Agama Islam didasarkan pada firman Allah yang diwahyukan, yaitu Al-Qur'an, disini dalam sumber bagi kesalehan seluruh muslim, orang-orang yang beriman akan menemukan, barangkali untuk yang pertama kalinya, figur setan menurut Islam yaitu Iblis. Iblis disebut dalam sembilan kejadian khusus dalam konteks yang sebagian besar berhubungan dengan dua kejadian mitos penting; Konfrontasi iblis dengan Adam yang baru saja diciptakan yang kemudian mengakibatkan kutukan terhadap iblis dan pembalasannya terhadap umat manusia melalui penggodaan Adam dan Hawa.
Gambaran majemuk dari mitos-mitos ini baik seperti yang terlihat secara keseluruhan maupun secara sebagian dalam beberapa bagian ayat Al-Qur'an akan mengandung unsur-unsur berikut; Allah menciptakan Adam dari tanah liat dan meniupkan kedalamnya sebagian roh-Nya; setelah itu Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud dihadapan makhluk ciptaan-Nya yang unik ini. Semua mematuhi kecuali Iblis yang percaya bahwa esensi dirinya yang terbuat dari api telah meningkatkan derajat mereka jauh diatas manusia, suatu makhluk yang hanya tercipta dari tanah liat. Karena penolakan Iblis inilah akhirnya dikutuk oleh Allah dan diusir dari surga. Kemudian dia menjadi sasaran kekhawatiran dan ejekan, "setan yang terkutuk". Namun demikian, Iblis tidak berhenti begitu saja, dia memohon kelonggaran hukumannya kepada Allah sehingga dia dapat menjadi penggoda manusia, yang menguji manusia untuk menemukan siapa tuhan yang sebenarnya. Permintaan Iblis ini dikabulkan, namun demikian dengan pemahaman bahwa dia tidak dapat mengoyahkan manusia, laki-laki maupun perempuan, yang beriman untuk berbuat dosa; terhadap manusia Iblis mempunyai kekuasaan merayunya tapi tidak untuk memaksanya.
Adam dan Hawa adalah yang pertama menjadi korban tipu muslihat Iblis. Setelah menciptakan Adam dan Hawa, Allah menempatkan mereka didalam surga dimana Dia memberikan banyak kesenangan bagi mereka. Allah hanya melarang mereka mendekati sebuah pohon. Namun Iblis datang dengan bisikan setannya (waswasa), yang menjanjikan Adam dan Hawa status kemalaikatan, bahkan juga kehidupan yang kekal, jika mereka memakan buah dari pohon tadi; jadi Iblis telah membuat mereka "tergelincir" dari jalannya (azzallahuma). Ketika mereka memakan dari pohon yang terlarang tadi, aurat mereka jadi kelihatan dan dengan rasa malu, mereka cepat-cepat membuat pakaian dari daun-daun pohon tersebut. Dari surga Adam dan Hawa diturunkan kedunia, yang sekaligus bersama dengan mereka membawa bibit-bibit agresif manusia. Manusia akan saling bermusuhan satu sama lain dan Iblis akan menjadi musuh bagi semuanya.
Walaupun referensi Al-Qur'an terhadap Iblis terutama berhubungan dengan kedua mitos tersebut, namun tidak berarti dapat diasumsikan bahwa muatan-muatan tersebut membentuk satu-satunya referensi Al-Qur'an tentang figur setan didalam Islam. Sebaliknya, nama Ash-Shaytan atau setan, terlihat lebih dari lima puluh kali dalam teks Al-Qur'an. Didalam kedua mitos yang digambarkan diatas, judul yang ada sebenarnya dapat saling ditukar, dengan nama Iblis digunakan dalam konteks penciptaan manusia dan kegagalan setan, sementara Ash-shaytan digunakan untuk bujukan terhadap Adam dan Hawa.
Keadaan-keadaan lain dari Ash-Shaytan tidak berhubungan dengan struktur mistik apapun. Agaknya sebagian besar kasus menyentuh beberapa aspek keterlibatan setan dalam kehidupan spiritual manusia, suatu keterlibatan yang telah diramalkan dalam mitos kegagalannya dan pembangkangannya untuk pertama kalinya dalam tipu muslihat terhadap Adam dan Hawa. Beberapa keterampilan setan terlihat dengan frekuensi tertentu dalam teks Al-Qur'an. Ash-Shaytan misalnya, adalah seorang penguasa yang menghiasi perbuatan-perbuatan manusia, yang memberi manusia kepercayaan yang salah dalam kekuasaannya sendiri. Tujuan-tujuan ini dan beberapa tujuan yang lainnya dicapai tidak melalui paksaan melainkan melalui godaan dan bisikan yang halus (nazgh, waswasa) atau dengan pengaruhnya yang menyebabkan kelupaan atau kelalaian dalam pikiran orang yang beriman. Ash-Shaytan tidak menjanjikan apa-apa selain ilusi-ilusi kosong, walaupun dia menyatakan sebagai orang kepercayaan yang taat, dan segera sesudah seseorang mematuhinya setang segera meninggalkan dia.
"Jangan mengikuti langkah-langkah setan" sebuah anjuran dari Al-Qur'an yang berulang kali disebutkan, "Karena dia sebenarnya adalah musuh yang nyata bagimu." Persahabatan dan kedekatan dengannya hanya akan membawa pada kerusakan. Al-Qur'an memerintahkan orang beriman untuk memohon perlindungan Allah dari kekuatan setan dan para pengikutnya. Do'a "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk" telah diberikan secara turun temurun selama beberapa abad sejarah agama Islam sebagai suatu perlindungan yang efektif dari kekuatan Iblis/Ash-Shaytan.
Gambaran-gambaran ringkas apapun tentang figur Iblis/Ash-Shaytan yang didasarkan pada teks Al-Qur'an tidak perlu diupayakan dalam isolasi intelektual dari lingkungan keagamaan yang lebih luas dimana Islam itu sendiri berkembang. Karena itu Al-Qur'an adalah sebagai titik kulminasi yang dipahami oleh umat muslim sebagai wahyu Allah dari firmanNya, yang menggantikan dan mengoreksi Taurat Yahudi maupun Injil Kristen. Kitab-kitab suci dari kedua masyarakat (yang mana orang-orang Islam percaya) telah mengalami perubahan yang berhubungan dengan tradisi-tradisi agama tersebut. Akibatnya, dengan mempelajari Taurat dan Injil berdasarkan beberapa pandangan dari dalam Al-Qur'an, Seseorang dapat sampai pada pengetahuan yang sebenarnya tentang makna wahyu Allah.
Karena kesinambungan yang diakui oleh masyarakat Muslim antara Taurat, Injil dan Al-Qur'an, maka sama sekali tidak mengherankan untuk menemukan resonansi antara muatan-muatan tentang Iblis dalam Al-Qur'an dan didalam sumber-sumber lain sebelum Islam, yaitu Yahudi maupun Kristen. Salah satu dari beberapa kesejajaran yang paling mencolok ditemukan dalam Vita Adae et Evae, sebuah karya Yahudi yang disusun pada mulanya dalam bahasa Yunani oleh orang-orang Yunani beragama Yahudi sekitar tidak lebih abad keempat Masehi. Muatan yang menjadi pokok perhatian terpelihara dalam sebuah versi Vita berbahasa latin yang kelihatannya telah mengkombinasikan strata Yunani paling kuno dengan legenda-legenda tambahan tentang Adam dan Hawa. Ini mencerminkan versi Al-Qur'an tentang konfrontasi Iblis dengan Adam dan Hawa.
Ketika Allah meniupkan roh kehidupan kedalam jasad Adam, Dia menyuruh malaikat Mikail untuk memerintahkan semua malaikat menyembah makhluk yang baru saja diciptakan dalam gambaran adan kesukaan Allah. Setan (diabolus) menolak karena dia diciptakan lebih awal dan percaya bahwa dia sudah sepatutnya menerima keutamaan atas pendatang baru ini. Jika Allah menjadi marah dengan keputusannya tidak menyembah Adam, diabolus berjanji untuk membentuk dirinya sebagai seorang tandingan bagi Allah yang Maha Tinggi. Allah mengutuk setan karena kesombongannya dan ketidakpatuhannya; dalam upaya untuk membalas dendam, dia mengoda Adam dan Hawa karena mereka keduanya dianggap sebagai penyebab dari kejatuhannya.
Teks lain yang sejajar, yang berasal dari sumber-sumber sebelum Islam ditemukan dalam naskah-naskah kristen, yaitu dalam Gospel of St Bartholomew. Karya tulis ini kelihatannya kembali pada suatu masa diabad ke-5. Strukturnya mengikuti aturan-aturan umum dari Vita, yang diawali dengan penggambaran dari setan tentang bagaimana manusia diciptakan. Perbedaan yang penting antara teks-teks tadi adalah tentang siapa yang pertama kali bersujud kepada Adam; dalam Vita adalah malaikat Mikail, sedang dalam Gospel of St Bartholomew adalah Tuhan sendiri.
Yang jauh lebih penting dan jauh lebih sulit dari pada menentukan kesamaan tekstual antara bahan-bahan tentang Iblis dari Al-Qur'an dan sumber-sumber sebelum Islam adalah upaya untuk mengisolasi ide-ide dari agama-agama sebelum Islam, padahal itu dapat mempengaruhi pemahaman orang-orang muslim tentang setan. Penyelidikan seperti demikian, yang dilakukan untuk meneliti secara mendalam, akan memerlukan suatu monograf dari penyelidikan itu sendiri, tentu ini diluar ruang lingkup pembahasan ini (setanologi) yang hanya akan berkonsentrasi pada literatur sufi secara khusus. Cukup dikatakan disini bahwa banyak lembaran catatan tentang Iblis yang memiliki kesamaan dan kesesuaian dengan gnostisisme sebelum Islam.
Salah satu sumber Arab yang utama dan berkenaan dengan gnotisime Manichaean, yaitu Fihrist dari Ibn An-Nadim (wafat 995 M), misalnya pada dasarnya menyebut pangeran kegelapan Manichaean dengan nama "Iblis Purba"(IBlis Al Qadim). Sampai sejauh mana identitas semantik menunjukan suatu kepercayaan dalam identitas yang sebenarnya antara figur-figur setan dari kedua catatan tradisi ini tidaklah dikemukakan secara jelas. Namun tidaklah berlebihan jika kita berasumsi bahwa Ibn An-Nadim melihatnya berhubungan erat dengan peran-peran yang mereka kemukakan dalam catatan tradisinya.
Dalam mitos yang panjang tentang kekacauan pleroma kosmik, Iblis disamakan, dalam catatan tradisi Ismailiyah, dengan imajinasi setan dari akal ketiga yang disebut Adam ruhani. Dia mengalami kegagalan karena ambisinya untuk mempertahankan kesamaan dengan akal kedua; jadi dengan demikian drama kehancuran kosmik dan perbaikan yang terjadi secara bertahap telah mulai terjadi.
Iblis juga merupakan suatu titik fokus dalam mitos gnostik dari turunannya Adam kedunia. Untuk memahami peranannya, perlu disadari bahwa dasar dari sistem gnostik Isma'iliyah adalah pandangan masa edar. Era dunia yang sekarang adalah salah satu dari beberapa siklus yang berganti-ganti, yang ditandai dengan keutamaan pengetahuan eksoteris. Dalam suatu siklus kashf, penyingkapan rahasia, kebenaran yang tersembunyi menjelma melalui perantara Imam.
Namun suatu siklus perwujudan diikuti dengan siklus satr, kegaiban. Dimana hukum eksoterik (syariat) sekali lagi berlaku dan kebenaran yang gaib tetap tidak dapat dimasuki kecuali orang-orang yang ahli, yang senantiasa menjalani jalan kesukaran menuju hikmah yang sebenarnya.
Pembalasan Iblis terhadap Adam kembali lagi disekitar ketegangan antara kashf dan satr, perwujudan dan kegaiban. Iblis yang gagal kemudian membujuk Adam kedalam suatu kekhilafan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar