Senin, 16 November 2009

Antara Kekayaan Dan Kemiskinan

Para Syekh shufi berbeda pandangan mengenai mana yang lebih tinggi kemiskinan ataukah kekayaan, yang keduanya dipandang sebagai sifat-sifat manusia, karena kekayaan yang sesungguhnya (ghina) milik Allah, yang sempurna dalam segala sifat-Nya. Yahya bin Mu'adz Ar-Razi, Ahmad bin Abil Hawari, Harits Al-Muhasibi, Abul 'Abbas bin Atha, Ruwaym, Abul Hasan bin Sim'un dan para muta'akhirun, diantaranya syaikh Akbar Abu Sa'id Fadhalallah bin Muhammad Al-Mayhani, semuanya berpandangan bahwa kekayaan lebih tinggi dibanding kemiskinan. Mereka berpendapat bahwa kekayaan itu adalah satu sifat Allah, sedangkan kemiskinan tidak dapat dinisbahkan kepada-Nya, karena itu satu sifat yang umum bagi Allah dan manusia adalah lebih tinggi dari pada satu sifat yang tidak bisa dikenakan kepada Allah.

Masyarakat yang disebutkan ini hanya melulu nama, dan tidak memiliki keberadaan dalam kenyataan, masyarakat yang sebenarnya membawa serta persamaan yang timbal balik, namun sifat-sifat keTuhanan adalah kekal dan sifat-sifat manusia tercipta, karena itu hujah tersebut salah. Ali bin 'Utsman Al-Julabi, menyatakan bahwa kekayaan adalah istilah yang bisa dengan tepat dikenakan kepada Tuhan, namun bukan sifat yang layak dikenakan kepada manusia, sementara kefakiran adalah istilah yang secara tepat dikenakan kepada manusia dan bukannya kepada Tuhan. Secara kias seseorang disebut "kaya", namun sebenarnya ia tidak kaya. Lagi, untuk memberikan hujah yang lebih jelas, Kekayaan manusia adalah hasil macam-macam sebab, sedang kekayaan Allah, yang diri-Nya adalah pembuat segala sebab, tidak punya hubungan dengan sebab apapun. Karena itu tidak ada umat yang bisa dikaitkan dengan sifat ini. Tidaklah diperkenankan mengaitkan segala sesuatu dengan Allah apakah dalam zat, sifat atau nama. Kekayaan Allah adalah kebebasan-Nya dari siapapun, dan kekuasaan-Nya untuk berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Begitulah Dia adanya dan akan demikianlah Dia selamanya. Kekayaan manusia dilain pihak adalah misalnya sarana penghidupannya, atau hadirnya rasa riang, atau selamat dari dosa, atau kesenangannya bertafakur adalah hal-hal yang bersifat fenomenal dan selalu mengalami perubahan.

Lebih jauh lagi, orang awam lebih menyukai orang kaya dari pada orang miskin dengan alasan bahwa Allah telah memberkati orang kaya di dua dunia dan telah menganugerahkan kepadanya kekayaan. Yang mereka maksud dengan "kekayaan" disini adalah berlimpahnya harta duniawi, kenikmatan jasmani, dan pengumbaran hawa nafsu. Mereka berkata bahwa Allah telah memerintahkan kita agar bersyukur atas kekayaan yang diperoleh, dan agar bersabar dalam kemiskinan, yaitu sabar menghadapi kemalangan dan bersyukur dalam kemakmuran, dan bahwa kemakmuran secara hakiki lebih baik daripada kemalangan. Terhadap hal ini sesungguhnya bilamana Allah memerintahkan kita agar bersyukur atas kemakmuran, Dia menjadikan syukur sebagai sarana untuk meningkatkan kemakmuran kita, tetapi bilamana Dia memerintahkan sabar atas kemalangan, Dia menjadikan kesabaran sebagai sarana untuk mendekatkan kita kepada Diri-Nya. Allah berfirman,"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim; 7)

Sesungguhnya para syekh yang meninggikan kekayaan diatas kemiskinan tidak menggunakan istilah "kekayaan" dalam arti yang populer. Apa yang mereka maksud bukanlah "perolehan manfaat" melainkan "perolehan dari Yang Maha Pemurah". Syekh Abu Sa'id mengatakan,"Kemiskinan adalah kekayaan dalam Tuhan"(al-faqr huwa al-ghina billah), yaitu penyingkapan abadi kebenaran. Terhadap hal ini penyingkapan (mukasyafat) menyiratkan kemungkinan tentang tabir (hijab), karena itu jika seseorang yang memperoleh penyingkapan, terdindingi dari penyingkapan oleh sifat kekayaan, ia menjadi memerlukan penyingkapan, atau tidak, jika tidak kesimpulannya tidak masuk akal, jika dia memerlukan, keperluannya bertentangan dengan kekayaan, karena itu istilah tersebut tidak dapat berlaku. Disamping itu tak seorangpun memiliki "kekayaan dalam Tuhan" sebelum sifat-sifatnya sirna dan tujuannya hanya satu, kekayaan tidak dapat berpadanan dengan kelanggengan suatu obyek atau dengan peneguhan sifat-sifat bawaan manusia, karena ciri-ciri pokok kefanaan dan wujud fenomenal adalah keperluan dan kemiskinan. Orang yang sifat-sifatnya masih bertahan bukanlah kaya, dan orang yang sifat-sifatnya telah fana tidak berhak atas nama apapun. Karena itu "orang yang kaya adalah orang yang diperkayakan oleh Allah"(al-ghani man aghnahullah) sebab istilah "kaya dalam Tuhan" menunjuk kepada para pelaku (fa'il), sedangkan istilah "diperkaya oleh Tuhan" berarti orang yang dikenai tindakan(maf'ul). Yang pertama adalah mandiri, sedangkan yang kedua adalah hidup melalui sang pelaku. Karena itu, menghidupkan diri merupakan sifat bawaan manusia, sedangkan hidup melalui Tuhan melibatkan peniadaan sifat-sifat. Karena itu Ali bin 'Utsman Al-Julabi menyatakan bahwa kekayaan yang sejati bertentangan dengan perihal keabadian(baqa') sifat apapun, karena sifat manusia telah terbukti cacat dan bisa rusak, kekayaan tidak pula terletak dalam peniadaan sifat-sifat ini karena nama tidak dapat diberikan kepada sifat yang tidak lagi maujud, dan dia yang sifat-sifatnya telah fana tidak dapat dipandang sebagai "miskin" atau "kaya" sebab sifat kaya tidak dapat teralihkan dari Tuhan kepada manusia, dan sifat miskin tidak dapat teralihkan dari manusia kepada Tuhan.

Semua syekh shufi lebih menyukai kemiskinan dari pada kekayaan, dengan alasan bahwa Al-Qur'an dan sunah menyatakan dengan jelas bahwa kefakiran lebih tinggi. Bahwa persoalan ini pernah dibahas oleh Junayd dan Ibn 'Atha. Ibn 'Atha menekankan keunggulan orang kaya. Dia berargumen bahwa di Hari Kebangkitan, mereka akan dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kekayaan mereka, dan bahwa perhitungan (hisab) semacam itu mengakibatkan terdengarnya Kata-kata Ilahi, tanpa tafakur apapun, dalam bentuk penyesalan ('itab) dan penyesalan dialamatkan oleh Yang Tercinta kepada sang pencinta. Junayd menjawab "jika Dia memanggil orang kaya untuk perhitungan, maka Dia memangil orang miskin untuk memberi dalih, dan memberikan dalih adalah lebih baik dari pada mempertanggung jawabkan."

Setiap orang adalah "miskin" meskipun ia adalah seorang pangeran. Secara hakiki kekayaan nabi Sulaiman dan kemiskinan nabi Sulaiman adalah satu. Allah berkata kepada nabi Ayub yang kesabarannya luar biasa dan begitu pula kepada nabi Sulaiman yang kerajaannya sangat luas; "Kau adalah hamba yang baik" (QS. Shaad; 30 dan 44). Ketika keridhaan Allah tercapai tidak ada perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan nabi Sulaiman maupun nabi Ayub.

Abul Qasim Qusyayri berkata" Orang telah berbicara banyak tentang kemiskinan dan kekayaan, dan telah memilih satuatau yang lain bagi mereka sendiri, tapi aku memilih keadaan apapun yang dipilihkan Tuhanku untuk diriku, jika dia menjadikan aku kaya, aku tidak akan lupa dan jika tuhan menghendaki aku miskin tidak akan menjadikan aku iri dan durhaka". Karena kekayaan dan kemiskinan adalah anugerah Allah, kekayaan rusak karena kelalaian dan kemiskinan rusak karena iri dan durhaka. Kedua konsepsi ini sangat bagus namun berbeda dalam pelaksanaannya. Kemiskinan adalah keterceraian hati dari segala kecuali Allah, dan kekayaan adalah terkuasainya hati oleh apa yang tidak dapat dibatasi. Bilamana hati telah dijernihkan (dari segala kecuali Allah), kemiskinan tidak lebih baik dari dari pada kekayaan, pun demikian kekayaan tidak lebih baik dari kemiskinan. Kekayaan adalah kelimpahan benda-benda dunia dan kemiskinan adalah kekurangan akan benda-benda dunia, sedangkan semua benda adalah milik Allah. Bilamana sang pencari mengucapkan selamat tinggal pada kemiskinan, anti tesisnya lenyap, dan kedua istilah tersebut akan tertransedensikan.

Tidak ada komentar: