Kamis, 10 Desember 2009

Hipotesis Tentang Substansi Hakiki dari Jin

Dalam konteks hubungannya terhadap Iblis inilah, jin akan kami jadikan topik utama dalam tulisan kami kali ini;

Jin pada umumnya dipercaya sebagai makhluk spiritual, bagian dari dunia yang gaib. Kegaiban dan ketersembunyian adalah merupakan konsep fundamental yang darinya nama mereka berasal, yaitu jin. Jin diciptakan ribuan tahun sebelum manusia. Beberapa orang menganggap mereka adalah species atau suku dari malaikat, sehingga mereka diciptakan pada saat yang sama ketika malaikat diciptakan. Jin tidak sama karakternya, ada beberapa perbedaan berarti diantara mereka. Beberapa jin makan, minum dan memiliki anak, namun jin-jin yang murni berbeda, mereka tidak makan, minum ataupun beranak. Beberapa jin mempunyai sayap, beberapa yang lain memiliki bentuk seperti binatang.

Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa Iblis bukanlah anggota ras jin, namun menyatakan bahwa Iblis adalah nenek moyang jin, ayah dari jin, seperti Adam yang merupakan ayah bagi umat manusia. Dalam peran inilah kadang-kadang jin disebut Al-Jann. Iblis dan keturunannya diciptakan dari substansi yang biasanya disebut nar as-samun. Nar as-samun ini (atau marij min nar sebagai mana jin kadang-kadang disebutkan) diterangkan dalam beberapa cara. Bagi beberapa orang, subtansi nar ini merupakan panas dari suatu api yang tak berasap, suatu panas yang menembus pori-pori. Ini juga merupakan subtansi yang darinya dapat dihasilkan gulungan cahaya. At-Tabari mengemukakan bahwa nar as-samun berhubungan dengan angin-angin panas yang bertiup dimalam hari. Barang kali nar as-samun merupakan angin panas yang berkobar, atau angin puyuh yang mampu melumpuhkan manusia. At-Tabari juga menunjukkan bahwa nar as-samun dapat merupakan hati dari nyala api dan bukannya angin. Namun demikian, beberapa versi sependapat tentang panas yang hebat dan kualitas nonmaterial dari substansi dari penciptaan ini, nar as-samun.

Penciptaan jin dari nar as-samun bukan merupakan suatu kejadian yang terjadi sekaligus dan kemudian tidak pernah lagi terjadi, karena jin terus-menerus bereproduksi diantara mereka sendiri. Oleh karena itu, Iblis adalah nenek moyang dalam arti fisik maupun spiritual. At-Tabari melaporkan dari Ibn Zayd bahwa Allah telah berkata kepada Iblis; "Aku tidak akan memberi Adam keturunan tanpa memberi keturunan kepadamu. Tak ada anak manusia hidup tanpa memiliki seorang syaitan pendamping yang berpasangan dengannya."

Namun Iblis tidaklah menurunkan keturunannya seperti manusia. Dua hipotesis telah diberikan, dan dalam kedua hipotesis itu kemampuan generatif sangat berbeda dari manusia. Dalam salah satu catatan hadist, Iblis melahirkan atas kemauannya sendiri, dalam cara reproduksi hermaprodit yang sekaligus mempunyai organ-organ generatif laki-laki maupun perempuan. Dalam catatan yang lain, Iblis di katakan menghasilkan telur-telur yang darinya akan ditetaskan anak-anaknya. Hipotesis ketiga mengemukakan Iblis menemukan seorang pasangan dengan menyatakan bahwa dia sebenarnya telah menghamili ular dari surga yang merupakan sekutu jahatnya dalam penggodaan Adam dan Hawa.

Keturunan yang dilahirkan oleh Iblis tidak terbatas pada jiwa-jiwa yang disebut jin, tetapi juga termasuk jiwa-jiwa yang disebut dengan shayatin atau setan. Pemimpin dari mereka adalah suatu kelompok yang beranggotakan lima jin yang kejahatan dan aniayanya menyentuh seluruh aspek kehidupan. Antara lain Zalanbur, Thabr, Al A'war, Miswat dan dasim.

Al-Qur'an mengatakan tidak hanya keturunan Iblis secara fisik (dhurriya) tetapi juga pasukan pengikutnya yang memandang Iblis sebagai penguasa. Dia mungkin bukan merupakan bapaknya secara fisik, tetapi dia adalah pemimpin dan pembimbing spiritualnya, yang perintahnya mereka patuhi dan kata-katanya mereka junjung sebagai hukum. Makhluk apapun, manusia laki-laki atau perempuan, jin, setan dan siapapun yang mau berjanji setia kepadanya akan diterima sebagai golongannya. Karakteristik pengikut Iblis biasanya sombong dan ceroboh, tidak ada perbuatan-perbuatan kasar dan sombong yang berada diluar pengetahuannya. Mereka bahkan berlomba-lomba dengan gurunya untuk berbuat kejahatan.

Tidak ada komentar: