Kemudian bagaimana Iblis menemukan dirinya diantara para malaikat ketika Allah menciptakan Adam? Beberapa ahli tafsir Muslim menceritakan suatu peperangan yang terjadi selama masa kanak-kanak Iblis antara para malaikat dan jin, keluarga Iblis. Selama pergulatan itu, Iblis dibawa sebagai tawanan oleh kelompok malaikat, dan ia tumbuh dan berkembang diantara kelompok malaikat itu. Waktu terus berlalu dan selama itu asal usulnya yang bukan malaikat jadi terlupakan, walaupun Allah mengetahui sifat yang sesungguhnya. Iblis tidak hanya hidup dan beribadah dengan para malaikat, tetapi mereka juga menerima tugas-tugas kemalaikatan yang penting sebagai penjaga kekayaan (khazin) Surga dan penguasa langit. Hanya pada saat penciptaan Adam, Allah memperlihatkan Iblis sebagai kelompok jin. Pembangkangan yang congkak menggetarkan teman-teman sejawat malaikatnya dan terlihatlah sifat Iblis yang sebenarnya.
Yang sama buruknya seperti penolakan yang dilakukan Iblis adalah sifat kejasmaniahannya yang sangat mencolok. Bertolak belakang dengan kemurnian spiritual dan pemisahan roh-roh kemalaikatan, Iblis terisi dengan hasrat birahi dan dari hawa nafsu inilah timbul keturunannya; "Patutkah kamu (Adam) mengambil dia (Iblis) dan turun-turunannya sebagai pemimpin selain dari Aku?" (QS. Al-Kahfi; 50). Anak-anak keturunannya adalah bala tentara setan yang menjelajahi alam semesta untuk menimbulkan kejahatan, dan mereka sebagai saksi hidup terhadap perbedaan yang mencolok antara Iblis dan malaikat.
Dalam empat perkara At-Tabari merangkum argumentasi berkenaan dengan asal mula Iblis yang bersifat bukan malaikat: (1) ketika Al-Qur'an membicarakan jin, hal ini merujuk pada suatu kelas jiwa yang dapat dibedakan dengan jelas, dan tidak sekedar perbedaan suku bangsa atau klan: (2) malaikat dengan sifat alamiahnya tidak akan berbuat dosa: (3) Iblis memiliki keturunan dan anak cucu, yang secara fisik merupakan ayah bagi jin sebagaimana Adam adalah ayah bagi umat manusia; para malaikat adalah jiwa-jiwa yang diciptakan dari air, beberapa orang menyataka diciptakan dari cahaya. Malaikat tidak beranak, tidak minum dan tidak pula makan; (4) "Segala puji bagi Allah.....yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan" (QS. Fathir; 1) Allah tidak akan membuat para utusannya tidak percaya atau berakhlak buruk, karena jika demikian maka mereka akan berbohong dan menyesatkan wahyu-wahyu-Nya.
Argumen yang diberikan untuk membantah hal-hal tersebut, yaitu penegasan kembali status kemalaikatan Iblis, sekali lagi menekankan pada peran kehidupan Iblis yang sebenarnya diantara para malaikat pada waktu mereka diperintah untuk bersujud kepada Adam. Karena Iblis bukan bagian dari para malaikat, dia tidak merasa telah diperintahkan untuk bersujud dan dia juga tidak merasa bertanggung jawab terhadap penolakannya, perintah hanya berlaku pada para malaikat dan tidak bagi yang lainnya. Sekalipun kenyataannya sangat berbeda sama sekali, Iblis adalah bagian dari malaikat.
Kemampuan untuk memberikan keturunan tidak secara otomatis merupakan tanda dari kejahatannya ataupun sifat dasarnya. Seperti yang telah dinyatakan oleh beberapa orang, mungkin saja ada bahwa ada suatu species malaikat tertentu yang mampu berkembang biak. Species ini adalah malaikat-malaikat yang dikenal sebagai jin dan Iblis adalah salah satu diantaranya.
Bahkan penolakan Iblis atas perintah Allah tidak terlihat sebagai tanda kekurangannya yang tidak dapat dicela terhadap status kemalaikatan. Mengapa tidak mungkin ada satu malaikat yang berbuat dosa? apakah tidak terbayangkan bahwa ada seorang manusia yang tidak pernah berbuat dosa, meskipun kita tahu bahwa sebagian besar manusia adalah orang-orang yang pernah berbuat dosa?
Sekali lagi, dalam Majma' al-bayan dari At-Tabari itulah maka argumen-argumen yang bersifat sebagai bantahan telah dirangkum: (1) jin adalah suatu species atau bangsa malaikat dan bukan kelompok yang sifatnya berbeda. Mengapa mereka disebut jin? Hal ini karena mereka tidak kelihatan (ijtana) dari pandangan manusia pada umumnya; (2) sikap yang tidak tercela tidak seharusnya diberikan kepada seluruh malaikat, karena sikap tersebut hanyalah nilai tertentu dari para penjaga kekayaan (khazana). Khazana Surga dimana Iblis termasuk didalamnya, bisa saja berbuat sesuatu yang berdosa; (3) pandangan bahwa jin berbeda karena mereka diciptakan dari api, sementara itu malaikat adalah makhluk spiritual yang diciptakan dari air dan cahaya, tidak sepenuhnya dibenarkan. Tak seorangpun dapat membantah bahwa malaikat-malaikat diciptakan dari cahaya, namun demikian perbedaan antara api dan cahaya tidaklah berarti, kecuali ada beberapa perbedaan yang esensial. Demikian juga, bukti untuk pernyataan bahwa jin makan dan minum tidaklah meyakinkan. Ada bukti yang berlawanan yang menunjukkan bahwa jin adalah makhluk spiritual yang memiliki kemampuan untuk merasakan, namun tidak untuk makan dan minum; (4) dan yang terakhir, argumen yang didasarkan pada pemilihan Allah terhadap malaikat sebagai utusan-utusan-Nya(Al-Qur'an 35; 1) tidak sepenuhnya akurat, karena ayat yang lain dari firman Allah menyebutkan; "Allah memilih utusan-utusan-Nya dari antara malaikat dan dari antara manusia" (QS. Al Hajj; 75). Untuk menyimpulkan bahwa malaikat-malaikat dan beberapa manusia tertentu yang Allah pilih sebagai utusan-utusan-Nya adalah benar dan harus diyakini karena sesuai dengan wahyu Allah. Namun demikian untuk menyatakan bahwa perutusan dari segelintir manusia dan malaikat secara tak langsung menunjukkan sikap yang tidak tercela dari semua (malaikat dan manusia) tidaklah masuk akal. Sejarah manusia buktinya.
BERSAMBUNG....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar