Mayoritas kaum muslimin dan semua syaikh sufi sepakat bahwa nabi-nabi dan wali-wali yang terlindung dari dosa, lebih tinggi dari pada para malaikat. Pandangan yang berlawanan dikemukakan oleh kaum Mu'tazilah, yang menyatakan bahwa para malaikat lebih tinggi kedudukannya dari para nabi-nabi, lebih halus susunan wujudnya, dan lebih taat kepada Allah. Kami menjawab bahwa hal itu bukanlah seperti yang mereka bayangkan karena tubuh yang taat, peringkat yang tinggi, dan susunan wujud yang halus tidak bisa menjadi sebab-sebab keunggulan, yang hanya milik mereka yang telah dianugerahi hal itu oleh Allah. Iblis mempunyai kualitas-kualitas seperti yang mereka sebutkan, namun semua sependapat bahwa ia telah terkutuk. Keunggulan nabi-nabi ditunjukkan oleh fakta bahwa Allah telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Karena keadaan yang disujudi ini lebih tinggi dari pada yang bersujud. Jika mereka berpendapat bahwa karena mukmin sejati mengungguli ka'bah, meskipun dia bersembahyang dihadapannya, maka para malaikat mengungguli Adam meskipun mereka besujud di hadapannya, maka kami menjawab, tiada seorangpun yang mengatakan bahwa seorang mukmin bersujud kepada rumah atau altar atau dinding, tapi semua mengatakan bahwa dia bersujud kepada Allah, dan disepakati bahwa para malaikat bersujud kepada Adam. Lalu bagaimana bisa ka'bah di bandingkan dengan Adam? Seorang musafir bisa saja menyembah Allah diatas punggung binatang yang ia kendarai, dan ia dimaafkan jika mukanya tidak menghadap kepada ka'bah, dan dalam cara yang serupa, kalau ia kebingungan dan tidak bisa menentukan arah ka'bah, maka ia akan shalat menghadap kearah manapun yang ia anggap itu sebagai arah ka'bah. Malaikat tidak mengelak untuk bersujud kepada Adam, dan yang mengelak telah terkutuk. Ini adalah bukti yang kuat dan jelas bagi siapapun yang memiliki pengertian.
Malaikat sama dengan nabi dalam pengetahuan tentang Tuhan, tapi bukan dalam peringkat. Malaikat tidak mempunyai nafsu dan tidak berbuat buruk, tabiat mereka bersih dari kemunafikan dan kedurhakaan, dan mereka secara naluri taat kepada Allah, sementara hawa nafsu adalah rintangan dalam tabiat manusia, dan manusia lebih cenderung berbuat dan tergoda oleh kesia-siaan dunia ini, dan setan sedemikian menguasai badan mereka sehingga menyebar bersama darah dalam pembulu darah mereka, dan yang terikat dengan semua itu ialah hawa nafsu, yang mendorong mereka berbuat keji. Karena itu siapapun yang tabiatnya memiliki ciri ini dan meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya, menghindar dari kerusakan akhlak, dan sekalipun keinginan nafsu rendahnya menyangkal dunia ini, dan walaupun hatinya masih terpengaruh oleh setan, berpaling dari dosa dan memalingkan mukanya dari kerusakan hawa nafsu agar dapat beribadah dan bertaqwa dan mematikan hawa nafsunya dan menentang setan, orang semacam itu pada hakikatnya mengungguli malaikat yang tidak pernah terjun dalam pertempuran hawa nafsu, dan secara alamiah tidak mempunyai keinginan akan makanan, kesenangan-kesenangan, istri, anak dan keluarga.
Jibril yang memuja dan menyembah Allah beribu-ribu tahun lamanya dengan harapan memperoleh jubah kehormatan, dan kehormatan yang dianugrahkan kepadanya ialah bertindak sebagai pengawal Muhammad pada malam mi'raj, bagaimana ia akan menjadi unggul terhadap orang yang berdisiplin dan mematikan hawa nafsunya siang dan malam didunia ini, hingga Allah memandangnya dengan ridha dan menganugrahkan kepadanya kenikmatan melihat diri-Nya dan membebaskannya dari pikiran yang menyeleweng? Bilamana kebanggaan malaikat melampaui batas dan mereka membanggakan kesucian perilaku mereka dan berbicara dengan lisan yang tak terkendali dalam menghina manusia, Allah memutuskan akan memperlihatkan kepada mereka keadaan mereka yang sesungguhnya. Dengan demikian Dia menyuruh mereka memilih tiga diantara mereka yang mereka percaya untuk turun kebumi dan menjadi penguasa-penguasanya dan memperbaiki penduduknya. Maka tiga malaikat itupun terpilih, tapi sebelum mereka turun kebumi, salah satu diantara mereka memahami kerusakan bumi dan memohon kepada Allah agar memperkenankan untuk kembali. Ketika malaikat yang dua telah sampai dibumi, Allah merubah tabiat mereka sehingga mereka merasa ingin untuk makan dan minum dan mempunyai hawa nafsu, dan Allah menghukum mereka karena hal itu, dan malaikat-malaikat itu pun terpaksa mengakui keunggulan manusia terhadap diri mereka(lihat QS Al Baqarah; 103). Pendeknya orang-orang yang terpilih diantara kaum mukmin sejati lebih unggul dari pada malaikat pilihan, dan kaum mukmin biasa lebih unggul dari pada malaikat biasa. Karena itu orang-orang yang terpelihara (ma'shum) dan orang-orang yang terjaga (mahfuzh) lebih unggul dari pada Jibril dan Mikail. Dan orang-orang yang tidak terpelihara dan tidak terjaga seperti itu lebih baik dari pada malaikat penjaga (hafazha) dan malaikat pencatat yang mulia (kiram-i katibin).
Masalah ini telah dibicarakan oleh tiap-tiap syaikh. Allah menganugrahkan keunggulan kepada siapa yang Dia kehendaki, atas yang Dia kehendaki. Ketahuilah bahwa kewalian adalah suatu rahasia Ilahi yang hanya terungkap melalui perilaku (rawisy). Wali hanya diketahui oleh wali. Jika masalah ini bisa diterangkan kepada semua orang yang mau berfikir, tidak akan mungkin bisa membedakan kawan dari lawan atau ahli keruhanian dari orang yang mabuk dunia. Oleh karenanya, Allah menghendaki agar mutiara cinta-Nya dilecehkan orang dan dicampakkan dilaut penderitaan, supaya orang yang mencarinya bisa bertaruh nyawa karena kemuliaannya dan menyelam kedasar laut kematian ini, dimana mereka akan mencapai keinginan mereka, atau mengakhiri keadaan fana mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar