Ketahuilah bahwa istilah cinta (mahabbat) digunakan oleh para ahli teologi dalam tiga arti; pertama, senantiasa menginginkan obyek cinta, dan kecenderungan serta syahwat(dalam asmara), yang dalam arti cinta ini hanya mengacu pada wujud-wujud ciptaan (makhluk) dan kasih sayang mereka satu sama lain, tapi tidak bisa digunakan pada Tuhan, yang maha suci dari apapun yang semacam ini. Kedua, kemurahan Tuhan dan anugerah-Nya yang berupa keistimewaan kepada orang-orang yang Dia pilih dan yang Dia sebabkan dapat mencapai kesempurnaan kewalian dan yang dibedakan-Nya secara khusus dengan bermacam-macam anugerah keajaiban-Nya. Ketiga, pujian yang Tuhan limpahkan kepada seseorang karena suatu perbuatan yang baik(tsana-yi jamil)
Beberapa filosof skolastik mengatakan bahwa cinta Tuhan, yang Dia telah membuatnya dikenal oleh kita, merupakan salah satu sifat tradisional, seperti wajah-Nya dan tangan-Nya dan penempatan diri-Nya sendiri yang sekukuh-kukuhnya pada singgasana-Nya (istiwa), yang eksistensinya dari sudut akal akan tampak tidak mungkin jika tidak dinyatakan sebagai sifat-sifat Ilahi dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Karena itu, kita mengakuinya dan mempercayainya. Kaum skolastik ini bermaksud menyangkal dapat diterapkannya istilah cinta pada Tuhan dalam semua artian yang kami sebutkan. Kami akan menerangkan sekarang tentang tentang kebenaran masalah ini.
Cinta Tuhan kepada manusia adalah kehendak baik-Nya kepada-Nya dan kasih sayang-Nya kepada-Nya. Cinta adalah salah satu nama kehendak-Nya (iradat), seperti "keridhaan" "murka" "kasih sayang" dan lain-lain. Dan kehendak-Nya adalah salah satu sifat yang qodim dimana Dia menghendaki tindakan-tindakan-Nya. pendek kata cinta Tuhan kepada manusia itu adalah mempertunjukkan banyak keridhaan kepadanya, dan memberinya ganjaran kepadanya didunia ini dan di akhirat. Dan membuatnya aman dari hukuman dan menjaganya selamat dari dosa, dan melimpahkan kepadanya "keadaan-keadaan" mulia dan "kedudukan-kedudukan" yang luhur dan yang menyebabkannya memalingkan pikiran-pikirannya dari semua yang bukan Tuhan. Bilamana Allah secara khusus mengistimewakan seseorang dengan cara ini, pengkhususan kehendak-Nya itu disebut cinta. Ini adalah doktrin Al Harits Muhasibi, Junaid al Bagdhadi, sejumlah besar syeikh sufi, dan para ahli hukum dari aliran ini, dan kebanyakan kaum skolastik menganut pandangan yang sama. Mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi adalah"pujian yang diberikan kepada seseorang karena perbuatan baik"(Tsana-yi jamil barbanda), pujian Allah adalah perkataan-Nya(kalam), yang tidak diciptakan(bukan makhluk). Dan mengenai pernyataan mereka bahwa cinta Ilahi merupakan "kebajikan", kebajikan-Nya terletak dalam tindakan-tindakan-Nya. Oleh karenannya, pandangan-pandangan yang berbeda itu pada hakikatnya berhubungan erat satu sama lain.
Cinta manusia kepada Allah merupakan suatu kualitas yang mengejawantahkan dalam hati orang beriman yang taat, dalam bentuk penghormatan dan pengagungan, sehingga ia berusaha memuaskan yang Dicintainya dan menjadi tidak sabar dan resah karena keinginannya untuk memandang-Nya, dan tidak bisa tenang dengan siapapun kecuali Dia, dan menjadi akrab dengan mengingat(dzikir) Dia, dan bertekad akan melupakan segala yang lain. Diam menjadi haram baginya, dan tenang lenyap darinya. Ia terputus dari semua kebiasaan dan hubungan-hubungan dengan sesamanya, dan menyangkal hawa nafsu, dan berpaling kepada istana cinta, dan tunduk kepada hukum cinta dan mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya. Tidaklah mungkin bahwa cinta manusia kepada Allah serupa dengan cinta makhluk-makhlukNya kepada sesamanya satu sama lain, karena yang pertama ialah keinginan untuk memahami dan mencapai obyek yang dicintai, sementara yang kedua adalah sifat tubuh. Para pencinta Tuhan adalah orang-orang yang mengabdikan diri mereka kepada kematian dalam kedekatan kepada-Nya, bukan orang-orang yang mencari watak(kayfiyyat)-Nya karena sang pencari tidak bersandar pada dirinya sendiri, namun ia yang mengabdikan dirinya pada kematian(mustahlik) bersandar pada Yang Dicintainya. Dan para pencinta yang paling sejati adalah mereka yang suka mti seperti itu dan terkuasai, karena wujud fenomenal tidak mempunyai cara untuk mendekati yang Qadim kecuali melalui kemahakuasaan Yang Qadim. Ia yang mengenal cinta sejati tak merasakan kesulitan-kesulitan lagi, dan semua keraguannya lenyap.
Selanjutnya cinta ada dua macam;
1. cinta terhadap yang sejenis yang merupakan suatu keinginan yang dirangsang oleh hawa nafsu dan yang mencari esensi obyek yang dicintainya melalui hubungan seksual,
2. cinta dari yang tidak serupa dengan obyek cintanya dan yang berusaha untuk menjadi terikat erat dengan suatu sifat obyek itu, misalnya mendengar tanpa kata-kata(suara) atau melihat tanpa mata.
Dan orang-orang beriman yang mencintai Tuhannya terdiri atas dua macam;
1. Orang-orang yang menghargai anugerah dan kebajikan Tuhan kepada mereka, dan mereka diarahkan oleh penghargaan itu untuk mencintai Yang Maha Bajik.
2. Orang-orang yang begitu dikuasai oleh cinta sehingga mereka memandang semua anugerah sebagai tabir(antara diri mereka dengan Allah), dan dengan memandang Yang Maha Bajik mereka dipimpin ke (kesadaran tentang) anugerah-anugerah-Nya. Cara yang terakhir inilah cara yang paling tinggi dan mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar