Kamis, 01 Oktober 2009

WARKOP to day 011009 ; Musibah gempa(lagi) padang

Sedari sore sampai malam kang Joni duduk diujung bangku tepat didepan televisi diwarkop cak Abu. Dua gelas kopi sudah dia habiskan, bahkan gelas yang pertama cethe kopi kang Joni sudah mulai mengering diatas lepek. Separuh bungkus rokok juga sudah dia dihabiskan. Tak beranjak dan tak berkomentar!
"Tambah lagi ya kang, kopinya?" cak Abu membuyarkan konsentrasi kang Joni.
"Sudah cak, entar kembung lagi. Kalo boleh minta air putih aja" sahut kang Joni mulai terusik.
"Lha iya cak, saya kok jadi berfikir dan bertanya-tanya kenapa kok bangsa kita akhir-akhir ini sering sekali terkena musibah ya cak" lanjut kang Joni sambil menerima segelas air putih yang disodorkan cak Abu.
"Entahlah mungkin tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang" jawab cak Abu menirukan bait lagu Ebiet G Ade kesukaannya.
"Ah...saya nanyaknya sama sampean kok suruh tanya sama rumput yang bergoyang, mana bisa dia njawab" kang Joni bersungut-sungut.
"belum juga air mata korban gempa diGarut mengering, sekarang dilanjutkan ke Padang sumatra barat, maksudnya apa ya cak?" kang Joni melanjutkan perbincangan.
"Maksud kang Joni siapa?" cak Abu nggak paham.
"Ya... kira-kira maksudnya Alloh apa, kok ngasih bencana beturut-turut. Apalagi kalo menurut berita ini ya cak, gempa diPadang ini jauh lebih dahsyat dari pada gempa di Jogya beberapa tahun silam, jadi nggak bisa bayangin berapa jumlah korban yang berjatuhan" kang Joni menjawab dengan berbagai ekspresi yang berbeda.
" Oo....gitu tah, ya gitu itu kebanyakan kita, baru setelah Alloh menunjukkan sifat Jalaliyah-Nya kita tersadar dan mulai berfikir tentang kuasanya" jawab cak Abu datar.
"Lha mestinya kita gimana cak?" fokus kang Joni beralih ke cak Abu.
"Ya paling tidak harus terus menerus berfikir dan membaca setiap hikmah yang ada dialam ini, tanpa harus menunggu kejadian yang kang Joni anggap musibah itu, tapi ya mendingan lah daripada nggak sama sekali" lanjut cak Abu.
"Kalo itu bukan musibah, apa coba?" kang Joni makin penasaran.
"Ya.. kalo saya pribadi sih, tidak ingin syu'udhon pada Robb-ku" cak Abu meneruskan.
"Maksud cak Abu?" rasa penasaran kang Joni makin menjadi-jadi.
"Maksud saya, saya memandang Alloh bukan sebagai Dzat yang maha pemurka, tapi sebagai Dzat yang maha Pengampun dan maha Penyayang, sebab kalo sampean memandang kejadian itu musibah maka seolah-olah Alloh sedang menurunkan azab-Nya sama kita" lanjut cak Abu semakin tajam.
"lha terus harusnya kita mesti gimana?" kang Joni semakin melongo.
"Kalo kita semua mau memandang Alloh dengan cara saya memandang, paling tidak itu akan meringankan beban pikiran dari setiap kita yang menjadi korban." jawab cak Abu sambil menyalakan rokoknya.
"Yang namanya cinta itu tidak harus identik hanya dengan yang indah-indah, terkadang Alloh ingin menunjukkan kasih sayangnya kepada kita dengan cara yang berbeda! sejenis musibah misalnya. Jadi kitalah yang harus arif dan bijak menerima setiap ketetapan dari Alloh dengan dhon yang baik" cak Abu meneruskan.
"Misalnya ?" kejar kang Joni.
"Setiap korban meninggal dunia yang ada disana, hampir semua tertimpa oleh bangunan, nah menurut ustad junaid, salah satu asbab seseorang meninggal dalam keadaan syahid dunya adalah tertimpa benda atau barang yang berat, jadi saya berusaha memandang kehendak Alloh atas kejadian ini adalah bahwa Alloh ingin melepaskan para kekasihNya yang ada disana dari beban dan fitnah dunia, dengan cara yang sangat indah dan akhirnya mereka datang kehadratNya sebagai seorang syahid.............Subhanalloh!" jawab cak Abu dengan mata yang menerawang dan berkaca-kaca.
"Kalo emang bener yang sampean ucapkan, bisa jadi mereka malah lebih beruntung daripada kita ya cak!?" kang Joni hanya manggut-manggut mendengar jawaban cak Abu.
"Semoga aja kita semua ridho' dan Alloh meridho'i" tutup cak Abu.
"Amiiiiiin" kang Joni menimpali.
"inilah alasan saya kerasan ngopi disini cak, kopi sampean emang spesial" lanjutnya.
Cak Abu hanya tersenyum dan bergumam didalam batin "( ASTAGHFIRULLOH......-atas pujiannya- tapi juga ALHAMDULILLAH....-karena kopinya laris-). INSYAALLOH

6 komentar:

oemar bakrie mengatakan...

pesen kopi zuhud campur susu kirim via Email!!

o'ox pratama mengatakan...

"cangkruk" d warung kopi bukan hanya ngopi dan nonton tv.... diskusi masalah tragedi seperti ini dpat membuat diri kita sedikit banyak ingat pada sang illahi.... GREAT OF GOD.....

ali sodikin mengatakan...

bersiaplah menghadapi kematian.....

ade joe mengatakan...

ternyata ada juga warkop yang gak hanya jual kopi... tapi juga rahasia2 tentang langit dan bumi....... salut.....

teguh eka prasetiya mengatakan...

kalau saya pesan kopi taubat plus susu
mantaaapppp......

ARIE DUWI P mengatakan...

Mohon pertahankan Warkop Sufi tersebut sampai titik darah penghabisan,karena tidak ada Warkop yang kayak Warkop Sufi..SUKSES.