Selasa, 13 Oktober 2009
CINTA DAN MASALAH-MASALAHNYA
Allah berfirman,"Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan sebagai pengganti suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya...."(QS. 5;54) dan Allah juga berfirman,"Diantara manusia ada yang mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, dan mencintai mereka seperti mencintai Allah.........."(QS. 2;165)
Rasulullah bersabda,"Aku mendengar Jibril mengatakan bahwa Allah berfirman,"Barang siapa menghina wali-wali-Ku, maka ia menyatakan perang terhadap-Ku. Aku tidak ragu-ragu dalam apapun, namun aku segan mencabut jiwa hamba-Ku yang beriman yang membenci kematian dan yang kepadanya Aku tidak suka menyiksa, tetapi ia tidak bisa lepas darinya. Dan tidak ada cara bagi hamba-Ku untuk mencari ridha-Ku yang lebih menyenangkan bagi-Ku dari pada pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang Aku letakkan kepadanya. Dan hamba-Ku yang terus menerus mencari ridha-Ku dengan amal-amal sunnah hingga aku mencintainya, dan bila mana Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan penolongnya."
Rasulullah juga bersabda,"Allah suka menjumpai orang-orang yang suka menjumpai-Nya, dan tidak suka menjumpai orang-orang yang tidak suka menjumpai-Nya." Dan sabda yang lain,"Apabila Allah mencintai seseorang, Dia mengatakan kepada Jibril,"Wahai Jibril Aku mencintai si fulan, maka begitu pula engkau hendaknya. Kemudian Jibril mencintainya dan mengatakan kepada penghuni langit, "Allah mencintai si fulan," dan mereka mencintainya. Kemudian Dia melimpahkan kepadanya ridhaNya dibumi, sehingga ia dicintai penduduk bumi. Dan sebagai mana itu terjadi pada cinta begitupu itu terjadi pada benci."
Mahabat (cinta), menurut riwayat, diturunkan dari kata hibbat, yang merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Sebutan hubb (cinta) diberikan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (hibb), karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih-benih merupakan asal mula tanaman. Karena, ketika benih-benih disebarkan di gurun pasir, mereka pun tersembunyi di bumi, dan hujan turun pada mereka dan matahari menyinari mereka dan dingin dan panas menyapu mereka, namun mereka tidak rusak oleh perubahan musim, tapi malah tumbuh dan berbunga dan memberikan buah. Demikian pula cinta, bilamana ia ada di hati, ia tidak rusak oleh kehadiran atau ketidakhadiran, oleh senang atau susah, oleh keterpisahan atau persatuan. Yang lain mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari yang berarti "sebuah tempayan yang penuh dengan air yang tenang", karena bilamana cinta berpadu di dalam hati dan memenuhi hati, di situ tak ada ruang lagi bagi pikiran tentang selain yang dicintai, sebagaimana Syibli mengatakan: "Cinta disebut mahabbat karena ia menghapus (tamhu) dari hati segala sesuatu kecuali yang dicintai. Yang lain lagi mengatakan bahwa mahabbat diturunkan dari hubb, yang artinya, "Empat keping kayu penyangga poci air, karena seorang pencinta dengan suka hati menerima apa saja yang dilakukan kekasihnya terhadapnya_penghormatan atau yang tidak berkenan dihati, susah atau senang, belaian kasih atau kekasaran". Menurut yang lainnya lagi, mahabbat diturunkan dari kata habb, jamak dari habbat, dan habbat adalah relung hati, di mana cinta bersemayam. Dalam hubungan ini, mahabbat disebut menurut tempat bersemayamnya, suatu prinsip yang banyak sekali contohnya dalam bahasa Arab. Yang lain menurunkannya dari habab, "gelembung-gelembung air dan luapan-luapannya pada waktu hujan lebat," karena cinta adalah luapan hati yang merindukan persatuan dengan sang kekasih. Sebagaimana badan hidup karena ruh, begitu pula hati hidup karena cinta, dan cinta hidup karena melihat dan bersatu dengan sang kekasih. Yang lain juga menyatakan bahwa hubb adalah sebutan terhadap cinta murni, karena orang-orang Arab menyebut putih murni mata manusia habbat al-insan, seperti halnya mereka menyebut hitam murni (relung) hati habbat al-qalb. Yang terakhir ini tempat cinta, yang pertama pandangan (penglihatan). Oleh karena itu, hati dan mata adalah lawan-lawan dalam cinta, sebagaimana penyair mengatakan: "Hatiku iri pada mataku yang suka melihat. Dan mataku iri pada hatiku yang suka merenung."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
q setuju b9999999999t cz CINTA SEJATI TU DI DALAM HATI..................
Dengan cinta pula Dia membimbingku kejalan-Nya...........
Posting Komentar