Perdebatan yang panjang namun tak meyakinkan pada sifat esensial Iblis, yang sedemikian menonjol dalam karya-karya penelitian yang sering dipelajari sejauh ini, yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan perhatian yang lain dalam karya-karya selanjutnya, terutama dalam risalah sejarah dari penulisan abad keenam belas, Ad-Diyarbakri (wafat 1574 M). Tak ada lagi penekanan yang terfokus pada keagungan dan kekuasaan kosmis Iblis, yang sama pentingnya adalah kehidupan batiniah dari keyakinannya. Iblis bukan hanya penjaga dan penyimpan kekayaan surga, penguasaan langit dan bumi, tetapi juga merupakan penyembah yang berpengalaman dan pengabdi yang rajin untuk mencapai penyatuan dengan Allah.
Dua mitos yang dikemukakan oleh Ad-Diyarbakri menggambarkan kehidupan awal Iblis berkenaan dengan peralihannya dari derajat eksistensi kosmik yang paling rendah sampai kederajat yang paling tinggi. Penjelasan dari tahap-tahap yang berbeda ini dalam kehidupannya mewakili suatu gambaran kiasan dari jalan sufi.
Dalam mitos pertama, Allah menciptakan Iblis dan menempatkan dirinya dibawah bumi ketujuh. Dia berkembang dari bumi ketujuh sampai bumi pertama hanya dengan beberapa ratus tahun ibadah yang tiada henti-hentinya. Namun perjalananya belumlah sempurna. Dari bumi pertama dia naik kelangit pertama, sama'ad-dunya, yang kemudian dia menemukan enam langit yang harus dia lewati selanjutnya. Masih diperlukan lagi ribuan tahun ibadah untuk perkembangan selanjutnya dalam upaya untuk mencapai kesempurnaan. Pada akhir perjalanannya yang sukar terlihatlah Singgasana Allah dan terpenuhinya kehidupan mistik.
Mitos kedua tentang kenaikan berasal dari kesempurnaan batin Iblis dalam keadaan yang bahkan lebih keras. Setelah penciptaan jin, Allah menempatkan mereka kebumi dimana hasrat dan hawa nafsu menguasai mereka dan mereka dibumi manghasilkan keturunan. Jin dan keturunannya adalah makhluk-makhluk yang bersifat tamak, iri hati dan suka berperang yang kehidupannya disibukkan dengan mencari hal-hal yang dilarang. Allah dengan kasih sayang-Nya mengirimkan para utusan dan Nabi-Nya dengan harapan dapat mengubah mereka dari keburukan, akan tetapi jin menolaknya. Diantara sekian banyak jin yang berdosa hiduplah seorang jin prtapa (zahid) yang bernama Azazil. Karena tak mampu bertahan dari kerusakan bangsanya, dia pindah kelangit yang tinggi dimana dia melakukan suatu pertapaan disana. Terpisah dari kejahatan dunia, disana ia menghabiskan hidupnya untuk menyembah kepada Allah Yang Maha Esa.
Tak lama kemudian para malaikat dari langit pertama melihatnya dan memohon kepada Allah untuk menaikkan Azazil kedalam sama'ad-dunya sehingga mereka, para malaikat, gembira melihatnya. Allah menaikkan Azazil, dan diapun terus beribadah yang mana jauh lebih tekun dari pada penghuni langit pertama. Para malaikat dan dari langit kedua sangat mengagumi kesuciannya dan memohon agar Azazil diizinkan untuk tinggal bersama mereka. Sekali lagi dia naik dan mengalahkan teman-temannya dalam ketekunan beribadah. Dan demikian, Azazil berpindah dari langit kelangit, sampai Allah menaikkan kedalam Singgasana-Nya sendiri.
Waktu berlalu, Azazil menjadi seorang yang dekat dengan para pembawa Singgasana dan dengan para malaikat yang tak henti-hentinya menaikkan Singgasana. Iblis sedemikian dihargai dan dihormati oleh mereka sehingga dia dijadikan perwalian kekayaan Singgasana; kunci ke surga dipercayakan dalam penjagaannya. Apabila Azazil melewati langit-langit, para malaikat penghuni langit memanggilnya;"Wahai penjaga surga, Wahai penjaga orang-orang yang beribadah kepada Allah!"
Namun demikian, agar pembaca jangan sampai terkuasai oleh kekaguman terhadap Iblis, Ad-Diyarbakri melampirkan sebuah keberatan terhadap mitos tersebut, suatu gambaran kematian Azazil yang tragis; "Jangan sampai disesatkan oleh kesalehannya! dibalik setiap perbuatan yang saleh ada kesesatan. Jangan percaya dengan kataatannya! Dalam setiap perbuatan taat ada kerusakan."
Arti yang mendua dan kontroversi disekitar asal mula Iblis membawa kita kedalam penggambaran jin dalam catatan Hadist Islam. Tidak cukup bagi ahli tafsir Muslim untuk mengakui eksistensi secara sederhana, karena jin mewakili keluarga bangsa Iblis, dan sedemikian rupa tidak dapat ditelusuri dengan mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar