Kamis, 10 Desember 2009

KONFRONTASI IBLIS DENGAN ADAM

Dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya."

Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuannya. Kecuali iblis, dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

Allah berfirman; "Hai iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"

Iblis berkata; "aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia, Engkau ciptakan dari tanah."

Allah berfirman;"Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan."

Iblis berkata;"Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan."

Allah berfirman;"Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)."

Iblis menjawab;"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas diantara mereka."

Allah berfirman;"Maka yang benar(adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku katakan. Sesungguhnya aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu diantara mereka semuanya."(QS. Shaad(38): 71-85)

Dalam mitos penciptaan didalam islam, masa penciptaan dimulai pada hari Minggu dan mencapai puncaknya pada hari Jum'at. Yang paling penting dalam makhluk ciptaan Allah-yaitu Adam-di ciptakan pada jam-jam terakhir hari Jum'at, sementara itu pada hari-hari sebelumnya, telah diciptakan langit-langit, para malaikat dan surga. Tubuh Adam dibentuk dari tanah liat yang dikumpulkan dari ujung-ujung dunia Islam-Mesir, Yaman, Hijaz, daerah-daerah jauh diwilayah timur dan barat dan juga dari pusat kehidupan Islam Ka'bah.

Allah menempatkan makhluk ciptaan-Nya yang paling indah ini dipintu masuk Surga sehingga seluruh malaikat dapat mengagumi keajaiban ini yang sebelumnya tak pernah terlihat didalam alam semesta. Ibnu Kathir dan Ats-Tsa'alibi menggambarkan suasana ini dengan hidup:

Kemudian para malaikat melewatinya. Ketika melihatnya, mereka sangat ketakutan. Dari mereka semua Iblislah yang paling terkejut. Iblis berputar-putar disekitarnya dan menyerangnya. Tubuh itu bersuara seperti sebuah jambangan tanah liat.

Dan Iblis berkata;"Engkau diciptakan karena berbagai alasan atau alasan yang lain." Lalu Iblis menyerang tubuh itu dengan tangannya. Tubuh itu terlihat berlubang! Iblis memasukinya melalui mulutnya dan keluar melalui pantatnya. Iblis berkata kepada teman-temannya, para malaikat yang bersama dengannya, "Ini adalah makhluk yang berlubang. Makhluk ini tidak kuat dan tidak pula tersambung dengan kuat."

Kemudian Iblis berkata kepada mereka;"Apakah kamu memperlihatkan bahwa Dia(Allah) lebih menyukai makhluk ini dari pada engkau? Dengan demikian apa yang kalian lakukan tentang ini?" Mereka menjawab,"Kami akan menaati Tuhan kami." Iblis berkata pada dirinya sendiri,"Demi Allah, sesungguhnya jika Dia lebih menyukai makhluk ini dari pada aku, maka aku akan benar-benar menentang-Nya. Dan jikan aku diciptakan lebih tinggi dari pada dia, maka aku akan menghancurkan dia."

Penolakan Iblis terhadap perintah Allah, menyebabkan dia ditempatkan dalam kelompok kafirun, orang-orang munafik dan para penipu yang perhatiannya terhadap kebesaran diri telah membutakan terhadap seruan Allah. Perkataan Iblis 'Ana khayrun minhu (Aku lebih baik dari dia) menggaung sepanjang masa-masa penciptaan sebagai ekspresi kesombongan. Kesombongan dan sikapnya yang meremehkan ketika berhadapan dengan Adam yang baru saja diciptakan disebutkan kembali oleh Allah dalam Kitab Suci-Nya, sebagai suatu tanda bagi orang-orang masa Nabi Muhammad SAW. Karena nasib Iblis, kutukan dan kebinasaannya, adalah sama dengan nasib yang diberikan Allah bagi kaum musyrikun(orang-orang yang menyekutukan Allah) dari Mekkah dan bangsa Yahudi yang telah mengejek Nabi Muhammad SAW dan mencemoohkan pesan-pesan beliau.

"Aku lebih baik dari pada dia! Aku Engkau ciptakan dari api, dia Engkau ciptakan dari tanah liat"

Kesombongan dan arogansi Iblis timbul dari keyakinannya atas superioritas esensi ciptaan dirinya daripada esensi ciptaan Adam. Api kelihatannya lebih baik dan lebih kuat daripada tanah liat; dan pada kenyataannya, api dapat menghancurkan tanah liat dalam nyala api yang menghanguskan. Tidak ada keraguan dalam diri Iblis bahwa dia adalah makhluk superior(fadil), seharusnya tidak pernah bersujud dihadapan makhluk yang lemah ini, yang untuk sementara waktu telah mendapatkan kesenangan dan kemuliaan dari Allah.



Untuk sampai pada kesimpulan ini Iblis telah memanfaatkan dirinya sebagai suatu alat pemikiran yang disebut dengan qiyas (analogi). Para ahli tafsir Al-Qur'an, dalam menghubungkan Iblis dan qiyas ini, telah merenungkan perhatian Islam yang lebih luas. Bukti dari periode formatif kemasa sekarang, dengan menentukan kekuatan pikiran manusia. Dapatkah manusia mencapai kebenaran melalui kekuatannya atau apakah semua kebenaran mengandung wahyu? Yang lebih langsung berhubungan dengan masalah, apa yang akan dilakukan oleh masyarakat muslim periode awal ketika menghadapi masalah yang solusinya belum ada, baik melalui perujukan Al-Qur'an atau dengan mempelajari sunnah Nabi.



Beberapa orang, seperti kelompok mu'tazilah menganjurkan untuk memberikan pengendalian terhadap kekuatan pikiran manusia, nazar dan terhadap qiyas. Beberapa orang yang lain menolak, seperti kelompok zahiris, menolak kemanjuran pikiran manusia yang benar-benar bebas, yang menyatakan bahwa analogi tidaklah berarti dalam mempertanyakan kebenaran religius. Untuk menyadari pikiran manusia sendiri adalah dengan menempatkan kekuatan-kekuatan manusia yang sebenarnya lemah setingkat dengan Al-Qur'an yang diwahyukan dan hadist Nabi.



Posisi yang lebih moderat diberikan oleh seorang ahli hukum Asy-Syafi'i(wafat 820m) yang berhasil dalam menentukan qiyas sebagai sebuah alat untuk mengembangkan teori hukum islam. Jelasnya, Syafi'i tidak menempatkan pikiran analogis sejajar dengan Al-Qur'an dan Sunnah, meskipun demikian dia mengakuinya sebagai suatu cara yang penting dalam kasus-kasus tertentu untuk sampai pada jawaban terhadap masalah-masalah religius yang sulit.



Kaitan Iblis dengan qiyas merupakan suatu tanda bahwa pikiran analogis, atau metode lain apapun yang mengunakan pikiran manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kebenaran agama, penuh dengan bahaya. Memang benar, ada saatnya pikiran itu harus digunakan, namun seseorang harus berhati-hati agar tidak terlalu jauh melangkah melewati batas-batasnya. Kasus Iblis tetap menjadi contoh utama bagi ahli tafsir muslim tentang keterbatasan-keterbatasan dan ketidakjujuran akal manusia.



Setelah merenungi dengan cermat dirinya dengan Adam, Iblis mengambil kesimpulan dengan analogi bahwa ia sebenarnya adalah makhluk yang superior karena api kelihatannya lebih superior daripada tanah liat. Dia menyimpulkan bahwa dia secara sah tidak dapat diwajibkan untuk bersujud dihadapan makhluk inferior ini, sekalipun perintah Allah demikian. Melalui proses pemikiran ini Iblis menjadi makhluk pertama yang meloncat langsung kedalam jurang qiyas. Analogi dan kesimpulannya yang kelihatannya logis telah memperkeras hatinya terhadap perintah Allah dan memikatnya kedalam kerusakan dirinya sendiri.

Hanya dengan melihat asal mulanya yang lebih baik secara fisik, iblis telah salah mengartikan dari yang sebagian untuk keseluruhan. Karena iblis mengabaikan Roh yang Allah telah tiupkan kedalam tubuh Adam dan kedalaman pengetahuan Adam, dua sifat yang unik. Dia tidak menyadari bahwa dalam pandangan Allah kemuliaan yang sebenarnya adalah kualitas internal batin, suatu kualitas yang sangat berhubungan erat dengan kesempurnaan, kepercayaan dan dedikasi makhluk terhadap karya-karya yang baik.

Selanjutnya Ibnu Khatir dan At-Tabari mengembangkan suatu analisis komparatif pada kualitas-kualitas tertentu dari tanah liat dan api. Tanah liat digolongkan dengan kestabilan, kesabaran, ketekunan, kebaikan hati, dan sejenisnya. Api sebaliknya, digolongkan dengan ketidak stabilan, tidak teguh dan berubah-ubah, gelisah, mudah berubah pikiran, dan tergesa-gesa; api ini menyebabkan kerusakan dan kebinasaan. Jadi kelemahan qiyas iblis adalah terletak pada kekosongannya. Inilah suatu peringatan bagi semua yang akan menempatkan ANALOGI PIKIRAN menjadi hal yang utama dari pada KEYAKINAN terhadap KEHENDAK ALLAH SWT.





Tidak ada komentar: