Konfrontasi pertama dengan manusia berakhir dengan bencana bagi Iblis, pilihannya telah mengisolasi dirinya dari lingkungan kerabat malaikatnya dan mencapai dia sebagai pembelot, yang benar-benar layak mendapat kutukan Allah. Iblis diusir dari surga, ada yang mengatakan bahwa Iblis juga dibuang dari langit. Para ahli tafsir tidak merasa pasti tentang tempat kediaman setelah pembuangannya. Ibnu Khatir percaya bahwa Iblis dibuang dibumi, sementara At-Tabari memberikan lokasi tempat pembuangannya ditengah-tengah samudera, yang dari tempat itu Iblis melakukan penjarahan kedaratan dalam bentuk yang samar-samar, terutama dalam bentuk seorang pencuri. Dan tentu saja ada neraka, tempat hukuman akhir berapi yang disiapkan bagi semua orang kafir. Inilah tempat kediaman Iblis yang sebenarnya.
Kesombongan Iblis menimbulkan suatu transformasi yang menyeluruh, baik secara internal maupun eksternal. Nama berubah dai Azazil menjadi Iblis dan sejak itu terjadi perubahan dalam karakter dan menunjuk pada kedalaman perubahan menjadi setan. Sifat buruknya terjadi dengan sendirinya sebagai Ash-Shaytan. "Dan Dia (Allah) berfirman;`Keluarlah dari surga! Karena sesungguhnya kamu terkutuk" (QS. Al Hijr; 34)
Selanjutnya Iblis merupakan seorang paria (orang dengan kasta yang paling rendah) yang penuh dengan penjalaran sifat setan, nasibnya sangat terhina, dikutuk dan dandiusir dengan kutukan keimanan. Bayangan pengutukan bahkan tetap terlihat pada dataran kosmik, karena apabila seorang beriman memandang keatas langit pada malam hari dan melihat bintang-bintang berkilat jatuh seakan-akan melintas angkasa, mereka sesungguhnya sedang melihat peperangan antara para malaikat dan Iblis. Setiap saat Iblis dan para tentaranya menyerang langit untuk memastikan suatu pijakan didaerah kemegahan yang sebelumnya pernah mereka kuasai, para malaikat yang menghuninya, menghujani mereka dengan meteor. Iblis dan para pengikutnya sekali lagi terusir ketempat-tempat kegelapan yang lebih rendah dan hina derajatnya.
Ats-Tsalabil merangkum beberapa aspek hukuman Iblis pada sepuluh tujuan;
(1) Iblis kehilangan seluruh kekuasaannya. Dia tidak lagi menguasai bumi atau langit diatas bumi, dan tidak lagi ditugaskan sebagai penjaga surga;
(2) Allah memerintahkan bahwa dia diusir dari lingkungan surga menuju bumi;
(3) Bentuk Iblis mengalami degenerasi dari bentuk wujud kemalaikatan menjadi suatu wujud setan;
(4) Perubahan-perubahan batin maupun lahirnya memerlukan suatu perubahan nama, nama Azazil yang beriman menjadi yang lebih dikenal sebagai Iblis yang licik;
(5) Allah menentukan dia sebagai pemimpin (imam) bagi kejahatan;
(6) Iblis menanggung kutukan dari Allah sendiri;
(7) Gnosis ketuhanan (ma'rifat) selamanya akan tetap berada diluar jangkauan Iblis;
(8) Pintu ampunan terkunci baginya;
(9) Dia adalah pemberontak abadi, yang tidak mempunyai kebaikan dan kasih sayang;
(10) Melalui kebadiannya Iblis akan menjadi juru bicara bagi orang-orang yang akan menghuni api neraka.
Tidak cukup untuk mencatat hukuman-hukuman yang akan diderita iblis. Catatan hadist berubah menjadi dongeng mitos sebagai suatu bentuk yang cukup memadai untuk mengekspresikan kekuatan emosional dari kejatuhan Iblis yang tragis. Ilustrasi yang layak terliput dalam karya-karya Ad-Diyarbakri dan Ats-Tsa'alabi yang masing-masing karya tadi menyoroti tonggak-tonggak konflik dalam kepribadian Iblis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar