Perlakuan Iblis dalam teks Al-Qur'an merupakan ruang lingkup yang agak terbatas sebagaimana yang terlihat. Sejumlah keterangan telah diberikan tentang akar dari motif Iblis dengan menekankan kaitannya dengan naskah-naskah sebelum Islam maupun dengan konsep-konsep agama. Meskipun demikian, sangat penting untuk menggali corak lain dari literatur agama islam untuk menyempurnakan batas-batas umum dari biografi mitos tentang setan. Hanya dengan memahami peranannya dalam kerangka umum kehidupan Islam, seseorang dapat memahami kreatifitas yang dengannya para sufi telah mencetak simbologi tertentu tentang Iblis.
Tiga aliran literatur utama yang akan dipertimbangkan dalam artikel kali ini adalah tafsir Al-Qur'an, kumpulan kisah-kisah Nabi dan literatur Hadist. Dua jenis literatur yang pertama akan dibahas sendiri-sendiri. Sekalipun sebagian besar hadist secara kronologis lebih dahulu ada daripada tafsir Al-Qur'an dan rangkaiana kisah kenabian.
Tujuan pengamatan tafsir-tafsir dan kisah-kisah kenabian adalah untuk menggali unsur-unsur utama dari mitos Iblis sebagaimana hal ini dikembangkan, dianalisis dan digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran oleh ahli-ahli agama Islam. Tafsir dan kumpulan kisah kenabian membicarakan rentangan suatu periode yang berkisar dari abad kesembilan sampai abad keenam belas. Tujuannya bukanlah untuk menyajikan suatu perkembangan kronologis dari mitos, melainkan untuk mengelola unsur-unsur dasar yang menjadi bagian dari biografi mitos Iblis dan untuk mengulas masalah-masalah teologi utama yang direfleksikan dari pembahasan figur Iblis.
Nama setan, para penafsir menjelaskan tidak selalu Iblis; sepanjang zaman dari masa-masa mitos yang sedemikian panjang, sebelum dia melakukan dosanya, iblis disebut 'Azazil, dan kadang-kadang disebut Harits. Dari roh-roh yang mendiami bumi, 'Azazil adalah salah satu diantara mereka yang paling rajin dan berdedikasi, suatu wujud yang dikenal karena pandangan dan pengajarannya.
Tak ada orang-orang muslim yang menanyakan sifat spiritualitas Iblis, hanya saja yang menjadi masalah dan yang sering dipertanyakan adalah difinisi yang tepat tentang keluarga roh-roh, yang mana Iblis termasuk ada didalamnya. Dalam hal ini Al-Qur'an tidak menjelaskan setepat dan segamblang yang diharapkan oleh semua umat muslim. Walaupun Iblis dikatakan berhubungan erat dengan para malaikat dalam penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an dimana dia diberi nama, tapi Iblis sendiri tidak pernah disebut malaikat, dan tentang dosanya yaitu penolakanya untuk sujud di hadapan Adam telah telah membuat dirinya terpisah dari semua wujud atau kehidupan kemalaikatan yang lainnya. Selain itu salah satu ayat didalam Al-Qur'an menggambarkan Iblis sebagai "jin": "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat;`Sujudlah kamu kepada Adam maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin" (QS. Al-Kahfi; 50).
Bagi sebagian orang muslim, ayat ini dianggap lebih banyak memunculkan masalah, karena didalam ayat ini tidak tidak secara jelas menggambarkan sifat dari jin itu sendiri. Ayat ini menimbulkan pertanyaan terbuka; apakah jin-jin itu termasuk malaikat atau jenis roh yang berbeda? Jika mereka berbeda, lalu apa hubungannya sesunguhnya dengan para malaikat?
Beberapa pandangan yang menegaskan sifat kemalaikatan Iblis secara jelas dapat dilihat diantara para penafsir yang mengartikan pernyataan Al-Qur'an "dia adalah dari golongan jin" sebagaimana yang ditunjukkan pada suku bangsa atau klan tertentu dari para malaikat yang mana Iblis termasuk didalamnya. Tak perlu dipertanyakan tentang kurangnya status kemalaikatan dari jin, karena itu juga untuk Iblis. Sebaliknya, jin dan Iblis, adalah malaikat-malaikat yang diberi kepercayaan dengan tugas-tugas kosmik tertentu; mereka adalah penjaga kekayaan (khazana) surga (Al-jinna atau Al-jinan). Kaitan dengan surga inilah yang berperan dalam penurunan nama klannya yaitu al-jinn. Selain itu. Iblis sendiri ditempatkan untuk menguasai semua yang ada dilangit dan bumi. Sebagai penguasa tunggal dari sama'ad-dunya, dan juga bumi dan seluruh jiwa yang ditemukan didalamnya, dia sosok sebuah makhluk tanpa tanding. Kekuasaan dan keagungan ini merupakan suatu kedudukan yang unik, maka kesombongan iblis pun muncul.
Para ahli tafsir Muslim yang meragukan status kemalaikatan berkeras bahwa ayat ini "dia adalah dari golongan jin" jauh lebih penting sebagai suatu indikasi afiliasi kelompok Iblis. Ayat ini menunjukkan suatu perbedaan yang sangat penting antara malaikat yang diperintah untuk bersujud di hadapan Adam dengan Iblis. Jin, sebagaimana ia berbeda dari malaikat, mereka juga berbeda dengan manusia, dan asal mula Iblis sendiri tentunya harus ditelusuri lebih jauh hingga ke species jiwa yang rendah ini yang disebut jin.
Barangkali argumen yang paling sederhana dan paling meyakinkan tentang status kemalaikatan Iblis dikemukakan oleh Al-Baydawi dan teman-temannya ketika mereka menyatakan bahwa para malaikat dengan sifat alamiahnya tidak pernah berbuat dosa. Didalam Taurat ada disebutkan bahwa para malaikat adalah penyampai wahyu, pemberi hukuman, pembawa, penolong, mereka hanya berbuat sesuai dengan kehendak Allah dan mereka berfungsi sebagai instrumen Allah. Bagi mereka, memberontak adalah hal yang tidak dapat dibayangkan yang mana pada kenyataannya adalah tidak mungkin. Ini berarti menunjukkan bahwa pengetahuan tentang malaikat (angelologi) antara Islam dan Yahudi adalah sama. Penolakan Iblis untuk mematuhi perintah Allah adalah bukti kuat bahwa dia bukanlah malaikat; "Mereka (para malaikat) tidak pernah mendurhakai terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS. At-Tahrim; 6)
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar