Kamis, 01 Oktober 2009

Dunia dalam pandangan Allah (QS An-Nisa')

Allah SWT berfirman: Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang dijalan Allah, lalu gugur dan memperoleh kemenangan, maka kelak akan kami berikan padanya pahala yang besar. (QS. An-Nisa': 74)

Sayid quthub berkata, "karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang dijalan Allah. Dalam Islam memang tidak ada peperangan, kecuali untuk tujuan itu. Tak ada peperangan yang bertujuan memperoleh harta rampasan; juga tak ada peperangan yang bertujuan menjajah, dan tak ada peperangan yang hanya bertujuan memuaskan keinginan seseorang atau suatu golongan tertentu.

Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Alloh. Berdasarkan ayat di atas, orang yang menukar kenikmatan duniawi dengan kebahagiaan akhirat, akan mendapatkan balasan yang sangat besar dari Allah SWT atas hasil yang mereka capai, baik terbunuh di jalan-Nya, atau mendapatkan kemenangan."

Allah SWT berfirman: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!"Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. Mereka berkata:"Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?"Katakanlah:"Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun."(QS.An-Nisa':77)

Sayyid Quthub berkata,"Apalah artinya dunia berikut seluruh isinya? Apa gunanya menunggu lebih lama, sehari, seminggu, sebulan, atau setahun? Kalau sekiranya seluruh perhiasan dunia hanya memiliki secuil keindahan? Mengapa masih menunda kesempatan untuk mendapatkan perhiasan sejati selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun? Oh...seluruh perhiasan dunia, engkau hanyalah sedikit."

Lebih lanjut, ia berkata,"Dunia adalah perjalanan. Ia sebuah permulaan dan bukan tujuan utama atau akhir dari sebuah perjalanan itu. Di belakangnya menanti akhirat, dimana perhiasan di dalamnya adalah perhiasan sejati, kekal dan melimpah ruah. Tentu saja perhiasan di tempat kedua ini lebih baik."

Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan 'salam' kepadamu: Kamu bukan orang Mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.An-Nisa':94)

Sayyid Quthub berkata,"Sesungguhnya kecenderungan pada materi tidak boleh dimasukkan ke dalam tujuan suci kaum Muslimin pada saat mereka keluar untuk berperang di jalan Allah SWT. Karena tujuan semacam itu bukan pilar penyangga bangunan jihad. Dan jangan terburu-buru mengayunkan pedang sebelum benar-benar jelas siapa yang hendak dibunuh, sebab darah kaum Muslimin adalah darah suci dan tak boleh ditumpahkan sembarangan.

Intinya, kaum Muslimin tidak boleh berperang dengan tujuan memperoleh harta benda sebagaimana yang mereka lakukan ketika mereka masih hidup di alam kegelapan (Jahiliyah)."

Allah SWT berfirman: Beginilah kamu, kamu ekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada Hari Kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (QS. An-Nisa': 109)

Dalam menanggani orang-orang yang berdebat membela sang pengkhianat, Sayyid Quthub berkata,"Pada Hari Kiamat kelak, mereka tidak akan memiliki pelindung yang dapat membelanya. Lantas apa gunanya berdebat membela mereka dalam kehidupan duniawi, kalau sekiranya pembelaan itu tiada berarti kelak pada Hari Pembalasan."

Allah SWT berfirman: Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka dia merugi). Karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS.An-Nisa': 134)

Sayyid Quthub berkata,"Allah SWT memalingkan hati yang serakah pada kesenangan-kesenangan duniawi semata. Padahal fadhilal (kemurahan) Tuhan jauh lebih mulia. Dia memiliki pahala di dunia dan di akhirat. Dengan kuasa Allah SWT pula, mereka bisa meneliti kembali kecenderungan terhadap kesenangan-kesenangan dunia untuk kemudian memalingkan pandangan pada kehidupan setelahnya; atau membandingkan antara kenikmatan yang dapat diperoleh di dunia dengan kenikmatan yang bisa diperoleh di akhirat.'

Lebih lanjut, ia berkata,"Adalah sebuah kebodohan dan kegagalan besar spektakuler; ketika manusia memiliki pengetahuan terhadap dunia dan akhirat secara seimbang, atau memiliki pengetahuan terhadap balasan yang dapat diterima dan dirasakan di kedua tempat tersebut. Inilah yang dikehendaki ajaran Islam, keseimbangan dan kesejajaran. Akan tetapi, orang tersebut kemudian merasa puas dengan mengecap sedikit kenikmatan duniawi, sehingga menyerahkan perasaan cinta terhadapnya. Ia hidup laksana binatang dan hewan-hewan liar; padahal sejatinya ia memiliki kemampuan untuk hidup sebagai seorang manusia. Kakinya lekat menjejak bumi, akan tetapi ruhnya terbang membumbung tinggi di angkasa, bergerak bebas di atas hukum-hukum duniawi. Bahkan pada kesempatan itu, i bisa hidup berdampingan dengan para malaikat yang tinggi."

Tidak ada komentar: