Rabu, 30 Desember 2009

Mencintai Allah

Diriwayatkan dari Nabi saw;

"Bahwasanya seorang laki-laki datang menghadapnya, lalu berkata, `Aku mencintaimu karena Allah 'Azza Wa Jalla.` Beliau pun bersabda padanya, "Jadikanlah bala cobaan sebagai jubah, jadikan kefakiran sebagai jubah."

Karena engkau ingin bersifat seperti aku, maka sifati dirimu seperti sifatku. Termasuk syarat mahabbah adalah muwafaqah (menurut). Dikisahkan bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq ra. rela memberikan seluruh harta kekayaannya kepada Nabi saw. karena kesungguhan cintanya kepada beliau. Ia berbuat seperti seperti perbuatannya dan ikut merasakan kefakiran bersamanya, hingga ia ikut menanggung beban bersamanya. Ia menurutinya lahir dan batin, dalam kesunyian dan dalam keramaian.

Kefakiran sudah melekat pada diri Nabi saw. dan tak pernah meninggalkanya. Beliau bersabda;

"kefakiran lebih cepat mengantarkanku kepada zat yang mencintaiku dari pada aliran air kemuaranya."

A'isyah rda. menuturkan lebih lanjut, "Dunia senantiasa menjadi kotoran yang menyesakkan kami selama Rasulullah masih bersada ditengah-tengah kami. Selepas beliau meninggal, dunia mengalir pada kami begitu derasnya."

Jika kefakiran adalah syarat mencintai Rasul, maka syarat mencintai Allah adalah bala dan cobaan. Seorang sufi menuturkan, "Setiap bala cobaan disertai dengan kesetiaan." Agar tidak dicap hanya mengaku-aku cinta Allah dengan kebohongan, kemunafikan, dan riya'. Jalan menuju Allah membutuhkan kejujuran, kesungguhan, dan cahaya makrifat. Dengan kesungguhan cahaya makrifat akan muncul dihati kaum shiddiqin, dan tak akan pernah padam siang ataupun malam.

Wahai saudaraku!, Ambilah cermin perenungan dan segera berkacalah!. Mohonlah kepada Allah agar diperlihatkan kepadamu semua tentang keburukan manusia yang ada pada dirimu dan manusia pada umumnya. Agar engkau segera menyadari hanya pada Allah-lah segala kebaikan yang hakiki.

Kaum sufi senantiasa dalam kondisi diam secara total, mati secara total, dan pula keterkejutan total. Jika hal ini telah sempurna mereka jalankan dan mereka pun masih tetap menjalaninya, maka Allah akan membuat mereka bicara kembali, sebagaimana Allah membuat bicara benda-benda mati pada hari kiamat. Mereka tidak berbicara kecuali diperintahkan untuk berbicara. Mereka juga tidak mengambil jika tidak diberi. Tidak pula mereka bergembira dan tidak digembirakan. Allah swt. berfirman;

"Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim; 6)

mereka telah menyamai derajat malaikat, berkat makrifat kepada Allah dan pengetahuan terhadap-Nya serta terhadap para malaikat-Nya. Hati mereka terjaga dari segala petaka, karena petaka hanya akan sampai pada anggota badan, struktur tubuh dan nafsu mereka, tapi takkan pernah mampu mencapai hati mereka.

Jika ingin mencapai posisi seperti mereka, maka kita harus merealisasikan keislaman, meninggalkan dosa-dosa, baik yang kasat mata maupun yang tersembunyi, barlaku wara' secara universal, zuhud manjauhi kemubahan dunia maupun kehalalannya, merasa cukup dengan kemurahan Allah, zuhud juga dalam kemurahan anugerah-Nya dan merasa cukup (kaya) dengan kedekatan-Nya hingga membuat kita merasa tak butuh apa-apa lagi. Jika rasa cukup kita dengan kedekatan -Nya sudah benar-benar sahih, maka dia akan mengucurkan anugerah kemurahan-Nya pada kita. Dia akan membuka pintu-pintu bagian-Nya (qadha qadar), juiga pintu kelembutan, rahmat, anugerah-Nya. Dia genggam dunia untuk kita, lalu membentangkannya untuk kita.

Semua anugerah ini hanya diberikan kepada manusia-manusia pilihan, yaitu para wali dan shiddiqin, karena Dia Maha Mengetahui ketaqwaan mereka. Mereka tidak pernah menyibukkan diri dengan sesuatu sampai terlena melupakan-Nya, namun pada banyak kasus, dunia tergenggam rapat dari mereka, itu dikarenakan memang Allah tidak mengucurkan pada mereka, karena Dia lebih suka kesunyian total mereka hanya bersama-Nya, kehadiran mereka hanya bersama-Nya, dan pencarian mereka hanya untuk-Nya. Jikalau Dia menganugerahi dunia untuk mereka, bisa jadi malah mereka sibuk mengurusinya, duduk bersamanya dan lupa melayani-Nya. Inilah yang biasa terjadi. Nabi saw. termasuk orang yang ditawari dunia, namun tidak sibuk mengurusinya atau bahkan lupa melayani-Nya. Beliau tidak menoleh pada bagian-bagian rezeki dengan segala kesempurnaan zuhud dan penentangan. Beliau pernah ditawari kunci-kunci kekayaan bumi, namun beliau justru mengembalikan sembari berkata:

"Tuhan, hidupkanlah aku sebagai orang miskin dan matikan aku sebagai orang miskin, serta kumpulkan aku kelak bersama orang-orang miskin"

Zuhud adalah anugerah kesalehan. Sebab jika itu bukan anugerah, maka tidak akan ada seorangpun yang mampu berzuhud menjauhi bagian dunianya. Seorang mukmin bebas lepas dari beban ambisi dalam mengumpulkan duniawi, tidak pula rakus dan terburu-buru. Dia berzuhud atas segala sesuatu dengan segenap hatinya dan berpaling darinya dengan segenap nuraninya. Dia hanya sibuk dengan segala apa yang diperintahkan kepadanya, dan dia tahu pasti bahwa bagiannya tidak akan lepas darinya, hingga dia pun tak akan merasa perlu mencarinya. Dia biarkan bagian-bagian duniawi mengejar dibelakangnya, merendah dan memohon-mohon padanya untuk menerimanya.

Sufyan Ash-Shawry-semoga Allah mengasihinya- Pada awal menuntut ilmu, diperutnya terikat sabuk himyan (sabuk celana berisi uang untuk bekal) berisi uang 500 dinar untuk keperluan hidup dan belajar. Dia ketuk-ketuk sabuk itu seraya berkata, "Jika tidak ada engkau, pastilah mereka akan membuang kita." setelah diperolehnya ilmu dan makrifat pengetahuan al Haqq 'Azza Wa Jalla, maka ia sumbangkan sisa uang yang ada padanya untuk fakir miskin dalam waktu satu hari, seraya berkata, "Jikalau langit adalah besi yang tak mencurahkan hujan, bumi berupa batu cadas yang tak menumbuhkan tanaman dan akupun harus berkonsentrasi mencari rezeki, maka pastilah aku menjadi fakir."

Bekerja dan berinteraksilah dengan sarana sampai imanmu benar-benar kuat, baru setelah itu berpindahlah dari sarana (sabab) pada pemberi sarana (musabib). Para nabi juga bekerja, bermodal, dan berhubungan dengan sarana duniawi pada awal keadaan mereka, baru pada akhirnya, mereka berpasrah diri. Mereka mensinergikan antara kerja dan tawakal sebagai awalan dan akhiran, syariat dan hakikat. Camkanlah! Jangan kosongkan tanganmu dari bekerja demi kepasrahan diri dengan menunggu apa yang ada ditangan manusia dan membebani mereka. Sebab dengan demikian engkau telah mengingkari nikmat takdir. Tidak bekerja tapi "mengemis" pada manusia adalah siksaan dari Allah pada seorang hamba. Nabi Sulaiman as. misalnya, setelah Allah melengserkan tahta kerajaannya, kemudian Dia menghukumnya dengan banyak hal, diantaranya mengemis dan meminta-minta. Semua itu dikarenakan istrinya menyembah patung dirumahnya selama 40 hari, maka selama 40 hari pula ia terus mendapat siksaan dari hari ke hari.

Kaum sufi tidak memiliki obat keceriaan bagi mendung kesedihan mereka, juga tidak meletakkan beban mereka, dan tidak pula memiliki permata kasih dimata mereka serta hiburan bagi musibah mereka, hingga mereka bertemu Tuhan mereka. Pertemuan kaum sufi dengan Tuhan mereka meliputi dua jenis; pertama, pertemuan didunia, Yaitu melalui hati dan nurani kaum sufi (makrifat). Kedua; pertemuan diakhirat. Kaum sufi baru bisa merasakan kebahagiaan dan keceriaan setelah bertemu dengan Tuhan mereka, meskipun sebelumnya, musibah dan kesedihan terus-menerus menimpanya.

Tidak ada komentar: