israfil Al Maghribi, "Apakah orang-orang jahat akan di azab sebelum melakukan kecerobohan." Al Maghribi mengatakan, "Beri aku waktu tiga hari."
Pada hari keempat beliau memberikan jawaban, "Jika boleh memberikan gaji sebelum bekerja, maka boleh juga menyiksa seseorang sebelum melakukan kesalahan."
Tiba-tiba petir menyambar dan iapun meninggal setelah kejadian itu. Syaikh Abu Ismail Abdullah Al Harawi mengatakan, "Karena jawabannya terlambat tiga hari, maka meninggalnya pun di lambatkan. Jikalau ia menjawab pada hari itu, mungkin ia akan menjawab pada hari itu juga."
Ketuhanan berbeda dengan kehambaan. Allah swt telah membagi dan menentukan laku perbuatan makhluk sebelum penciptaannya. Maka manusiapun berada dalam otoritas hukum dan kehendak-Nya. Seorang manusia tidak berbuat kecuali perbuatan-Nya. Allah berbuat apa saja terserah kehendak-Nya dan menghukumi sesuai keinginan-Nya. Dia memiliki hukum dan Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil yang tidak bisa dan tidak boleh di pertanyakan lagi apa yang Dia perbuat. Laku bijak tidak sepi dari hikmah. Dia mengetahui bagian demi bagian dari amal perbuatan, akan tetapi tiada seorangpun mengetahui pada siapa perhatian-Nya itu tertumpah.
Tampilkan postingan dengan label SHUFIKLOPEDIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SHUFIKLOPEDIA. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Desember 2011
Dzun-Nun al-Mishri
Dzun-Nun Al-Mishri (w.245 H) ialah seorang sufi besar dari Mesir, Dia seorang ahli kimia dan fisika dan dia juga seorang sufi yang pertama kali menganalisis ma’rifah secara konsepsional. Nama Dzun-Nun mempunyai makana tersendiri, yaitu arti dari namanya adalah ”seseorang yang mempunyai huruf Nun dari mesir”. Huruf Nun ini mempunyai makna tersendiri pula bahwa huruf Nun adalah sebuah simbol yang mempunyai makna spiritual power. Huruf Nun dimaknai sebagai relasi antara Tuhan dan hambanya, dimana huruf Nun ini mempunyai sebuah titik ditengah dan garis yang melingkarinya. Simbol tersebut dimaknai sebagai sebuah roda kehidupan yang mempunyai titik tujuan sebagai asal, awal dan titik sentral dari kehidupan.
Kaum sufi juga memaknai simbol ini sebagai simbol kesadaran dalam kehidupannya. Begitu pula dengan Dzun-Nun Al-Mishri, dia mengetahui dan sadar akan makna dari simbol yang dimilikinya apalagi sebagai nama dari dirinya sendiri. Yang kemudian makna dari namanya itu membawayanya serta mendorongnya untuk menjadi seorang sufi yang ikhlas dan tunduk kepada Allah. Dia sadar bahwasanya setiap kehidupannya akan berawal dan berujung kepada sebuah titik sentral, yaitu sebuah titik sentral pada huruf Nun tersebut, dan titik sentral itu dimaknai sebagai Allah SWT. Yang dimana titik sentral tersebut adalah yang awal dan yang akhir. Sebagaimana firman Allah SWT :
“huwa al-awwalu waal-aakhiru waalzhzhaahiru waalbaathinu wahuwa bikulli syay-in 'aliimun”
Artinya : Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadiid : 3 ).
Jadi bisa kita sebut bahwa makna ayat tersebut sangat erat hubungannya dengan huruf Nun yang menjadi sebuah simbol sebagai sentral dari kehidupan, dan titik sentral tersebut adalah sesuatu yang yang awal dan yang akhir. Selain itu huruf Nun juga mempunyai makna yang sangat besar, sampai-sampai Allah-pun bersumpah setelah mengatakan huruf Nun ini. dalam firman Allah :
“nuun waalqalami wamaa yasthuruuna”
Artinya : “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”, (QS. Al-Qalam (Kalam) : 1)
Dari uarian diatas, maka kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwasanya sebuah nama itu mempunyai sebuah arti dalam perjalanan hidup kita. Begitu pula dengan Dzun-Nun Al-Mishri yang tidak semena-mena dalam pemberian nama akan tetapi dia menjadi seorang sufi yang yang sangat dikagumi dimasanya. Dan itulah yang hanya dapat penulis sampaikan tentang seorang yang bernama Dzun-Nun Al-Misri.
Konsep Ma’rifah Dzun-Nun Al-Mishri
Setelah memaparkan sekelumit makna dari nama Dzun-Nun Al-Mishri, maka dibawah ini penulis akan menyampaikan sedikit tentang konsep ma’rifah Dzun-Nun Al-Mishri. Konsep ma’rifah Dzun-Nun tidak bisa lepas dengan makna yang ia dapati dari namanya itu karena namanya itu menunjukkan sebuah kepemilikan dan penguasaan terhadap makna dari huruf tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa huruf Nun yang menjadi sentral kehidupan di dunia ini, maka untuk mencapai sentral tersebut manusia juga harus memakai sentral dari diri manusia untuk bertemu dengan sentral kehidupan ini.
Sentral yang disebut diatas adalah Qalbu, dimana qalbu ini adalah sentral dari manusia dan untuk bertemu dengan sentral yang hakiki maka manusia harus mengoptimalkan sentralnya supaya sampai kepada sentral yang hakiki. Mengapa Qalbu atau hati disebut sebagai sebuah sentral, karena pada qalbu ini berkumpul seluruh kelakuan dan tindakan manusia. Maka menurut Dzun-Nun yang biasa dilakukan oleh hati tersebut adalah : emosi, dekat, shahabat, cinta, mengenal, penyingkapan, menyaksikan, al-ittihad, al-hulul, wahdatul wujud, dan wujudiyah. Ada sebuah perbedaan pengertian yang dimaksud oleh Dzun-Nun dengan penyingkapan, perbedaan ini dibagi kepada tiga bagian, yaitu : al-Mukasyafah, inkisyaf, dan al-kasy-syaf. Yang dimaksud dengan al-Mukasyafah adalah saling keterbukaan dimana seorang hamba yang meminta dan Allah yang memberi; inkisyaf, adalah penyingkapan atau keterbukaan Allah sebagai karunia kepada hambanya dan seorang hamba hanya menerima saja, tidak dengan meminta. Dimana pada bagian ini keterbukaan hanya diartikan sebagai karunia Allah dan manusia tidak meminta untuk keterbukaan tersebut; al-kasysyaf, pada hal ini tidak menggambarkan proses tentang bagaimana keterbukaannya akan tetapi adanya sebuah pengalaman keterbukaan.
Pada penjelasan diatas disebutkan bahwasanya sentral kehidupan hanya bisa dirasakan oleh sentral manusia, yaitu dimana hati manusia bisa merasakan keterbukaan dengan Allah hanya dengan penglihatan hati yang menjadi sentral kehidupan manusia. Menurut Dzun-Nun hati juga tidak serta merta bisa melihat Allah karena hati yang paling dalamlah yang bisa sampai melihat kepada Allah SWT. Sebelum kita langsung kepada hati yang dalam, maka akan disebutkan beberapa lapisan hati yang harus dilalui seseorang sebelum bisa ma’rifah kepada Allah SWT.
Dan lapisan-lapisan tersebut adalah : as-Suduur, al-Quluub, adh-Dhamaair, al-Fuwaaid, as-sir, sir al-asraar, dan Basyirah. Yang dimaksud dengan as-suduur hati yang paling luar, pada fase ini hati mengalami penyempitan dan perluasan, dia tidak bisa konsisten dalam pendiriannya masih tergoncang dan belum istiqamah. Setelah lulus atau berhasil dalam tahapan ini, maka akan masuk lebih dalam lagi kepada tahapah yang kedua, yaitu al-Quluub. Setelah masuk kepada tahapan ini, maka hati seseorang tersebut akan kokoh dan lebih istiqamah dalam pendiriannya. Selain itu orang yang sudah sampai pada tahap ini maka dia akan merasakan ketenangan dalam hatinya. Kemudian setelah lapisan kedua ini berhasil dan tetap konsisten dengan keduanya, yaitu tahap pertama dan kedua. Maka tahap selanjutnya adalah adh-Dhomaair, yaitu dimana bagian ini juga disebut sebagai bagian terdalam pada tahapan qalbu. Dia menyimpan dan menempatkan cahaya qalbu, kalau dia sudah sampai pada tahap ini, maka dia akan memiliki kepekaan atau biasa disebut dengan indera keenam. Setelah tahap ini maka selanjutnya adalah al-Fuwaaid, pada tahapan ini orang sudah separuh perjalanan untuk menggapai puncak ma’rifah. Jika seseorang sudah sampai tingkatan ini maka orang tersebut tidak akan bisa dibohongi atas apa yang dia lihat atau rasakan. Kemudian tahap selanjutnya as-Sir dan Sir al-Asraar, tahapan ini adalah tahapan yang hampir mendekati kesempurnaan dan mencapai ma’rifah. Tahapan ini adalah proses untuk mempersiapkan diri kepada tahapan akhir, Maka tahapan terakhir, yaitu ketika setiap tahapan tetap terjaga dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya, maka sampailah pada tahapan Basyirah, yaitu tahapan akhir yang bisa menyampaikan manusia untuk bisa melihat dan merasakan Allah SWT. Dan hal ini disebut dengan ma’rifah.
Menurut Dzun-Nun ma’rifah itu bisa diklasifikasikan kepada tiga bagian, yaitu : pertama, ma’rifah tauhid sebagai ma’rifahnya orang awam. Kedua, al-burhan wa al-istidlal yang merupakan ma’rifahnya Mutakallimin dan para Filosof, yaitu pengetahuan tentang Tuhan melalui pemikiran dan pembuktian akal. dan ketiga, ma’rifah para wali, yaitu pengetahuan dan pengenalan tentang Tuhan melalui sifat dan ke-Esaan Tuhan. Dengan demikian, apabila dilihat dari sisi epistimologi, ada tiga metoda ma’rifah yang berbeda, yakni metoda transmisi, metoda akal budi, dan metoda ketersingkapan langsung. Ma’rifah awam lebih bersifat penerimaan dan kepatuhan semata tanpa dibarengi argumentasi, sedangkan ma’rifah Mutakallimin dan filosof adalah pemahaman yang sifatnya rasional melalui berfikir spekulatif. Lain halnya dengan ma’rifah para sufi atau aulia, adalah penangkapan dan penghayatan langsung terhadap obyek sehingga ia merasakan dan melihat obyek itu. Dan disini Dzun-Nun menegaskan bahwasanya ma’rifah itu sepenuhnya adalah karunia dan pemberian Allah SWT.
Jadi kesimpulan menurut Dzun-Nun bahwasanya kalau kita ingin sampai pada tingkat ma’rifah, maka kita harus melaluinya setahap demi setahap dan dilakukan dengan kesungguhan dan keseriusan. Dan dia juga mengatakan bahwasanya adanya perbedaan ma’rifah kepada Allah yang disebabkan oleh kemampuan dan kesadaran dia sebagai makhluk. Ma’rifah juga sepenuhnya diberikan oleh Allah SWT atas karunianya dan kasih sayangnya. Maka seorang hamba tidak akan sampai pada tingkat ma’rifah tanpa usaha dan anugrah serta karunia Allah SWT.
Abu Hasyim Ash-Shufi
Abu Hasyim Ash-Shufi, semoga ALLAH mensucikan ruhnya, bernama lengkap ‘Utsman Ibn Syarik adalah seorang maha guru sufi di Syam. Ia berasal dari Kufahdan hidup sezaman dengan Sufyan Ats-Tsawri [97-161]1.
Mengenai karibnya ini, Sufyan mengenang, “Andai taka ada Abu Hasyim niscaya tak aku ketahui seluk-beluk riya”2.Katanya lagi,”Aku belum bias mengetahui hakikat makna Sufi sampai aku melihat sendiri Abu Hasyim Ash-Shufi”.
Abu Hasyim Ash-Shufi adalah orang yang disebut dengan gelar Sufi, dan belum ada orang sebelumnya yang diberi sebutan demikian. Paling tinggi, generasi sebelumnya hanya disebut ahli zuhud, Wira’i, ahli tawakal dan pencinta ALLAH.
Begitu juga, khanaqah (tempat tinggal kaum) Sufi pertama yang dibangun adalah khanaqah yang disediakan untuk Abu Hasyim, terletak di Ramalah, Syam {sekarang masuk wilayahnPalestina].
Alkisah, pada suatu hari Penguasa Ramalah, kebetulan beragama Yahudi, keluar istana untuk berburu. Ditengah perburuan, ia melihat dua orang laki-laki yang saling bertemu, lalu menjabat tangan dan saling merangkul. Keduanya duduk dan saling mengeluarkan bekal masing-masing, kemudian makan bersama-sama dan berpisah. Si Yahudi itu begitu terpesona akan pemandangan itu. Ia panggil salah satunya yang kebetulan Abu Hasyim lalu iya tanyakan perihal tentang sahabatnya barusan.
Abu Hasyim menjawab, ” Saya tidak mengenalnya!”
“Apakah ada kekerabatan antara kalian berdua?” Tanya si Yahudi penasaran
“Tidak”.
“Lalu darimana dia?’
“Tidah tahu.”
“Lanatas kekerabatan, cinta kasih dan kedekatan apa yang menjalin kalian berdua?” Tanya si Yahudi tak habi piker.
“Ini adalah tarekat dan tradisi kami jika kami melihat seseorang dari jenis kami,”jelas Abu Hasyim.
“Apa kalian memiliki tempat atau lokasi tertentu untuk tempat berkumpul dan istirahat?”
“Tidak!”
“(Kalau begitu) akan ku bangun sebuah rumah untuk Anda di ramalah sehingga kita bias saling berkumpul bersama disana!” titah sang penguasa Yahudi itu.
Benar, si Yahudi langsung membangun sebuah rumah di Ramalah, lantas menamainya Khanaqah.
Syaikh Al-Islam, semoga allah mensucikan ruhnya, mengomentari rumah ini dalam bait sajak:
(Ia adalah)
Sajak lain:
Ia adalah tonggak, tembok dan rumah
* * *
Abu Hasyim berkata: “Membongkar gunung dengan jarum lebih mudah dari pada mengeluarkan kesombongan dari dalam hati.”
* * *
Pada suatui pagi, Abu Hasyim melihat Surayh al-Qadli3 [w. 179], alias Abu’Abd Allah an-Nakha’I al-Kufi, keluar dari rumah Yahya Ibn Khalid al-Barmaki4 .ia pun langsung menangis sembari berdoa, “Aku berlindung pada ALLAH dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
* * *
Aforisma lain dari Abu Hasyim, “Khidmat seseorang terhadap dirinya untuk berperilaku mulia adalah pelajaran bagi keluarganya.:
* * *
Manshur Ibn ‘Ammar al-Dimsyaki mengisahkan:
(Suatu kali) Abu Hasyim sakit meradang ajal, saya tanyakan kepadaya,”Bagaimana kau dapati diri anda?” Ia menjawab,”Aku melihat bencana besar! Akan tetapi cinyanya lebih besar daripada bencana (yang ditimpanya).”Artinya, seberat apa pun sebuah bencana, ia terasa ringan di sisi cinta kasihnya.
Dengan bahasa lain, Syaikh Al-Islam menyatakan:”Jikalau bencana itu sebesar hawa nafsu, maka apa artinya hawa nafsu.”[]
Tempat tinggal yang diatasnya
Terdapat jejak–jejak kekasih
Tempat tinggal terbaik
Yang ditempati pemilik rumah terbaik
Dan semoga selamanya
Allah memberikan tawfik yang terbaik
Untuk orang-orang terbaik
Langganan:
Postingan (Atom)


