Ketahuilah bahwa kefakiran menduduki derajat yang tinggi dijalan kebenaran, dan bahwa orang fakir amat dihargai sebagai mana Allah berfirman;
"(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang tetap berjuang dijalan Allah dan tidak dapat berikhtiar dimuka bumi, orang tidak tahu menyangka mereka kaya, karena mereka menahan diri dari meminta-minta" (QS. Al Baqarah; 273)
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sementara mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan berharap, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka" (QS. As Sajadah; 16).
Pun demikian Rasulullah memilih kefakiran dan berkata; "Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kefakiran dan matikanlah dalam kefakiran, dan bangkitkan dari mati di antara yang fakir!" Dan beliau juga berkata: "Pada Hari Kebangkitan, Tuhan akan berkata, 'Bawalah olehmu orang-orang yang Kucintai mendekat kepada-Ku;' kemudian malaikat-malaikat akan berkata, 'Siapakah orang-orang yang Kaucintai?' Dan Tuhan akan menjawab, 'Orang-orang fakir dan yang tak punya'. Banyak ayat dalam Al-Quran dan Hadits berkata seperti ini, yang kemasyhurannya tidak perlu dibincangkan di sini. Di antara kaum Muhajirin di masa Nabi, terdapat orang-orang fakir (fuqara') yang duduk di masjid dan mengabdikan dirinya untuk beribadah kepada Tuhan, dan dengan teguh menyakini bahwa Tuhan akan memberi mereka roti untuk makanan sehari-hari mereka, dan bertawakal kepada-Nya. Nabi suka berkumpul dengan mereka dan memberikan perhatian kepada mereka; karena Tuhan berfirman: "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di sore hari, yang menginginkan keridhaan-Nya." (QS 6:52). Kapan saja melihat salah seorang di antara mereka, Nabi saw. biasa berkata: "Semoga ayah dan ibuku menjadi kurbanmu! Karena demi kau, Tuhan menegur aku."
Karena itu, Tuhan telah memuliakan kefakiran dan menjadikannya derajat khusus orang fakir, yang telah melepaskan semua hal yang lahir dan batin, dan benar-benar berpaling kepada Sang Penyebab; yang kefakirannya menjadi kebanggaan mereka, sehingga mereka mengeluh karena kefakiran pergi, dan gembira akan datangnya, dan mendekapnya serta menganggap semua yang lain hina.
Kini, kekafiran mempunyai bentuk (rasm) dan hakikat (haqiqat). Bentuknya adalah kemiskinan, namun hakikatnya adalah keberuntungan dan pilihan bebas. Dia yang memandang bentuk, bertumpuh pada bentuk dan, karena gagal mencapai sasarannya, lari dari hakikat; namun dia yang menemukan hakikat, mencegah pandangannya dari semua ciptaan, dan dalam peniadaan yang sempurna, karena hanya memandang Yang Maha Esa, maka dia bergegas menuju hidup yang kekal. Orang miskin (faqir) tidak memiliki apa-apa dan tidak merasa kehilangan. Dia tidak menjadi kaya dengan memiliki segala sesuatau, pun tidak miskin karena tidak memiliki apa pun: kedua keadaan ini sama saja baginya. Dia akan lebih merasa senang bilamana dia tidak memiliki apa pun, karena para Syekh mengatakan: "Makin seseorang tertekan dalam keadaan-keadaan, makin terbuka luas (gembira dan bahagia) keadaan (batin) seseorang itu," karena tidaklah merupakan keuntungan bagi seorang darwisy untuk memiliki harta: jika dia "memenjarakan" segala sesuatu demi kegunaannya sendiri, dia sendiri juga akan "terpenjara". Sahabat-sahabat Tuhan hidup dari kemurahan Tuhan. Kekayaan dunia menahan mereka dari jalan keridhaan.
Kisah; Seorang darwisy bertemu denga seorang raja. Raja berkata: "Mintalah hadiah dariku." Sang darwisy menjawab: "Aku tidak akan minta hadiah dari salah seorang budakku." Mengapa demikian?" kata raja. Sang darwisy berkata: "Aku punya dua budak yang merupakan tuan-tuanmu: ketamakan dan pengharapan."
Nabi berkata: "Kefakiran adalah kemuliaan bagi mereka yang layak memperolehnya." Kemuliaannya adalah demikian: tubuh seorang fakir dijaga oleh Tuhan dari perbuatan-perbuatan yang nista dan dosa, dan hatinya terpelihara dari kejahatan dan pikiran-pikiran yang kotor karena bagian-bagian lahirnya telah terserap dalam (perenungan akan) berkah Tuhan yang nyata, sementara batinnya terlindung oleh rahmatnya yang gaib, sehingga tubuhnya adalah ruhani dan hatinya adalah ilahiah (rabbani). Maka tak ada hubungannya lagi antara dia dan manusia, dunia ini dan akhirat lebih rendah nilainya dari sepasang sayap nyamuk dalam ukrang kefakirannya; dia tak lagi berada didunia ini bahkan untuk sesaat sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar