Dunia ibarat pasar. Setelah beberapa saat, tidak akan tersisa seorangpun disana. Saat menjelang malam, semua penghuninya akan pergi dari sana. Berusahalah agar kita tidak memperjual belikan sesuatu disana kecuali komoditas yang memang bermanfaat dan akan mendatangkan keuntungan untuk kita bawa pulang kerumah akhirat kelak, dimana mata uang yang dipakai adalah tauhid dan komoditas yang laku dan menguntungkan adalah keikhlasan beramal hanya untuk-Nya, tapi justru komoditas inilah yang sangat sedikit kita miliki.
Dengan wajah yang seperti apakah kira-kira kita kelak akan menghadap pada Allah, sementara saat ini kita senantiasa menentang-Nya, berpaling dari-Nya, lebih menerima makhluk-Nya untuk menumpukan semua kebutuhan dan menyerahkan urusan-urusan penting pada mereka. Membutuhkan manusia adalah siksaan bagi sebagian besar pengemis, karena mereka tidak keluar untuk mengemis kecuali dibuntuti dosa dan hanya sedikit saja yang dilakukan tanpa kebencian (karahah). Jika kita mengemis dan tersiksa, maka kita terhalang dari rezeki (mahrum) karena penolakan kita atas pemberian.
Saudaraku! Prioritas terbaik bagi kita saat kondisi kelemahan kita adalah janganlah meminta sesuatu pada siapapun dan jangan sampai kita memiliki sesuatu yang tidak kita ketahui, tidak kita kenali, dan tidak juga kita lihat hingga kita tidak lagi dilihat. Jika kita mampu memberi tanpa harus mengambil bagian rezeki, maka itu lebih baik yang kita lakukan. Jika kita mampu berkhidmat melayani dan tidak meminta layanan dari orang lain, maka itu yang lebih baik kita lakukan. Kaum saleh hanya hanya berbuat untuk dan bersama-Nya, maka Dia pun memperlihatkan keindahan-keindahan yang menakjubkan didunia dan akhirat pada mereka. Demikian juga saat Dia memperlihatkan kelembutan kasih dan pemeliharaan-Nya atas mereka.
Jika islam kita benar-benar sahih maka sahih pula ketundukkan (istislam) kita. Jadikanlah kita sebagai orang yang berserah diri kepada Allah dengan segala kondisi dengan tetap menjaga batasan-batasan syara' dan konsistensi menjalankannya. Tunduklah pada-Nya dalam persoalan hak-hak kita maupun hak orang lain. Marilah bersikap santun pada-Nya dan juga pada makhluk-Nya. Jangan zalimi diri sendiri maupun orang lain, sebab kezaliman adalah kegelapan didunia dan akhirat. Kezaliman menggelapkan hati dan menghitamkan wajah serta catatan amal. Janganlah berbuat zalim maupun membantu tindak kezaliman.
Kesabaran adalah kunci kemenangan, ketinggian derajat dan kemuliaan.
"Ya Allah...kami memohon kepadamu kesabaran bersama-Mu, kami memohon ketaqwaan, kecukupan, kekosongan dari semua dan hanya bersibuk dengan-Mu maka singkaplah tirai hijab antara kami dengan-Mu...."
Tidakkah kita malu pada-Nya ataukah kita tidak lagi mempercayai perjumpaan dengan-Nya? Kita berbuat suatu amalan untuk-Nya tapi batin kita lebih puas kita serahkan pada orang lain, kepada atasan, kepada komandan, kepada relasi dan kepada siapapun atau apapun selain-Nya. Sungguh tanpa kita sadari kita telah menipu-Nya, tapi tanpa malu kita mengemis pengetahuan tentang-Nya. Sadarlah!
Marilah kita perbaiki niat pada-Nya. Berusahalah kita untuk tidak makan sesuapun, tidak berjalan selangkahpun dan berbuat sekecilpun kecuali dengan niat yang saleh. Jika itu semua telah benar maka semua amal yang kita perbuat hanya akan kita dedikasikan untuk-Nya. Segala beban akan hilang, dan niat ini akan menjelma menjadi karakter bagi seorang hamba. Maka kita tak akan lagi merasa terbebani dalam melaksanakan segala sesuatu, sebab Dia senantiasa memelihara. Jika Dia sendiri yang memelihara kita, maka Dia juga yang akan membuat kita kaya (meskipun tanpa harta) dan menutupinya dari makhluk, sehingga kita tak lagi membutuhkannya.
Beramallah hanya karena-Nya, dan jangan meminta upah sebiji sawipun. Beramal sajalah sambil mengharap ridha majikan (al-Musta'mil) dan kedekatan-Nya. Upah kita adalah ridha dan kedekatan-Nya pada kita didunia dan akhirat; didunia berupa kedekatan hati kita dan di akhirat berupa kedekatan fisik kita (qalib). Janganlah melihat amal kita, akan tetapi beramallah sambil anggota badan bergerak mengerjakan, sementara hati kita bersama Sang Majikan (Allah 'Azza Wa Jalla).
Ketika seorang hamba berlaku saleh hanya demi Allah, maka substansi (ma'na) telah berbentuk, dia akan senantiasa bersama dengan Allah dalam segala kondisi, merubahnya, menggantinya dan memindahkannya dari satu kondisi ke kondisi yang lain, hingga semua jadi bermakna dan yang pada akhirnya akan menjelma menjadi keimanan, keyakinan, kemakrifatan, kedekatan dan penyaksian. Ia juga akan menjelma menjadi siang tanpa malam, sinar tanpa kelam, suci bersih tanpa noda kotoran, hati tanpa nafsu, nurani tanpa hati, fana tanpa wujud, dan kegaiban tanpa ketampakan; dimana ia gaib dari manusia sekaligus dari dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar