Penyelidikan ini telah jauh membawa kita pada teks-teks yang saling berhubungan, yang mengandung unsur-unsur untuk pembentukan biografi mitos Iblis. Al-Qur'an, hadist, tafsir, qisas dan teks-teks sejarah masing-masing telah memainkan satu peranan yang penting dalam membentuk legenda tentang Iblis. Dari sumber-sumber ini, telah di mulai satu penyelidikan yang lebih rinci kedalam perkembangan motif Iblis di dalam suatu konteks kesufian secara khusus. Apa yang dapat di sebut sebagai unsur penyatuan yang mendasari bagian utama dari tahap pengamatan kedua ini adalah keyakinan yang di kemukakan oleh semua praktisi sufi yang karyanya di kutip, bahwa Iblis merupakan sebuah kekuatan negatif di dalam kehidupan spiritual.
Namun demikian, keyakinan ini dalam cara apapun tidak membatasi ruang lingkup Iblis yang senantiasa berkembang, baik sebagai figur mistik maupun sebagai simbol religius. sebaliknya, keterlibatan Iblis dalam kehidupan sufi mencakup pembahasan-pembahasan psikologi agama yang sederhana sampai pertemuan-pertemuan yang dramatis, sangat berharga, yang menggambarkan keasyikan sufi dengan masalah-masalah kezuhudan dan teologi yang rumit, seperti bagaimana seseorang itu dapat berhubungan dengan iradah dan amr Allah.
Walaupun variabel yang halus dan kompleks telah terbentuk di dalam kepribadian Iblis, motivasi dominan yang di temukan dalam inti wujudnya adalah kejahatan yang tidak memiliki rasa malu, sekalipun mampu menutupi dirinya sendiri dalam beberapa bentuk penampilan tertentu. Putusan akhir yang di kemukakan oleh para sufi yang memperhatikan Iblis dalam cara pandang yang seperti ini adalah "Bersalah, tanpa ada keraguan". Selain itu dalam perkiraan mereka, tak ada harapan yang memungkinkan bagi perbaikan atau pemulihan namanya di masa yang akan datang, Iblis di kutuk sampai siksa api neraka yangkarya abadi.
Di samping cerita bagian-bagian motif Iblis di atas yang tersusun kedalam catatan hadist para sufi, sesorang dapat menelusuri kembali ke periode-periode awal kesufian. Pandangan yang mendasari para ahli teori kesufian yang karya-karyanya telah menggambarkan perkembangan yang pararel ini sangat jauh berbeda dari pandangan yang terdapat dalam artikel kami sebelumnya. Sementara pendapat para sufi yang terakhir yang kami tulis dalam artikel sebelumnya, berpendapat bahwa Iblis mendapat kutukan yang abadi terhadap dirinya karena kesombongan untuk menolak bersujud kepada Adam, sufi-sufi yang lain mengemukakan beberapa kemungkinan adanya harapan bagi pemulihan nama baik atau pengampunan bagi Iblis. Sekalipun keyakinan terhadap pengampunan bagi Iblis berfungsi sebagai dasar yang menyatukan karya-karya sufi yang menjadi pusat perhatian dalam artikel kali ini, namun tetap terlihat keaneka ragaman yang luas dalam pendekatan, tema dan sebagai perkembangan dari pembahasan kali ini.
Akar-akar untuk cabang motif Iblis ini dapat di temukan dalam tulisan-tulisan Husayn Ibnu Mansyur Al-Hallaj, terutama bab-bab Tasin al-azal wal-ilt ibaz dan Tasin al-masyi'ah dari karyanya kitab at-tawasin. Teks-teks dalam kitab tersebut tetap terjaga dan terpelihara, baik dalam bahasa Arab aslinya maupun terjemahannya dalam bahasa persia dengan penjelasan tambahan oleh sufi terkenal dari abad 12 sampai abad 13, Ruzbihan Al-Baqli. Teks bahasa Persia dengan penjelasan Al-Baqli sangat berharga untuk mencari makna-makna dari teks bahasa Arab yang sulit dan sering kali tak jelas. Teks ini juga memberi contoh yang baik tentang sebuah perjuangan sufi yang lebih sederhana untuk membahas paradoks Al-Hallaj dan sikapnya yang kelihatan tidak ortodoks terhadap Iblis.
Salah satu dari teknik-teknik pedagogis paling menonjol yang di gunakan oleh Al-Hallaj dalam karyanya adalah penjajaran hal-hal yang berlawanan atau bertolak belakang, hal ini akan mengguncang pikiran pembaca dan memaksa mereka untuk merenungkan realitas-realitas spiritual antitesis yang baru tersebut. Pasangan pertama dari dua hal tersebut dari pasangan Iblis dan Muhammad: "Orang yang pengajarannya benar-benar dapat di percaya adalah Iblis dan Muhammad." Ajaran Iblis yang dapat di percaya ini dengan sendirinya di gambarkan oleh Al-Hallaj sebagai suatu kombinasi yang berlawanan. Dilangit Iblis mengajarkan para malaikat tentang ketaatan dan jalan menuju Allah, sementara itu di dunia dia mengajarkan jalan-jalan kesesatan. Namun kutub-kutub yang berlawanan ini menjadi saling melengkapi apabila di pandang dari perspektif tujuan utamanya.
Karena benda-benda di kenal melalui hal-hal yang berlawanan dengannya, sutra putih yang halus di sulam dengan bahan dasar wol hitam yang kasar. Malaikat dapat menunjukkan perbuatan-perbuatan baik kepada manusia dan mengatakan kepadanya sebagai suatu pernyataan abstrak, "Jika engkau mengerjakan perbuatan-perbuatan ini, maka engkau akan di beri ganjaran pahala." Tetapi dia tidak mengetahui kejahatan dengan nyata dan tidak akan mengetahui kabaikan dengan jelas.
Sebaimana yang telah di tunjukkan sebelumnya Ibnu Ghanim telah menyinggung konsep Al-Hallaj dalam Taflis Iblis, Tetapi dalam konsep yang pada dasarnya berbeda. Dalam penjelasan Ibnu Ghanim, percakapan Iblis tidak dapat di pisahkan dari keyakinan pada keburukan sifat Iblis, sebaliknya Al-Hallaj melihat Iblis maupun Muhammad sebagai karakter yang sangat penting dalam mengungkapkan perbuatan Allah. Keduannya adalah instrumen yang taat, yang ketaatannya sangat teguh, meskipun keduanya mengalami perubahan yang berbeda.
Kesetiaan terhadap kehandak Allah dalam pandangan Al-Hallaj telah menghubungkan Iblis dan Muhammad. Tidak satupun yang menyimpang dari apa yang telah di tetapkan untuk mereka, walaupun masing-masing dari mereka memberikan reaksi yang berbeda ketika menghadapi amr Allah. Iblis bersandar kembali kepada sumber daya kekuatannya sendiri dan kesempurnaan spiritual yang telah dia dapatkan sepanjang beratus-ratus tahun ibadahnya yang taat, sedangkan Muhammad telah di kuasai oleh kesadaran akan kemakhlukannya sendiri dan kekuasaan Allah yang begitu besar. Al_Hallaj tidak menganggap kepentingan moral barasal dari perbedaan reaksi-reaksi Iblis dan Muhammad, namun Al Baqli menggunakan sebagai suatu kesempatan untuk menegaskan kembali pengutukan Iblis yang di dasarkan pada keasyikannya dengan kekuasaan. Keasyikan ini menurut pandangan Al Baqli, telah menjadikan Iblis buta terhadap sifat Adam yang sebenarnya dan karena itu telah meniadakan ketaatan dan pengajaran Iblis sebelumnya.
Meskipun demikian, oleh Al-Hallaj Iblis di pilih karena dua sifat yang sangat menonjol, pengajarannya dan ketaatannya yang tulus ikhlas. Dia juga dalam pandangan Al-Hallaj, merupakan model spiritual semua orang muslim, karena dia secara lebih sempurna dari pada makhluk lain manapun, telah menyaksikan Keesaan Allah, sekalipun dengan mengakibatkan kerusakan bagi dirinya.
Tak ada monotheis seperti Iblis di antara penghuni langit. ketika esensi memperlihatkan dirinya kepada Iblis dalam kemuliaan yang mempesona, dia sekalipun hanya sekilas, telah meninggalkannya dan hanya menyem bah Allah dalam keterasingan...Allah berkata kepadanya,"Sujudlah!" dia menjawab, "Tidak kepada yang lain!" Allah berkata kepada dirinya,"Sekalipun jika kutukanku Aku berikan kepadamu?" Dia menjawab dengan tegas, "Tidak kepada yang lain!". Penolakanku adalah tangisan, Maha Suci Engkau! alasanku adalah kegilaan, kegilaan terhadap engkau. Apakah Adam itu selain dari pada Engkau? dan siapakan Iblis yang mengasingkan dirinya dari yang lain?"
Pernyataan Iblis yang berani ini sebagai monotheis yang sempurna telah menyinggung rasa susila Al Baqli yang tidak memahami apa yang harus di lakukan untuk menemukan suatu interpretasi sederhana terhadap hal yang kelihatannya seperti bid'ah dari Al-Hallaj. Al Baqli terdorong untuk menyerang asumsi dasar Al-Hallaj yang menyatakan bahwa Iblis telah di hadapkan dengan suatu pilihan yang nyata antara menyembah kepada Allah atau kepada sesuatu selain Allah. Benar-benar tak ada yang lain, Al Baqli menegaskan bahwa itu adalah keadaan Iblis yang tertutup, yang telah menyebabkan pandangan ganda pada dirinya. Ketika dia sebagai monotheis sejati, dia hanya akan memandang kemuliaan Allah dan mematuhi perintah Allah semata. Tapi dia tidak menyadari bahwa Adam adalah makhluk ciptaan Allah, dan ciptaan Allah adalah cermin bagi-Nya. Jika engkau memandang kedalam cermin, maka engkau akan melihatNya dengan jelas. Jadi telah di katakan,"Aku tak akan mampu melihat apapun tanpa penglihatan Allah di dalamnya."
Penjajaran yang paradoks dari hal-hal yang bertentangan ini mencapai puncaknya ketika Al-Hallaj beralih tidak hanya kepada Iblis secara sendirian tetapi juga kepada Iblis dan Fir'aun untuk model-model kehidupan spiritual. Nilai nyang mereka kemukakan adalah futuwa, suatu istilah yang mencakup semua sifat baik dan sopan dari pembesar muslim, terutama kesetiaan dan dedikasi terhadap tugas. Al-Halaj menceritakan, dari suatu pembahasan yang dia miliki, kedua figur kosmik tersebut berkenaan dengan nilai kemanusiaan yang baik: "Aku berdebat dengan Iblis dan Fir'aun tentang kemanusiaan, dan Iblis berkata, "jika aku bersujud aku akan kehilangan julukan kemanusiaanku," dan Fir'aun berkata,"Jika aku percaya kepada utusan-Nya aku akan terjatuh dari kedudukan kemanusiaan" dan aku berkata,"Jika aku kembali pada pengajaranku dan perkataan-perkataanku, maka aku akan tergelincir dari jalan kemanusiaanku...". Iblis dan Fir'aun adalah sahabat dan guruku, Iblis telah di ancam dengan api neraka, namun dia tidak kembali dengan pengajarannya. Dan Fir'aun telah di tenggelamkan dalam laut merah, tapi dia tidak mengakui perantara siapapun, dan jika aku di hukum mati atau di gantung atau jika tangan atau kakiku di potong, maka aku tidak akan kembali pada pengajaranku..."
Dengan tidak ingin menerima tokoh-tokoh jahat ini sebagai pembimbing spiritual, Al Baqli meremehkan pernyataan-pernyataan Al-Hallaj dan dalam prosesnya, menggambarkan kembali sikap schizophrenia yaitu sikap yang suka mengasingkan diri, dari beberapa sufi yang mabuk ketuhanan kearah Al-Hallaj. Namun sebaliknya juga Al Baqli tetap menunjukkan rasa hormatnya terhadap kepandaian spiritual Al-Hallaj, sekalipun tidak mampu menerima esensi kegairahan dan esensi paradoks dari doktrin Al-Hallaj. Untuk dapat di terima bagi Al Baqli, kumpulan-kumpulan pendapat Al-Hallaj harus di netralkan dengan menggunakan sebuah penjelasan yang menutupi hal-hal yang bersifat paradoks ke dalam logika, yaitu keterkejutan dalam keadaan tak mabuk, dan hal-hal yang menentang hukum kedalam kerangka hukum itu sendiri. Sesuai dengan modus operandi ini, Al Baqli menerima atribusi futuwa oleh Al-Hallaj terhadap Iblis dan Fir'aun dan menguranginya hanya sebagai sebuah pengakuan dari Al-Hallaj akan keberaniannya yang luar biasa, sekalipun di anggap sudah salah jalan.
Al Baqli memisahkan nilai abstrak futuwa dari moralitas perbuatan-perbuatan yang nyata dari Iblis dan Fir'aun di mana ia hanya dapat menggolongkannya sebagai anti agama. Dia menyatakan bahwa perbuatan berani apapun adalah sebagai suatu perbuatan yang patut di puji, bahkan ketika di lakukan oleh orang yang tidak beriman sekalipun, sebagai bukti Al Baqli mengutip seorang sufi yang menyatakan,"seorang bodoh yang murah hati adalah lebih dekat kepada Allah dari pada seorang bijak yang kikir."
Al Baqli menunjuk perbuatan-perbuatan sesat Iblis dan Fir'aun dalam futuwa sebagai bukti dari fantasi-fantasi yang dapat tercetuskan melalui pengalaman religius yang mengalami kegairahan. Sebelum kejatuhannya Iblis telah tenggelam dalam lautan ma'rifat, Al Baqli menjelaskan, kegairahan yang kuat ini telah menyebabkan timbul khayalan tentang kesombongan.
Karena Allah, dia telah terpedaya tentang Allah, lautan keesaan telah menjerumuskan Iblis kepantai keterasingan dirinya....ketidak tahuan telah memperdaya dia kepada pengabaian perantara (Adam), dan ia berteriak, "Adalah syirik jika kita mengakui perantara-perantara dalam pengasingan diri menuju kepada Yang Maha Esa!"
Dalam pikiran Al Baqli, pengalaman Iblis bukanlah tauhid yang sebenarnya melainkan hasil langsung dari dosa "aku" Suatu kasus yang sama, Al Baqli menambahkan adalah kasus "Annal-Haqq!""(akulah kebanaran Ilahiah) yang terjadi pada Al Hallaj. Kegairahan telah membutakan dia terhadap diferensiasi antara dirinya dan Allah, dan dia hanya melihat "aku". Namun hal ini tidak dapat di terjemahkan sebagai sebuah ekspresi identitas metafisik, sebaliknya ini analog dengan tiupan Allah ke dalam Adam pada saat penciptaannya, yang tidak mengubah Adam kedalam suatu inkarnasi ketuhanan, namun memberikan kemungkinan baginya untuk memancarkan roh Allah. Oleh karena itu, Annal-Haqq hanyalah sebuah kesaksian terhadap kenyataan bahwa Al-Hallaj seperti setiap makhluk hidup yang di ciptakan yang merefleksikan jejak-jejak Allah.
Dalam beberapa penjelasannya Al Baqli senantiasa menolak untuk membahas titik paradoks pada inti dari ajaran-ajaran Al-Hallaj. Dalam Tawasin, tak ada kesalahan moral yang di anggap berasal dari Iblis, sebagaimana yang lebih di inginkan Al Baqli. Demikian juga Iblis tidak di gambarkan sebagai penipu yang berhati kotor yang memutar balikkan situasi tragis dalam upaya untuk mengambil hati terhadap manusia. Iblis sebagaimana di gambarkan dalam tawasin, adalah figur syuhada yang bernasib tragis, yang selain pengajarannya yang berdedikasi, monotheismenya yang sempurna dan kesetiaannya yang abadi juga mengalami kehancuran di tangan Allah yang kepada-Nya dia menyembah dengan penuh cinta.
Dia di perintahkan, "Engkau tidak bersujud, wahai makhluk yang hina?" Iblis menjawab, "Engkau berkata 'makhluk yang hina' tetapi aku membaca dalam buku kebenaran apa yang akan terjadi padaku, wahai Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Setia! Bagaimana aku dapat merendahkan diriku di hadapannya? Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah, itu adalah hal yang berlawanan yang tidak akan pernah cocok. Aku lebih lama dalam beribadah, lebih luas dalam kebajikan, lebih terampil dalam ilmu pengetahuan dan lebih sempurna dalam cara aku mengatur kehidupanku." Alah berkata kepadanya, "Pilihan adalah kepunyaan-Ku, bukan milikmu." Iblis menjawab, "Semua pilihan, termasuk pilihanku, adalah kepunyaan-Mu. engkau telah menentukan pilihan untukku, wahai Sang Pencipta. Jika Engkau telah mencegah aku untuk bersujud kepadanya, Engkau adalah Yang Maha Mencegah. Jika aku telah berbuat dosa dalam perkataanku, Engkau tidak akan meninggalkan aku, karena Engkau Maha Mendengar Segalanya. Jika Engkau berkehendak bahwa aku bersujud kepadanya, aku akan menjadi hamba yang taat. Aku tahu tak seorangpun di antara orang-orang yang mencapai ma'rifat yang mengetahui Engkau lebih baik dari pada aku!"
Iblis adalah syuhada bagi Allah yang transenden yang bentuknya tidak dapat di bayangkan oleh ruh yang di ciptakan. Al Hallaj menggambarkan realisme yang tidak dapat di duga ini sebagai serangkaian empat lingkaran. Yang pertama adalah lingkaran kehendak Allah, yang kedua adalah hikmah-Nya, yang ketiga adalah kemahakuasaan-Nya, yang keempat adalah pengetahuan-Nya yang abadi. Tidak mungkin bagi Iblis untuk melewati lingkaran-lingkaran ini tanpa cedera.Apabila dia telah melewati lingkaran yang pertama, dia akan mendapat ujian dalam lingkaran yang kedua, ketika dia sedang berjuang melewati lingkaran yang kedua, maka lingkaran yang ketiga sedang menunggu dan seterusnya melewati seluruh lingkaran yang menciptakan rencana Allah yang sudah di takdirkan sebelumnya.
"Jika aku belajar bahwa bersujud akan menyelamatkan aku, maka aku akan bersujud. Namun aku belajar bahwa di luar lingkaran itu terdapat lingkaran-lingkaran yang lain. Dan aku berkata kepada diriku sendiri, "Aku telah di beri keselamatan dari lingkaran ini, bagaimana aku terlepas dari yang kedua? yang ketiga? atau yang keempat?"
Al-Baqli dalam penjelasannya merujuk pada sebuah penjelasan tambahan oleh Al Hallaj tentang pergulatan Iblis dengan lingkaran-lingkaran kekuasaan Allah ini.
"Dari ilmu tentang kehendak, hikmah, kemahakuasaan, dan ilmu yang aku pelajari, balasannya adalah aku terusir. Apakah aku bersujud atau tidak, aku telah memahami maksud Allah. Dalam lembaran kehendak Allah yang telah aku baca, "Iblis adalah seorang yang ingkar." Pada lembaran hikmah yang telah aku baca, "Iblis di kutuk." Pada gulungan kemahakuasaan yang telah aku baca,"Iblis di buang." Dalam kitab pengetahuan yang telah aku baca,"Iblis tertutup hatinya." Jika dalam lingkaran pertama aku menemukan jalan keluar, aku akan menerima ujian dalam cara yang sama seperti dalam lingkaran-lingkaran yang lain; "Karena Dia adalah Yang Maha Berkuasa atas hamba-hamba-Nya, bersujud tidak akan memberikan keuntungan apapun, pena telah kering berkenaan dengan apa yang Dia ciptakan selamanya."
Kita bisa berasumsi dari penjelasa Al Hallaj yang sedemikian banyak ini tentang kekuasaan kehendak Alah yang bersifat determinatif bahwa Iblis hanyalah sebuah wayang yang di gerakkan menurut pola-pola perubahan dari rencana Allah. Perspektif ini mengabaikan keadaan batin Iblis, terutama kebingungan emosinya ketika berhadapan dengan konflik antara kehendak Allah dan perintah-Nya. Iblis bukanlah hasil determinasi yang kosong, tanpa emosi. Tanda yang paling penting dari timbal baliknya hubungan antara Iblis dan Alah, adalah keyakinan yang di nyatakan oleh Al Hallaj bahwa kekuatan yang memotivasi di luar pilihan-pilihan Iblis, terutama penolakan untuk bersujud, bukanah keterpaksaan, melainkan kedalaman perenungan atau kontemplasi mistiknya terhadap Yang Maha Pengasih; "Para malaikat bersujud di hadapan Adam sebagai sebuah isyarat dukungan, Iblis menolak untuk bersujud karena kontemplasinya yang lama." Esensi kontemplasi adalah penyerahan secara bebas dalam cinta, sebuah pengalaman seperti ini tidak bisa terjadi karena keterpaksaan.
Al-Baqli menolak menerima kata-kata Al Hallaj begitu saja, dia merasa berkewajiban mengurangi pengaruhnya dalam menurunkan nilai pengalaman Iblis tentang Allah sampai suatu pandangan langit yang terpisah dari Allah. Jika dia benar-benar telah mengalami kontemplasi tentang alam kertuhananAllah tidak akan menganggapnya kafir (yang tidak beriman), Al-Baqli menambahkan, yang kemudian juga memperlihatkan dirinya tidak bersedia untuk membicarakan penjajaran kutukan dan kebenaran moral yang bersifat paradoks dalam pribadi Iblis oleh Al Hallaj. Dalam pikiran Al-Baqli, Adamlah dan bukannya Iblis yang mengalami kontemplasi dan mencapai kelebihan yang khusus karena roh yang telah Allah tiupkan kedalam dirinya.
Untuk menguatkan bukti-bukti tentang hal ini Al-Baqli mengutip Abu Bakar Al-Wasiti yang mengajarkan tentang bahwa seseorang tidak perlu mengeluarkan pernyataan sebagai orang yang beriman, karena ada sufi-sufi yang ketaatannya tidak lebih dari kepalsuan yang di hafalkan, sama sekali tidak memiliki kema'rifatan, yaitu Iblis. Sebaliknya Iblis dalam Tawasin berlaku sebagai sebuah kesaksian terhadap kekuatan kontemplasi mistik untuk membawa jiwa di luar paradoks dan kontradiksi logis yang menyerap pengalaman materialitas dan individualitas yang bersifat duniawi menjadi suatu pengalaman peleburan diri di dalam Yang Maha Pengasih.
Ibis tenggelam ke dalam lautan kemahakuasaan dan menjadi buta. "Jalanku tidak membawaku kepada siapapun kecuali Engkau, karena aku adalah seorang pencinta yang rendah hati" Allah menjawab kepadanya, "Engkau telah menyombongkan diri!" Dia menjawab,"Jika hanya ada satu pandangan saja di antara kita, maka di benarkan bagiku menyombongkan diri tentang hal itu dan menjadi congkak. Aku adalah dia yang mengenal Engkau dalam semua keabadian. Aku lebih baik dari dia, karena selama berabad-abad aku telah tunduk kepada Engkau. Tak ada seorangpun di dalam dunia ini yang lebih banyak pengetahuannya tentang Engkau daripadaku. Aku mengarahkan tujuanku kepada Engkau dan Engkau mengarahklan kehendak-Mu kepadaku, dan keduanya terjadi sebelum penciptaan Adam. Apakah aku bersujud kepada yang lain atau tidak bersujud, tidak di ragukan lagi aku akan kembali ke asalku. Engkau menciptakan aku dari api, dan aku akan kembali kepada api. Kepunyaan-Mu keputusan dan pilihan bebas.
Aku tidak lagi mengalami suatu rasa jauh setelah di jauhkan dari Engkau, karena aku menyadari dengan pasti bahwa kedekatan dan kejauhan adalah satu.
Karena untukku, sekalipun aku di buang, maka pembuangan menjadi temanku, memang benar bahwa pembuangan dan cinta adalah satu!
Engkau yang terpuji! Didalam pemberian-Mu dan esensi-Mu yang murni, demi seorang hamba yang tidak bersalah yang tidak bersujud kepada siapapun kecuali Engkau!
1 komentar:
Salah satu cara iblis menipu daya para sufi, karna iblis telah terlebih dahulu mengenal jalan tersebut, maka mudah baginya untuk menyesatkan anak cucu adam yg berada di jalan kesufian.
Posting Komentar