Rabu, 25 November 2009

HAJI

Haji itu wajib bagi setiap muslim yang berakal sehat yang mampu melaksanakannya dan telah mencapai kedewasaan. Haji itu adalah memakai pakaian haji (ihram) pada tempat yang ditentukan. Singgah di 'Arafat, mengelilingi ka'bah dan berlari antara Shafa dan Marwa. Tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci tanpa berpakaian ihram. Kawasan suci (Haram) disebut demikian karena disitu terdapat Maqam Ibrahim. Ibrahim mempunyai dua Maqam; Maqam badannya, yaitu Makkah, dan Maqam ruhaninya yaitu persahabatan dengan Tuhan (Khullat). Barang siapa yang mencari Maqam badaniyahnya, ia harus menafikan semua hawa nafsu dan kesenangan dan memakai pakaian Ihram (kain persegi empat yang dililitkan disekujur tubuhnya tanpa jahitan/kafan) dan mencegah dari perburuan yang dihalalkan, dan mengendalikan sepenuhnya semua indera dan hadir di 'Arafat dan dari sana menuju Muzdalifah dan Masy'ar Al Haram, dan mengambil batu-batu dan mengelilingi Ka'bah dan menuju Mina dan tinggal disana tiga hari dan melemparkan batu-batu dengan cara yang sudah ditentukan dan memotong rambutnya dan melaksanakan kurban dan memakai pakaian biasa.

Tetapi barang siapa mencari maqam ruhaniahnya, ia harus menafikan pergaulan dengan sesamanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesenangan-kesenangan dan tidak berfikir lain selain Allah. Kemudian dia harus singgah di 'Arafatnya makrifat, dan dari sana pergi ke Muzdalifahnya persahabatan (ulfat), dan dari sini menyuruh hatinya untuk mengelilingi Ka'bahnya penyucian Ilahi (tanzih) dan melemparkan batu-batu hawa nafsu dan pikiran-pikiran kotor di Mina keimanan, dan mengorbankan jiwa rendahnya dialtar mujahadat dan sampai pada maqam persahabatan (khulat). Memasuki maqam badaniyah berarti aman dari musuh-musuh dan pedang-pedang mereka tetapi memasuki maqam ruhaniyah berarti aman dari keterpisahan dari Allah dan akibat-akibatnya.

Orang-orang yang mencari Ka'bahnya didunia ini seharusnya mereka juga berupaya melakukan musyahadat tentang-Nya didalam hati mereka, tempat suci kadang kala mereka capai dan kadang kala mereka tinggalkan, tetapi musyahadat bisa mereka nikmati selalu. Jika mereka harus mengunjungi Ka'bah, yang dilihat hanya sekali setahun, sesungguhnya mereka lebih harus mengunjungi Ka'bah hati, dimana Dia bisa dilihat tiga ratus enam puluh kali sehari semalam. Tetapi langkah orang-orang sufi adalah simbol perjalanan menuju Makkah, dan bilamana ia mencapai tempat suci ia menerima jubah kehormatan bagi setiap langkah. Jika ganjaran seseorang untuk ibadahnya kepada Allah ditunda sampai esok hari, ia tentu tidak akan beribadah hari ini, karena ganjaran bagi setiap saat beribadah dan musyahadat adalah langsung.

Pada haji yang pertama aku hanya melihat Ka'bah, kedua kalinya aku melihat Ka'bah dan Tuhannya Ka'bah, ketiga kalinya aku hanya melihat Allah saja. Pendek kata bisa saya katakan; dimana ada mujahadat, disitu tidak ada tempat suci, tempat suci hanya ada dimana musyahadat itu ada. Kalau seluruh alam semesta ini bukan tempat pertemuan manusia dimana ia mendekati Tuhannya, dan ruang istirah dimana ia menikmati kedekatan dengan Tuhan, ia tetap tak akan mengenal cinta Ilahi. Tetapi bilamana ia memiliki penglihatan, seluruh alam semesta adalah tempat sucinya.

"Yang tergelap didunia ini adalah rumah Kekasih tanpa Kekasih"

Karena itu yang bernilai bukanlah Ka'bah, melainkan kontemplasi (musyahadat) dan pelenyapan (fana') didalam istana persahabatan dan melihat Ka'bah merupakan sebab tidak langsung. Tetapi kita harus tahu bahwa setiap sebab bergantung pada pencipta sebab-sebab (musabbib), dari tempat tersembunyi manapun kuasa Ilahi tampak, dan dari manapun keinginan pencari bisa terpenuhi. Tujuan mistikus (mardan) dengan melintasi belantara dan padang pasir bukanlah tempat suci itu sendiri, karena bagi pencinta Tuhan diharamkan memandang tempat suci-Nya. Bukan! Tujuan mereka adalah mujahadat dalam suatu kerinduan yang membuat mereka tak bisa tenang, dan kelenyapan dalam cinta yang tak pernah berakhir.

Seseorang datang kepada Junayd al Baghdati. Junayd bertanya kepadanya dari mana ia datang. Ia menjawab "Aku baru saja melakukan ibadah haji"
Junayd mengatakan "Dari saat engkau pertama kali berjalan dari rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosamu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak membuat perjalanan!, disetiap tahap dimana engkau beristirah dimalam hari, apakah engkau telah melintasi sebuah maqam dijalan menuju Allah"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak menempuh perjalanan tahap demi tahap. Ketika engkau mengenakan pakaian haji (ihram) ditempat yang ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian sehari-harimu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji. Ketika engkau singgah di 'Arafat, apakah engkau telah singgah barang sebentar dalam musyhadat kepada Tuhan?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau tidak singgah di Arafat. Ketika engkau pergi ke Muzdalifah dan mencapai keinginanmu, apakah engkau sudah meniadakan semua hawa nafsu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu junayd berkata "Berarti engkau tidak pergi ke Muzdalifah. Ketika engkau mengelilingi Ka'bah, apakah engkau sudah memandang keindahan nonmaterial Ketuhanan ditempat suci"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak mengelililngi Ka'bah. Ketika engkau lari antara Shafa dan Marwa, apakah engkau telah mencapai peringkat kesucian (Shafa) dan kebajikan (Muruwwat)?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak lari (Sa'i). Ketika engkau telah datang ke Mina, apakah semua keinginanmu (Munyatsa) telah sirna?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu kata Junayd "Berarti engkau belum mengunjungi Mina. Ketika engkau sampai ditempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengorbankan semua hawa nafsumu?"
Ia menjawab "Tidak"
Lalu Junayd berkata "Berarti engkau tidak berkurban. Ketika engkau melemparkan batu-batu, apakah engkau telah melemparkan pikiran-pikiran hawa nafsu yang menyertaimu?"
Ia menjawab "Tidak"
Akhirnya Junayd berkata"Berarti engkau tidak melakukan apa-apa, dan engkau tidak melaksanakan ibadah haji. Kembalilah dan lakukan ibadah haji seperti yang aku gambarkan supaya engkau bisa sampai pada maqam Ibrahim."

Selanjutnya haji ada dua macam; (1) Dalam ketidak hadiran dari Tuhan (2) Dalam kehadiran bersama Tuhan. Seseorang yang tidak hadir dari Tuhan di Makkah, maka ia dalam kedudukan yang seolah-olah ia tidak hadir dari Allah dirumahnya sendiri, dan seseorang yang hadir bersama Tuhan dirumahnya sendiri, maka ia berada seolah-olah ia hadir bersama Allah di Makkah. Haji sesungguhnya adalah suatu tindak mujahadat untuk memperoleh musyahadat, dan mujahadat tidak menjadi sebab langsung dari musyahadat, malainkan hanya sarana untuk mencapai musyahadat. Maka dari itu karena sarana tidak mempunyai pengaruh lebih jauh atas realitas segala hal, tujuan haji yang sebenarnya bukanlah mengunjungi Ka'bah, melainkan untuk memperoleh Musyahadat bersama Allah. Wallahu A'lam.

Tidak ada komentar: