Ujian dan cobaan adalah sebuah keharusan, terutama bagi orang-orang yang suka mengaku-aku. Jika tidak ada mekanisme ujian dan cobaan, maka akan banyak sekali manuasia yang mengaku dan mengkalim kewalian dirinya. Karena itulah seorang saleh menuturkan;"Kewalian dipresentasikan dengan bala cobaan agar ia tidak mudah mengaku-aku." Termasuk tanda kewalian adalah kesabarannya menghadapi gangguan manusia dan memaafkan mereka. Para wali membutakan dirinya dari pemandangan yang mereka lihat pada manusia serta menulikan diri dari mendengar mereka, bahkan mereka juga memberikan hiasan-hiasan duniawi mereka pada manusia, sebab menurut mereka kecintaan pada sesuatu akan membuatmu buta dan tuli.
Para wali sangat mencintai Allah 'Azza wa Jalla, sehingga mereka buta dan tuli pada selainNya. Mereka mengajak bicara manusia dengan tutur kata yang halus, lembut, diselipi bumbu humor, namun kadang mereka marah karena semangatnya terhadap Allah dalam rangka menyetujui kemurkaanNya. Mereka adalah dokter yang tahu persis bahwa setiap penyakit memiliki terapi pengobatan sendiri-sendiri. Seorang dokter tidak mungkin mengobati setiap pasien dengan satu jenis obat. Dari sisi esensi dan hati, para wali ini berada dihadapan al-Haqq 'Azza wa Jalla sebagaimana Ashhab al-Kahf yang dibolak-balik oleh Jibril AS, juga oleh tangan qudrah, rahmat, dan kelembutan. Tangan cinta juga membolak-balik hati mereka dan mentransformasikannya dari satu hal ke hal yang lain.
Mereka menyerahkan dunia pada pencari dunia, dan menyerahkan akhirat pada pencari akhirat. Mereka hanya memilih dan mencari Tuhan mereka 'Azza wa Jalla. Mereka tak pernah kikir dengan apapun. Jika ada yang meminta dunia pada mereka, dan kebetulan mereka memilikinya, maka mereka akan memberikannya, bahkan jika ada yang meminta pahala akhiratnya, merekapun akan memberikannya. Mereka memberikan dunia pada kaum fakir dan pahala akhirat mereka berikan pada orang yang kurang berhasil(muqshirin) dalam mencarinya. Mereka tinggalkan yang baru (al-muhdats) pada yang baru, dan lebih memilih Yang Maha Memperbarui bagi mereka. Mereka menghibahkan kulit, sebab segala selain Al-Haqq adalah kulit, sedangkan pencarian dan kedekatan denganNya adalah merupakan isi.
Seorang saleh diantara mereka menuturkan, "tidak tertawa dihadapan orang fasik kecuali orang arif" Benar, ketika harus menyerukan perintah dan melarang, sekaligus berani menanggung resiko gangguan dari orang fasik, maka tidak ada yang kuat mengemban fungsi ini kecuali orang-orang arif yang telah mengenal Allah 'Azza wa Jalla. Sementara para ahli zuhud, ahli ibadah jelas tidak akan mampu. Bagaimana mereka tidak mengasihi para durjana pemaksiat, sementara mereka adalah tempat rahmat, maqam taubat dan pembelaan diri.
Orang arif mempresentasikan sebagian akhlak dan moralitas al Haqq 'Azza wa Jalla, karena itu ia berusaha keras untuk membebaskan si pemaksiat dari tangan setan dan hawa nafsu. Semua makhluk tanpa pandang bulu adalah seperti anak-anak mereka sendiri. Pada mulanya ia berkomunikasi dengan manusia menggunakan bahasa hukum, baru kemudian ia mengasihi mereka, karena mengetahui mereka mengunakan teropong ilmu. Orang arif dapat mengetahui perbuatan Allah atas mereka. Ia juga bisa melihat keluarnya qadha dan takdir dari pintu hukum dan ilmu. Hanya ia menyembuyikan ini sebagai rahasia yang tidak boleh disampaikan kepada manusia dan tetap berkomunikasi pada mereka dengan bahasa hukum, bukan dengan bahasa ilmu yang merupakan rahasia.
Allah mengutus para Rasul dalam rangka membangun basis argumentasi atas manusia dan ilmuNya dalam diri mereka. Janganlah coba-coba mengintervensi dan menentang qadha dan takdirNya, sebab didalamnya ada mekanisme ketidakteraturan, sementara ilmuNya memiliki ketetapan yang tidak bisa diubah. Dia membutuhkan hukum bersama bagimu dan bagi selainmu, sedang engkau membutuhkan ilmu khusus yang semata diperuntukkan untukmu. Ketika salah seorang dari kalian beramal dengan teori ilmu lahir, maka Rasul akan menyuapinya dengan ilmu batin seperti seekor burung menyuapi anak-anaknya dengan paruhnya. Nabi melakukan ini bersama umatnya agar umatnya tetap membenarkan dan mengamalkan qaul syariatnya, sebab betapapun lurus anak Adam, ia tetap tidak akan sesahih Rasulullah. Begitu juga semurni apapun ia, tetap tidak akan semurni Rasulullah, dan sedekat apapun ia tetap tak akan sedekat Rasulullah.
1 komentar:
piye ki mas . . . . . aku sampek ora iso omong . . . . . ! aku saiki yo lagi piye . . .. . . . weroh tapi ora iso weroh, dadi yo kudu di piye . . . . . . . .
Posting Komentar